Kecap Bango Light

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan merupakan tulisan berbayar.

Saya lupa kapan tepatnya saya beralih ke kecap Bango produksi Unilever Indonesia ini. Tapi, saya yakin sudah sangat lama. Rasa dan aroma kecap ini menurut saya sangat enak, dan cocok dengan selera dan lidah saya sebagai orang Jogja yang cenderung suka dengan makanan yang manis.

Manisnya menurut saya mantap, karena sudah cukup manis, jadi tidak terlalu banyak kebutuhannya untuk penyajian. Kecap Bango Manis inilah yang selalu saya beli. Sampai akhirnya kemarin baru mencoba Kecap Bango Light. Saya tidak tahu kapan produk ini sudah ada di pasaran — atau lebih tepatnya di tempat biasa saya belanja, tapi karena setiap beli kecap saya langsung lihat kemasan Kecap Bango Manis lalu ambil saja tanpa menyadari mungkin varian lain saat itu memang sudah ada.

Tidak Begitu Manis, Lebih Sehat

Ketika melihat kemasan tertulis cukup besar BANGO LIGHT. Paling yang jelas berubah adalah soal rasa yang tidak terlalu kuat. Dan, mungkin tidak semanis yang Bango Manis. Ternyata memang benar, Bango Light ini diklaim memiliki kandungan gula 30% lebih rendah dari Bango Manis.

Saya suka makanan dengan kecap, jadi saya cukup penasaran apakah Bango Light ini masih seenak Bango Manis pendahulunya. Sesampai di rumah, saya coba dengan menikmati telur dadar dengan Bango Light ini. Ternyata memang beda.

Kalau dari tekstur, Bango Light ini lebih ‘enteng’ tidak terlalu kental. Ketika saya tuangkan dari botol, langsung terlihat lebih encer. Rasanya, memang tidak semanis Bango Manis, tapi masih masuk selera lidah saya. Setelah saya rasakan, benar memang tidak semanis, tapi yang penting tetap enak!

Baca juga:  Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Mallika dan Stevia

Dalam kemasan, ada dua kata yang menarik perhatian saya yaitu Mallika dan Stevia. Setelah mencari info, ternyata Stevia merupakan sejenis tanaman yang digunakan sebagai pemanis alami sebagai pengganti gula (Sumber: Wikipedia). Sedangkan Mallika, adalah kedelai hitam yang digunakan sebagai bahan dasar utama. Kedelai Mallika sendiri pengembangan budidayanya dilakukan oleh Ir. Setyastuti Purwanti, M.S., seorang dosen pengajar Permuliaan Tanaman dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.