Jaga Jarak di Kawasan Malioboro Menjelang Normal Baru

Hari minggu lalu, beredar informasi (termasuk foto dan video) bagaimana ramainya aktivitas manusia di kawasan Malioboro, terutama kawasan titik nol kilometer. Rencana mulai dilaksanakannya era “normal baru” disikapi dengan beragam cara. Salah satunya: keluar rumah.

Dua bulan lebih dalam pembatasan gerak dan aktivitas khusunya di luar rumah tentu saja tidak mudah. Sementara penambahan kasus positif juga belum mengalami penurunan yang signifikan — dan malah sebaliknya — tapi memperpanjang pembatasan sosial juga sepertinya bukan dipandang menjadi opsi terbaik.

Pertengahan minggu lalu (awal Juni 2020), setelah dua bulan lebih tidak ke lokasi yang jauh dari rumah, saya mencoba untuk melihat Jogjakarta di waktu malam. Tidak malam banget, karena saat itu baru sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu, saya mengendarai mobil.

Kawasan Jalan Magelang terlihat cukup ramai. Lalu lintas kendaraan tidak bisa dikatakan sepi juga. Pemandangan yang kurang lebih sama — bahkan seperitnya mlaah lebih ramai — ketika mendekati tugu Jogja dari arah barat, ketika di lampu merah, saya melihat cukup banyak pesepeda yang berdiri sambil mengambil foto di salah satu ikon kota ini.

Masker? Walaupun tidak menghitung secara detail, tapi sekilas yang tidak pakai masker cukup banyak. Beberapa tempat makan atau nongkrong juga buka. Tak terlihat terlalu ramai memang, tapi buka.

Gerobak angkringan beberapa juga telah buka, dan saya lihat juga ada yang beli. Walaupun, tetap juga ada yang tidak pakai masker. Jaga jarak (social distancing)? Sepertinya tidak sepenuhnya terjadi.

Saya kemudian menuju arah selatan ke Jalan Mangkubumi. Warung-warung pinggir jalan sudah ada yang buka. Orang berjalan kaki, atau bersepeda ada juga malam ini. Atau, sekadar duduk-duduk, ada juga.

Beberapa toko di sisi barat Malioboro terlihat buka, walaupun cenderung sepi pengunjung. Sedih juga melihatnya, tapi bagaimana lagi kondisi memang sangat tidak mudah saat ini. Beberapa orang terlihat berjalan di area pejalan kaki pedestrian yang menurut saya memang sudah tertata dengan jauh lebih baik. Beberapa orang terlihat duduk di bangku yang disediakan. Ada yang menjaga jarak, tapi tak sedikit yang sepertinya tidak mengindahkan konsep jaga jarak.

Ada tukang parkit yang mengarahkan kendaraan untuk masuk area parkir ketika saya mendekati area mal Malioboro. Cukup banyak orang juga di sana. Pemandangan yang kurang lebih sama saya lihat di sepanjang jalan Malioboro sampai ujung selatan. Oh ya, Mirota Batik yang biasanya ramai, malam itu terlihat agak gelap.

Ada perasaan yang berbeda malam itu. Sedih juga, karena aktivitas sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Malioboro terlihat jauh lebih sepi. Murung.

Kawasan titik nol kilometer Yogyakarta yang biasanya sangat ramai, malam itu terlihat… cukup ramai. Tidak bisa dikatakan sepi juga, karena cukup banyak orang yang duduk-duduk di bangku. Beberapa bermain sepeda, atau sekadar foto-foto. Area di depan Museum 1 Maret malam itu mungkin seperti “sepi versi hari biasa”. Begitu juga di kawasan seberangnya, di seberang gedung BNI. Kuran glebih sama.

Masih tentang apakah pada pakai masker dan melaksanakan konsep jaga jarak? Sepertinya tidak terlalu terlihat mencolok. Bangku yang biasanya diduduki oleh dua orang, tetap saja diduduki dua orang, dengan jarak rapat.

Dari titik nol, saya berbelok ke arah kiri. Terlihat jauh lebih sepi sampai dengan depan Taman Pintar.

Saya sudah cukup melihat, dan memutuskan untuk pulang kembali ke ruamh di sisi utara Yogyakarta.

Semoga saja kesadaran untuk tetap melaksanakan prinsip-prinsip dasar perilaku sehat seperti menjaga jarak, dan menggunakan masker pada kondisi harus menggunakan makin dilaksanakan saja.