Perjalanan di akhir Juni 2015 dari Jogjakarta melalui Bandara Adisutjipto ke Jakarta dengan menggunakan maskapai Citilink Indonesia QG-103 tujuan Halim Perdanakusuma untuk urusan pekerjaan. Pagi itu, ketika saya sampai di bandara bersama dengan beberapa rekan kerja, dari luar tidak begitu ramai. Di area konter check-in sebenarnya tidak begitu ramai, kecuali konter Citilink.

Pagi itu, ketiga rekan saya melakukan check-in melalui mesin self-checkin yang sedang beroperasi. Saya melakukan check-in langsung karena kebetulan pagi itu ada tas yang harus saya masukkan ke bagasi. Antrian cukup panjang, dan seluruh penumpang hanya dilayani oleh satu petugas — padahal kalau tidak salah, total ada dua konter yang sepertinya bisa beroperasi.

Setelah mendapatkan boarding pass saya dan rekan-rekan seperjalanan langsung menuju ke ruang tunggu. Hanya beberapa menit sejak sampai di ruang tunggu, panggilan untuk boarding diumumkan sekitar pukul 05.36 WIB untuk jadwal penerbangan 06.00 WIB. Penumpang pagi itu boarding melalui Gate 1.

Keluar dari Gate 1, saya berjalan ke arah kanan untuk menuju ke pesawat. Pagi itu, matahari sudah mulai kelihatan. Di kejauhan, terlihat samar-samar Gunung Merapi. Tak perlu waktu lama untuk saya masuk ke dalam pesawat. Saya masuk melalui pintu belakang dan langsung menuju ke tempat duduk saya. Ketiga rekan saya duduk di baris 23.

Tak lama berselang, saya melihat ketiga teman saya sepertinya mengalami sedikit masalah dengan tempat duduknya karena ada penumpang lain juga yang mendapatkan tempat duduk dengan nomor kursi yang sama. Salah satu dari rekan saya memberikan kode ke saya sepertinya double seat. Pramugari saat itu berbincang sebentar, dan ketiga rekan saya dipindahkan ke baris 24.

Baca juga:  S. B. Yudhoyono: Negara kok jadi begini

Apakah hal ini terjadi karena rekan saya tersebut melakukan print out dari layanan self check-in? Jadi memang secara catatan penerbangan, data mereka seharusnya memang ada di baris 24, namun di boarding pass tercetak 23? Atau sebaliknya? Untunglah, saat itu masalah tersebut dapat cepat diselesaikan, dan hal tersebut sepertinya hanya terjadi untuk rombongan rekan saya.

Baca juga: Pengalaman double seat ketika melakukan penerbangan dengan Lion Air JT-568 pada akhir Mei 2015 yang lalu.

Proses boarding penumpang dari pintu belakang sempat agak sedikit melambat karena ada penumpang yang duduk di baris paling belakang memasuki pesawat melalui pintu depan. Jadi selalu berpapasan dengan arus penumpang dari pintu belakang yang menuju tempat duduk agak ke tengah.

Tak berselang lama, pesawat terbang meninggalkan Bandara Adisutjipto.

Sekitar pukul 07.10 WIB, pesawat Citilink Indonesia mendarat dengan mulus di Bandara Halim Perdana Kusuma (HLP) setelah beberapa menit sempat mengitari langit Jakarta. Seluruh penumpang pagi itu turun dari pesawat melalui pintu depan. Setelah bertemu dengan rekan-rekan saya yang lain, akhirnya kami meninggalkan bandara untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Catatan: Tulisan diatas adalah tulisan pribadi berdasarkan pengalaman terbang pada tanggal yang tertulis. Data jalur penerbangan merujuk pada situs Flightradar24. Koleksi foto adalah koleksi pribadi yang diambil selama perjalanan.