COVID-19 dan yang Terdekat

Puji Tuhan, sampai dengan hari ini diberi . Membaca perkembangan melalui media daring di dunia, khususnya di makin hari kok rasanya makin mengkhawatirkan. Saya bukannya tidak optimis bahwa wabah ini akan segera selesai, tapi bagaimana menyikapi kok sepertinya sangat jauh dari harapan ya…

Sejak wabah ini muncul di pemberitaaan, apa kata pejabat di pemerintahan? Seorang menteri kesehatan di republik ini saja berkomentar yang secara impresi memperlihatkan ketidakseriusannya. Entah apa motifnya. Menghindari kepanikan? Mungkin. Karena memang tidak tahu? Entah. Terkesan sombong? Tidak tahu juga.

Tentu saya memiliki kekhawatiran. Apalagi, beberapa kerabat dekat saya juga suka tidak suka akan berada dalam kondisi yang memiliki risiko.

Adik saya, bekerja di salah satu rumah sakit swasta di . Adik saya yang lainnya — cowok, dulu sekolah di keperawatan — sebelum wabah ini makin besar bekerja memeriksa kesehatan pengemudi truk yang melintas pada pagi hari di area pinggir propinsi.

Tante saya, punya sebuah di daerah bagian timur. Dimana kliniknya juga melayani beberapa pasien jika memang perlu rawat inap. Beberapa teman sekolah juga ada yang menjadi dokter dan bidan di luar Pulau Jawa. Ada teman dalam kumpulan yang bekerja di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19.

Saya kenal dengan mereka. Dan, saya yakin lebih banyak orang yang memiliki kondisi yang jauh lebih tidak mengenakkan dari saya.

Tetap sehat, kalian semua.