Jadi, Ikut Divaksinasi atau Tidak?

Hari ini, saat penanganan pandemi COVID-19 masih tak kunjung membaik, Indonesia mencatat ada 14.224 kasus baru. Dan, tak hanya itu, ada 5.279 kasus aktif baru (dalam perawatan), dengan positive rate 31,35%. Ketiga angka tersebut merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat. Angka tersebut berdasarkan jumlah 45.358 orang yang dites.

Tentang kebijakan untuk menekan persebaran COVID-19 yang dilakukan oleh pemerintah pusat, atau pemerintah daerah, sepertinya juga tidak membawa perbaikan. Alih-alih menerapkan prosedur pelaksanaan yang mendukung pergerakan/mobilitas manusia, tak jarang justru kebijakannya malah berkebalikan.

Sebenarnya ingin optimis bahwa pandemi ini — khususnya di Indonesia — akan ke arah perbaikan. Jumlah kasus menurun, jumlah kematian menurun, tenaga kesehatan juga semakin ringan pekerjaannya. Tapi…

Dan, sepertinya pemerintah lebih menekankan kepada proses vaksinasi sebagai jawaban. padahal, proses vaksinasi ini tidak akan serta merta menghambat laju perkembangan kasus baru di Indonesia. Prosesnya sangat panjang. Dan, seiring dengan proses itu, sangat tidak mustahil dengan tingkat kedisiplinan orang yang masih banyak abai, kasus akan terus naik pula.

Lalu, divaksinasi atau tidak?

Saya tidak tertarik untuk membahas tentang mereka yang pro atau anti terhadap vaksinasi. Itu pilhan mereka. Bahwa ada sanksi jika menolak, biarlah penegakan hukum atau dasar aturannya yang berbicara. Tentang efektivitas, vaksin Sinovac yang diberikan secara gratis, bagian paling penting adalah sudah sesuai dengan standar WHO, dan mendapatkan ijin edar darurat (Emergency Use Authorization) dari BPOM pada 11 Januari 2021 lalu.

Kalau saya, dengan tidak ada banyak pilihan solusi, jika memang sudah saatnya dan saya memang bisa mendapatkan giliran vaksinasi, saya akan menerimanya. Kalau melihat fenomenanya, bukan tidak mungkin justru kehadiran vaksin dengan jadwal vaksinasinya ini membuat proses penanganan penyebaran menjadi lebih sulit.

Bisa saja orang berpikir bahwa karena sudah divaksinasi, maka akan aman. Padahal, selain bahwa prosesnya cukup panjang — pemerintah menargetkan akan selesai dalam 15 bulan — tapi untuk masing-masing penerima vaksin juga tidak serta merta aman.

Ada proses pembentukan antibodi, proses vaksinasi dilakukan dua kali untuk masing-masing penerima dengan jarak 2 minggu. Dan, tidak semua orang mendapatkan jadwal vaksinasi yang sama. Semoga saja kondisi ini juga disadari, jangan malah melegalkan untuk mengendorkan protokol kesehatan.

Semoga.

Published
Tagged

4 comments

  1. tujuan vaksinasi ini sebenarnya bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga orang lain.. tujuan akhirnya ya kekebalan kelompok.. Jerman sendiri, dengan laju vaksinasi yang sekarang diperkirakan kekebalan kelompok (70% warga tervaksin) akan terbentuk pada tahun 2025-2026..

    semoga di Indonesia dan di Jerman proses vaksinasinya berjalan lancar

    1. @Zam: Sepakat!

      Penanggulangan atau apapun skenario untuk mengurangi laju penambahan kasus, itu satu hal.

      Tapi, jika vaksinasi ini adalah salah satu cara juga bagaimana menghambat kondisi makin buru, tentu saja perlu dilakukan. Semoga juga memang kesadaran bahwa ini tidak cuma tentang diri sendiri, tapi juga orang lain.

  2. Yang juga ngeri itu adalah proses distribusi dan administrasi-nya. Mengingat vaksinasi ini akan beberapa kali, pemerintah harus benar-benar punya database yang valid tentang siapa yang sudah divaksin berapa kali…

    1. Donny,

      Terlepas dari proses vaksinasi, sepertinya karut marut database penduduk saja masih belum terlalu kelihatan hasilnya. Kementerian Sosial misalnya oleh KPK diminta untuk menghapus lebih dari 16juta data penerima bansos, karena tidak ada NIK.

      Urusan data sebagai salah satu dasar penting pengambilan keputusan saja kayaknya masih jadi pekerjaan rumah yang entah sampai sekarang ada di titik mana.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *