Jadi, bagaimana tempat/suasana kerja yang seharusnya?

Sekitar dua tahun lalu, saya pertama kali melihat salah satu episode TED Talks, dengan pembicara Jason Fried, founder dari 37signals. Jika belum pernah mendengar 37signals, ini adalah sebuah perusahaan teknologi dengan produk yang populer, salah satunya adalah Basecamp — sebuah layanan untuk mengatur sebuah pengaturan proyek (project management).

Walaupun sudah lama, tapi mungkin baru satu atau dua tahun ini saya semakin masuk ke dalam apa yang disampaikan dalam episode tersebut. Padahal, video tersebut sudah dirilis akhir tahun 2010 yang lalu. Ya, hampir tiga tahun lalu! Tapi, semuanya terasa sangat relevan sampai saat ini. Paling tidak, untuk saya dan hal-hal yang terkait dengan keseharian pekerjaan atau lingkungan pekerjaan saat ini, maupun sebelumnya.

Oh ya, jika belum melihat videonya, silakan meluangkan waktu untuk melihatnya.

Jika ingin melihat dengan terjemahan Bahasa Indonesia, bisa melihat juga langsung di situs TED. Dalam video tersebut, secara garis besar menyoroti tentang bagaimana sebuah ekosistem pekerjaan berjalan. Tentang pentingnya kantor, bagaimana pegawai/karyawan bekerja, dan beberapa hal yang mungkin bisa jadi pertimbangan dalam menciptakan sebuah kultur pekerjaan yang produktif. Muaranya, pada kelangsungan bisnis, pekerjaan, dan ekosistem orang-orang didalamnya. Menarik. Hal lain lagi dan yang terus dibicarakan adalah bahwa pekerjaan bisa dilakukan dimana saja. Terdengar tidak asing?

Bulan Febuari 2013 yang lalu, Marissa Mayer, CEO dari Yahoo! membuat keputusan yang bertentangan dengan konsep Jason Fried. Marissa justru memberlakukan aturan bagi pekerja untuk bekerja di kantor Yahoo!. Ada yang bilang bahwa ini adalah keputusan yang tepat, tapi ada juga yang melihat bahwa ini keputusan yang sebaiknya tidak dilakukan. Lalu, siapa yang benar?

Saya rasa tidak ada yang sepenuhnya salah, dan tentu saja tidak ada yang sepenuhnya benar. Sebuah konsep tidak selalu dapat berjalan dengan baik dalam seluruh kondisi. Apakah memang bahwa pekerjaan bisa dilakukan dimana saja (dalam konteks tempat)? Bisa iya, bisa tidak. Apakah membuat semua orang berkumpul di kantor bisa selalu menaikkan produktivitas orang-orang didalamnya? Mungkin iya, mungkin tidak.

Image source: baldhiker.com
Sumber gambar: baldhiker.com

Kebetulan, saya memeroleh kesempatan untuk berada dalam beberapa kondisi pekerjaan yang berbeda. Sekitar tahun 2005, saya sempat memutuskan untuk bekerja sebagai freelancer. Sebuah pekerjaan yang identik dengan fleksibilitas waktu, kebebasan dalam menentukan jam pekerjaan, bahkan mungkin kerja dengan menggunakan celana pendek, belum mandi, dan bisa bekerja dari mana saja menjadi godaan yang sulit untuk ditolak. Saya mengalami hal tersebut.

Baca juga:  Ikut Pemilu Legislatif 2009 atau tidak?

Tapi, di saat yang sama ada tantangan/situasi yang lain yang disadari atau tidak, membuat keputusan itu juga tidak mudah untuk dijalankan. Tak jarang, justru waktu bekerja bisa lebih lama. Misalnya, ada klien yang berada dalam zona waktu berbeda. Saya pernah memiliki klien yang berbeda zona waktu sekitar 12 jam. Dan, kadang situasi mengharuskan saya untuk bekerja pada malam hari sampai subuh — karena di jam itulah klien bekerja. Siang harinya, saya sempatkan untuk mengurusi pekerjaan di zona waktu yang sama.

Mungkin hal tersebut memberikan sebuah pengalaman tersendiri bagi saya. Saya sangat menaruh hormat yang setinggi-tingginya untuk rekan-rekan yang memilih untuk menjadi freelancer dan berada dalam situasi seperti ini. Sekali lagi, saya salut dan respect. You guys rock.

Start of a Horse Race

Di awal tahun 2010, saya memutuskan untuk mengambil risiko yang lain. Saya memutuskan untuk mengambil tantangan baru dalam pekerjaan. Saya hijrah ke Jakarta untuk bergabung dengan beberapa teman, membangun sebuah usaha sendiri, secara profesional. Saya tinggalkan dunia dan cara kerja saya sebelumnya. Saya kumpulkan uang saku dan materi yang telah saya dapatkan sebelumnya untuk menunjang rencana saya bersama dengan teman-teman saya. Walaupun uang saku saya tersebut lebih untuk kepentingan saya sendiri terkait kebutuhan di Jakarta.

Bukan keputusan yang mudah. Tapi sampai detik ini, saya tidak pernah menyesalinya. Saya tidak pernah menyesal karena pernah menjadi freelancer, dan disaat yang sama tidak menyesal terhadap keputusan yang saya ambil setelahnya. Keduanya mengajarkan saya banyak hal, termasuk untuk apa yang saya geluti saat ini.

Bersama dengan beberapa rekan, saya bekerja dan bekerja. Sisi positifnya adalah, bahwa kami bisa menciptakan suasana kerja sesuai keinginan kami. Namun, tak jarang bahwa keleluasaan atau kemewahan tersebut harus berbenturan dengan situasi yang mengharuskan kami untuk melakukan penyesuaian, termasuk saya.

Tenggat waktu tentu saja ada. Tantangan juga semakin besar. Dari yang awalnya hanya empat orang, jumlahnya bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini mengajarkan banyak hal. Tak jarang justru pekerjaan saya saya lakukan setelah jam kerja, karena mungkin di waktu itulah saya mendapatkan ‘working moment’ saya. Banyak hal yang menyenangkan, tapi ada juga yang tentu saja kurang menyenangkan. Lagi-lagi, terkait dengan suasana kerja, saya mendapatkan banyak pelajaran. Dan, saya tidak pernah menyesalinya. Bahkan, secara pribadi, saya merasa bahwa ini adalah sebuah kemewahan tersendiri bagi saya karena memiliki kesempatan untuk berada dalam situasi yang berbeda-beda.

Baca juga:  Selamat Tinggal 7-Eleven Indonesia

Puzzled

Kemudian, saya mengambil keputusan lainnya. Saya bekerja di tempat baru, dengan orang-orang yang baru — walaupun tidak semuanya baru, karena saya sudah mengenal beberapa dari mereka sebelumnya. Jumlah orang yang berbeda, tantangan yang berbeda. Dan, tentu saja sebuah arsitektur manajemen yang berbeda pula.

Apa yang saya pelajari dari seluruh proses tersebut memberi kontribusi tentang bagaimana saya melihat pekerjaan, tempat kerja, rekan kerja dalam sebuah koridor definisi pekerjaan dan bisnis yang lebih luas. Beberapa teori yang muncul dari obrolan terasa sederhana, tapi tidak sesederhana ketika dihadapkan pada situasi sebenarnya. Tak jarang teori, ilmu atau referensi menjadi mentah begitu saja. Banyak hal yang tidak ada dalam buku atau referensi. Dan, ini seru!

Saya belajar dan mengalami bahwa:

  • Makin banyak kepala, makin banyak komunikasi yang dibutuhkan.
  • Pekerja (employee) dan pemberi kerja (employer) sering kali melihat seluruh proses pekerjaan/bisnis dari kacamata yang berbeda. Menjadi lebih rumit lagi ketika harus dibenturkan kepada “hak” dan “kewajiban”. Dan, tak jarang hal ini berjalan sendiri-sendiri, dengan persepsi sendiri-sendiri pula.
  • Tantangan — kalau saya boleh menggunakan istilah ini daripada “tekanan” — kadang diperlukan. Mungkin lebih dalam konteks bahwa ini dapat menjadi stimulan bagi seluruh tim. Kadang, ada situasi justru pekerjaan/manajemen pekerjaan secara tidak sadar melemahkan kemampuan orang-orang didalamnya. Kompetisi kadang diperlukan, bahkan kadang harus diciptakan.
  • Tidak ada yang namanya tempat kerja yang ideal dan sempurna, karena hal ini memiliki definisi yang berbeda-beda untuk setiap orang. Saya lebih melihat bahwa tempat kerja yang ideal (atau tempat kerja impian) merupakan sebuah persepsi dari orang-orang didalamnya, lebih kepada bagaimana individu membuat dan menempatkan diri dalam standar mereka sendiri-sendiri. Dan, ini sangat pribadi.
  • Rutinitas kadang bisa sangat membosankan.
  • Kompromi dan komunikasi tetap terjadi, dan kadang harus terjadi. Namun, ada waktu dimana keputusan harus dibuat. Kondisi ini kadang tidak serta merta dapat diterima oleh semua. Namun, akan menjadi lebih mudah ketika melihat dalam cara pandang yang lebih luas, dan bermuara kepada kepentingan bersama.

Kembali ke topik. Jadi, bagaimana tempat/suasana kerja yang seharusnya? Banyak poin yang saya setujui tentang konsep remote working. Tapi, tak jarang saya juga merasa bahwa komunikasi verbal dan fisik tetap diperlukan. Saya memandang bahwa diskusi dengan duduk satu meja masih dipelukan. Atau, hal-hal sederhana seperti tepukan bahu, bersalaman, dan juga luapan emosi dan perbedaan pendapat harus dipertemukan.

Baca juga:  Iron Man 2 Trailer

Terkait remote-working:

  • Terasa/menjadi lebih mudah jika setiap individu memahami porsi, situasi, dan memiliki kepercayaan antara satu dengan yang lain. Bagaimana masing-masing dapat memiliki dan memberikan komitmen satu sama lain. Salah satu tantangan terbesar menurut saya adalah dalam hal kontrol. Bukan hanya kontrol terhadap pekerjaan, tapi juga kontrol individu. Menjadi sangat penting untuk memahami hak dan kewajiban masing-masing.
  • Pengalaman memiliki kontribusi yang penting. Konsep bekerja secara jarak jauh bagi korporasi mungkin belum sepenuhnya bisa diterima. Ketakutan tentang sulitnya berkomunikasi, dan juga parameter atau variabel yang diciptakan kadang menjadi ukuran keberhasilan sebuah pekerjaan.
  • Gangguan (distraction) dalam masa sekarang ini semakin banyak. Kontrol terhadap gangguan ‘jaman sekarang’ mungkin juga semakin sulit. Saya sendiri masih terus belajar untuk mengatur gangguan-gangguan pekerjaan untuk dapat fokus.
  • Bekerja secara sistematis dan terstruktur. Ini menjadi sebuah faktor yang penting, karena pada akhirnya harus terjadi distribusi peran dan tanggung jawab. Potongan lagu Panggung Sandiwara “Setiap kita, dapat satu peranan yang harus kita mainkan…” terasa sangat relevan dalam situasi ini.
  • Komunikasi, dan berkomunikasi. Kondisi sekarang memungkinkan untuk memilih jalur komunikasi yang lebih beragam. Ini memunculkan juga gaya berkomunikasi yang berbeda pula. Yang penting, bagaimana menggunakan medium-medium berkomunikasi yang dapat diterima bersama.
  • Tempat kerja bersama — yang tidak selalu berupa kantor mewah — menjadi hal yang antara penting dan tidak penting. Tapi, saya melihat bahwa ini penting untuk ada. Karena, harus ada medium untuk membangun sebuah interaksi kelompok, baik secara kelompok besar, atau dalam konteks yang lebih kecil. Menurut saya, tempat kerja mampu memberikan ambience yang positif — tentu saja selama memang diciptakan bersama untuk itu.
  • Hal ini memang memiliki risiko. Dan, merupakan investasi tersendiri bagi perusahaan untuk memberkan ruang dan waktu dalam hal menciptakan ekosistem yang paling sesuai. Apalagi, jika model seperti ini belum pernah dijalankan.

Jadi, mana yang paling ideal? Saya sendiri belum menemukannya, karena saya juga terus mencari bersama-sama dengan rekan dalam lingkup pekerjaan saya. Atau mungkin, Anda sudah menemukannya?