Tentang Keterlaluan dan Bersyukur

Dalam beberapa kesempatan, pikiran kita dapat dikuasai oleh persepsi-persepsi yang entah kita ciptakan sendiri secara sadar maupun tidak. Bahkan, tak jarang bahwa kita tidak butuh orang lain sama sekali untuk membentuk sebuah persepsi tentang diri kita. Beberapa minggu ini, dalam khotbah ibadah dan diskusi kecil dalam kumpulan gereja atau cukup sering diingatkan tentang topik ini.

Sebagai satu dari milyaran penduduk bumi dan sebagai manusia yang sangat biasa saja, kita tentu bisa memiliki segudang persepsi. ‘Hidup saya sangat tidak beruntung!’, ‘Sial sekali hidup saya….’, ‘Saya tidak punya apa-apa lagi. Habis sudah!’. Itu mungkin hanya sedikit dari begitu banyaknya pernyataan pribadi yang terlintas di kepala.

Namun…

Keterlaluan sekali kalau persepsi yang cenderung negatif justru lebih menguasai dan bahkan menutup mata untuk dapat melihat bahwa sebenarnya begitu banyak yang dapat dan seharusnya disyukuri.

Keterlaluan sekali kalau berpikir bahwa hidup ini sangat sial, sedangkan setiap pagi masih bangun bisa bangun pagi, beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan beraktivitas.

Keterlaluan sekali kalau bilang tidak punya apa-apa kalau keluar rumah bisa memiliki sebuah tujuan akan kemana hari ini dengan kondisi badan yang sehat, bahkan sempat menikmati sarapan pagi.

Keterlaluan sekali kalau merasa bahwa hidup merasa sepi dan terpuruk dalam sebuah perasaan sedih sedangkan tak jauh dari kita ada keluarga dekat yang bisa untuk saling menguatkan.

Keterlaluan sekali kalau harus menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan dan menempatkan diri sendiri dipenuhi dengan hal-hal yang merusak hati, padahal apa yang terjadi di sekitar kita semua berjalan dengan baik-baik saja.

Keterlaluan kalau sampai tidak bisa melihat begitu banyak yang bisa disyukuri.

Menggunakan dan Meng-Upgrade Akun Ovo Menjadi Ovo Premier

Sekitar satu bulan terakhir ini, saya cukup sering menggunakan OVO sebagai salah satu metode pembayaran. Dan, lebih digunakan lagi karena saya lebih sering menggunakan Grab daripada Go-Jek terutama untuk layanan transportasi.

Namun, baru minggu lalu saya melakukan upgrade akun OVO saya dari OVO Club menjadi Ovo Premier. Saya melakukannya di outlet OVO yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jogjakarta. Prosesnya sendiri cukup mudah yaitu menyiapkan kartu identitas saja. Yang mungkin agak sedikit menjadi pertanyaan, saat itu agen yang melayani saya “meminjam” ponsel saya untuk masuk dalam akun agen tersebut melalui peramban. Saya sendiri tidak terlalu keberatan sebenarnya, karena memang cuma mengakses peramban saja.

Salah satu alasan saya upgrade sebenarnya untuk mendapatkan fitur transfer antara akun OVO, dan kebetulan istri saya juga punya akun OVO. Dibandingkan dengan akun Ovo Club yang memiliki batas dana/saldo dalam OVO Cash sebesar Rp2.000.000, akun Ovo Premier dapat menyimpan dana/saldo dalam OVO Cash sampai sebesar Rp10.000.000. Ya, walaupun seingat saya saldo terbesar yang pernah ada dalam OVO Cash saya sekitar Rp500.000. Saldo OVO Cash saya paling sering juga saya top-up dari kartu debit.

Mengenai keuntungan dari cashback, saya sendiri jarang menggunakannya. Paling sering, selain untuk pembayaran Grab, saya gunakan untuk pembayaran ketika berbelanja di Hypermart. Sayangnya, dua kali pembelanjaan terakhir di Hypermart gagal menggunakan OVO karena adanya kesalahan teknis. Rata-rata sih seingat saya karena faktor sinyal saja.

Oh ya, saat saya selesai melakukan proses upgrade di outlet, ternyata status akun saya tidak secara otomatis berubah. Informasi yang saya dapatkan, saya harus menunggu sekitar dua jam. Setelah sekitar dua jam saya coba keluar dari aplikasi dan masuk lagi, ternyata akun saya masih belum berubah status. Baru keesokan harinya, saya mendapati kalau akun saya sudah berubah. Fitur yang saya coba kali pertama adalah transfer dana ke istri saya.

Dan, berhasil.

Jadi, apa kabarnya tentang berhenti merokok?

Keinginan untuk berhenti merokok di Oktober tahun lalu sepertinya bisa dikatakan tidak berhasil dengan baik. Walaupun secara frekuensi berkurang, namun tetap saja ada bolong-bolong. Tidak perlu didefinisikan sedikit gagal atau gagal total. Intinya: gagal.

Bukan tidak berusaha, tapi godaan atau keinginan untuk merokok masih saja muncul. Apalagi dalam kondisi-kondisi yang memang sangat menggoda. Dari ngopi, menunggu dan mengawasi tukang menyelesaikan pekerjaan, perjalanan luar kota, dan lain sebagainya. Benar-benar tidak mudah.

Namun, efek dari ‘kegagalan’ yang menurut saya paling berat justru bukan soal gagal dari niat saja. Saya jadi berbohong kepada diri sendiri. Parahnya, jadi juga berbohong ke orang lain, termasuk ke orang terdekat. Bilang tidak merokok, padahal iya. Bilang satu batang, padahal dua batang. Intinya lebih tentang berbohong.

Dan, satu kebohongan kecil akan menurunkan kebohongan berikutnya. Begitu seterusnya.

Lalu? Saya sudah membuat cukup banyak alasan dan pembenaran kenapa saya harus berhenti merokok. Alasan sudah sangat kuat dan bahkan mau didebat dengan cara apapun, alasan itu masih akan tetap kuat. Dan, sesungguhnya ini tentang pertarungan dengan diri sendiri. Bukan dengan ratusan alasan, bukan pula dengan ribuan pembenaran.

Continue reading “Jadi, apa kabarnya tentang berhenti merokok?”

Ganti ke Oppo F7

Sewaktu saya kehilangan iPhone 6 saya, saya sedang berada di Tangerang dan perlu untuk ada disana paling tidak tiga hari. Sudah sejak lama saya hanya menggunakan satu ponsel. Jadi, kehilangan satu-satunya ponsel tentu akan merepotkan.

Hari itu, saya putuskan kalau saya akan cari ponsel lagi. Karena urusan saya cukup banyak di seputaran Alam Sutera, akhirnya Erafone yang ada di Living World Alam Sutera menjadi saya membeli.

Saya tidak berpikir untuk membeli iPhone kembali. Beberapa waktu lalu saya memang sempat berencana menggunakan ponsel berbasis Android sebagai pengganti Oppo Find 7 saya yang pecah layar LCD-nya. Jadi, mungkin ini saatnya ganti ponsel. Pertanyaannya, gantinya apa?

Setelah membandingkan beberapa fitur, dan tentu saja budget, pilihan saya jatuh ke Oppo F7 dengan warna merah (Solar Red).  Ini masuk dalam kisaran budget saya yaitu di bawah Rp4.000.000,-.  Dengan spesifikasi RAM 4GB, media penyimpanan 64 GB, baterai Li-Ion 3.400 mAh, dan dual simcard, saya rasa ini sudah mencukupi untuk saya. Warna merah? Ini saya pilih karena saya ingin coba warna lain selain hitam.

Lebih jauh tentang pengalaman saya menggunakan ponsel Oppo F7 ini saya rasa akan saya tuliskan dalam tulisan terpisah. Sekitar dua minggu menggunakan, saya merasakan bahwa performanya bagus. Tapi, kita lihat saja nanti secara keseluruhan setelah satu bulan.

iPhone 6 Hilang

Dua minggu lalu, setelah sekitar satu jam saya turun dari Grab yang mengantar saya untuk urusan pekerjaan dari Gambir ke Alam Sutera, saya baru menyadari bahwa iPhone 6 saya sudah tidak bersama saya lagi.

Saat itu, bersama dengan rekan kerja saya, setelah turun dari Grab memang saya tidak mengecek keberadaan ponsel saya. Lebih menghabiskan waktu dengan rekan saya untuk mengobrol. Barulah ketika saya menyadari bahwa ponsel saya tidak ada bersama saya, saya mulai sedikit panik.

Singkatnya, usaha untuk mendapatkannya sudah saya lakukan. Rekan saya menelpon nomor ponsel saya, ternyata ada nada sambung namun tidak diangkat. Lupa berapa kali, namun akhirnya tidak ada nada sambung. Mungkin ponsel sudah dimatikan.

Saya coba telepon pengemudi Grab saya, menanyakan apakah ada barang tertinggal. Jawabannya, tidak. Ketika saya menanyakan apakah ada pengemudi setelah saya, dijawab bahwa ada, tapi ketika saya tanyakan apakah ada nomor ponsel penumpang setelah saya, dijawabnya tidak ada/tidak tahu. Mungkin, penumpang saya memang tidak sempat melakukan sambungan telepon dengan pengemudi Grab tadi. Entahlah.

Continue reading “iPhone 6 Hilang”

Top-up Saldo OVO dari Kartu Debit

Setelah dulu menggunakan OVO untuk membayar parkir, saya menggunakannya untuk beberapa transaksi lain walaupun tidak sering. Akhir-akhir ini, OVO lebih sering saya gunakan untuk pembayaran transaksi Grab. Kenapa? Di Grab, ini adalah salah satu pilihan untuk cashless (selain kartu kredit) dan juga memanfaatkan promonya juga.

Ternyata, sudah saatnya menambah saldo. Ada beberapa pilihan untuk tambah dana yaitu melalui ATM/Internet Banking, Minimarket, atau menggunakan kartu debit.

Melalui internet banking mungkin paling mudah. Sayangnya, token KeyBCA saya sedang tidak dapat digunakan. Setelah beberapa hari lalu mencari, hari ini baru ketahuan kalau ternyata masuk ke mesin cuci. Ke ATM, sedikit ribet karena harus pergi keluar, apalagi ke minimarket.

Lalu, saya coba untuk pilihan kartu debit. Untuk kartu debit, tertulis “Saat ini kami hanya menerima kartu debit yang sudah aktif 3D Secure”. Jadi, selanjutnya hanya perlu memilih dari pilihan nominal (Rp100.000, Rp200.000 atau Rp500.000). Diikuti dengan memasukkan nomor kartu, masa berlaku kartu dan 3 angka keamanan (CVV).

Setelah saya lihat, ternyata kartu debit CIMB Niaga Master Card saya ada informasi tersebut. Saya coba memasukkan informasinya, dan selesai. Sama seperti kalau melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit. Seluruh proses transaksi selesai, saldo langsung bertambah. Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan untuk transaksi ini.

Perubahan Disain Tagihan Elektronik Kartu Kredit BCA

Untuk seluruh tagihan kartu kredit yang saya miliki, saya menggunakan layanan e-statement sehingga tidak perlu ada biaya yang muncul hanya karena pencetakan tagihan secara fisik. Dengan ini, seluruh catatan tagihan lebih mudah untuk saya arsipkan.

Di awal Juni 2018, saya mendapatkan tagihan untuk kartu kredit BCA saya. Ketika membukanya, ternyata tagihan kartu kredit memiliki disain baru yang menurut saya lebih baik dari sebelumnya.

Di bawah ini adalah disain tagihan kartu kredit terakhir sebelum muncul disain baru.

Bandingkan dengan disain barunya. Menurut saya, disain baru ini lebih baik, lebih jelas dibaca. Walaupun, ada informasi yang bagi saya pribadi tidak terlalu bermanfaat. Tentu saja, informasi ini bisa sangat bermanfaat untuk nasabah yang lain.

Lalu, apa saja bedanya? Berikut beberapa yang berbeda dalam disain yang baru:

  • Tidak ada lagi logo BCA Card, Master Card, dan Visa.
  • Font yang digunakan saat ini adalah Arial, berbeda dari sebelumnya yang menggunakan Times New Roman.
  • Informasi kode pos ditampilkan dalam detil alamat.

Dimana Mencari Kardus untuk Pindahan di Jogja? Tidak Terlalu Sulit Ternyata.

Saat pindahan, salah satu hal yang membantu mempermudah adalah melakukan packing dengan menggunakan kardus dengan beberapa ukuran. Sehingga, ketika diangkut ke kendaraan juga lebih tertata. Lalu, dimana mencari penjual kardus bekas — dengan kualitas bagus — di Jogja?

Gambar di atas adalah contoh ukuran kardus. Kardus yang dibeli dalam kualitas yang lebih baik. Setelah melakukan pencarian, saya akhirnya membeli kardus bekas untuk pindahan dari dua lokasi berbeda. Pertama, di Toko Kardus Manunggal yang berada di daerah Jalan Affandi, Gejayan. Lokasinya ada di pojokan jalan masuk ke Kanisius.

Untuk lokasi kedua saya beli di Toko Jaya, di Jalan Katamso di seberang Purawisata, bersebelahan dengan toko jamu tradisional.

Kedua tempat tersebut menawarkan harga yang kurang lebih sama. Kardus yang dijual juga dengan kualitas baik. Bukan seperti kardus bekas mie instan, tapi kardus tebal. Kalau mengenai ukuran, tersedia cukup banyak pilihan. Saya sendiri memilih untuk ukuran yang tidak terlalu besar dengan kisaran harga Rp6.000 sampai Rp12.000.

Jasa Angkutan Pindahan Rumah/Kos di Jogja. Jasa Konvensional atau GO-BOX?

Sebelum libur panjang Lebaran lalu, saya bersama istri memutuskan untuk melakukan pindahan barang ke tempat tinggal baru. Sebenarnya, belum semua barang siap untuk dipindahkan, namun dengan pertimbangan bahwa jika dilakukan setelah liburan, maka waktunya akan terlalu lama. Kebetulan, tukang yang mengerjakan renovasi lanjutan juga masih ada.

Untuk angkutan atau jasa pindahan, kami menggunakan dua buah jasa berbeda yaitu jasa angkut yang banyak ditemui di pinggir jalan, dan kedua menggunakan layanan GO-BOX dari GO-JEK.

Menggunakan Jasa Angkut Biasa

Di hari pindahan, kebetulan kami melihat ada mobil jasa angkut yang parkir tidak jauh dari rumah. Lalu, kami telepon untuk sekadar mencari informasi. Mobil pickup berukuran cukup besar, dan sepertinya cocok untuk mengangkut beberapa barang yang memang saat itu ada yang ukurannya cukup besar. Saat menelpon, barulah kami tahu beberapa hal seputar jasa angkut ini.

  1. Biaya untuk satu kali perjalanan adalah Rp150.000,- Saat itu, kalau saya lihat, jarak tempuhnya sekitar 5km.
  2. Biaya tersebut sudah termasuk biaya tenaga membantu menaikkan dan menurunkan barang. Jadi, supir disini merangkap sebagai tenaga angkut juga.
  3. Kalau membutuhkan tenaga tambahan, maka per orang tambahan ada tambahan Rp50.000,-. Jadi, misal tambah satu orang tenaga angkut, total yang akan membantu adalah dua orang termasuk supir.

Seluruh proses pindahan hari itu berjalan lancar. Tidak terlalu ribet, dan bapak yang punya jasa angkut ini sangat membantu dengan ikut mengangkat dan menata barang di pickup juga. Ini penting.

Continue reading “Jasa Angkutan Pindahan Rumah/Kos di Jogja. Jasa Konvensional atau GO-BOX?”

Sajian Sahur Gratis dari PT KAI pada Bulan Puasa 2018

Sewaktu memutar radio, saya sekilas mendengarkan informasi bahwa PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) akan memberikan hidangan buka puasa dan sahur untuk beberapa rute perjalanan. Saya tidak menyadari hal tersebut terjadi sampai saya menempuh perjalanan menggunakan kereta api Taksaka Malam dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu Jogjakarta pada 6 Juni 2018.

Sekitar pukul 02:15 WIB petugas di kereta melintas di gerbong tempat saya duduk. Lalu membagikan satu buah paket makanan. Seluruh penumpang yang masih berada di dalam kereta mendapatkannya, termasuk saya walaupun saya tidak berpuasa.

Paket makanan tersebut berisi nasi goreng telur, mie goreng kuning, bakso semacam dimasak semur, kerupuk, serta mentimun. Tentu saja ini cukup mengenyangkan. Untuk air mineral awalnya tidak dibagikan, saya pikir tidak dapat air mineral. Toh saya juga sebenarnya sudah bawa. Ternyata, air mineral dibagikan tidak lama setelah itu. Jadi, lengkap sudah.

Kalau merujuk pada berita di Kumparan dan juga Kompas, hidangan buka puasa dan sahur ini diberikan mulai H-10 sampai dengan H-1 Idul Fitri. Namun, saya tidak menemukan informasi bahwa kereta api Taksaka Malam juga ikut mendapatkan fasilitas ini.