Dan trotoar itupun semakin sempit

Ada sebuah pemandangan berbeda ketika minggu ini saya kembali ke Jogjakarta (dari Jakarta). Trotoar di sisi jalan besar dekat dengan rumah memiliki tambahan “aksesories” baru, sebuah area semacam pot tanaman dengan bentuk yang berbeda. Memang sudah sejak lama — saya lupa kapan tepatnya — di sisi jalan memang sudah ada pot-pot berukuran besar. Kali ini, ruang untuk taman, yang sepertinya akan diharapkan juga menambah ruang hijau dipinggir jalan memiliki ukuran yang lumayan luas.

Disatu sisi, saya senang juga karena makin banyak kawasan yang banyak ditumbuhi tanaman. Tapi di sisi yang lain, ini berarti mengurangi ruang untuk pejalan kaki. Lebar dari area ini adalah sekitar 100 sentimeter dari tepi trototar. Belum lagi dikurangi dengan dipakainya trotoar untuk fungsi lain seperti tempat parkir, warung tenda dan entah apalagi.

Sebelum adanya taman-taman kecil ini, kadang berjalan di trotoar — paling tidak dikawasan sekitar rumah — menjadi sebuah hal yang tidak menyenangkan. Ya karena hal-hal itu tadi: aktivitas lain yang memakan badan trotoar. Di beberapa tempat tertentu, ada juga yang memfungsikan trotoar sebagai perluasan dari warung, atau bahkan kegiatan usaha. Ah, toh bagi beberapa orang trotoar bisa juga dipandang sebagai sebuah lahan gratis. Mengganggu pejalan kaki? “Ah, toh masih bisa lewat badan jalan sedikit…”. Mungkin ini pembenarannya.

Kalau dulu ketika warung-warung tenda yang muncul di waktu sore hingga malam sudah memakan badan jalan, kadang tetap bisa juga sedikit ‘berkelit’ untuk berjalan di trotoar. Sekarang, perjalanan akan sedikit menantang. Saya sempat tanya ke beberapa orang yang kebetulan memiliki kepentingan untuk menggunakan trotoar. Ya beberapa tentu saja mengeluhkan hal yang kurang lebih sama: lahan semakin sempit.

Baca juga:  Registrasi Layanan Biznet Home Internet (Februari 2019)

Pemerintah kota tentu saja memiliki maksud — yang saya yakin baik — dengan program ini. Sebuah tata kota yang lebih hijau, lebih bersahabat. Tapi, lagi-lagi kadang harus ada yang dikorbankan. Atau, paling tidak ada yang perlu untuk mengalah. Semoga saja kedepannya hal ini bisa dilihat secara proporsional, baik oleh pejalan kaki, mereka yang berkepentingan dengan lahan trotoar ini, termasuk juga pemerintah kota. Yang juga penting, semua ini tidak sia-sia. Ya sekarang sih belum semua taman-taman kecil ini ditumbuhi oleh tanaman yang banyak. Beberapa malah masih terlihat masih baru ditanam. Di beberapa tempat juga saya lihat malah dalam tahap penyelesaian. Kita lihat saja nanti deh…