Tiga Bulan Menggunakan Mac Mini M1

Tiga bulan yang lalu, saya dan istri memutuskan untuk membeli Mac Mini M1 untuk mendukung pekerjaaan.

Secara umum, tentu performa tidak mengecewakan sama sekali. Istri saya sebenarnya lebih sering menggunakannya, karena selain saya lebih sering bekerja di luar, pekerjaan saya masih sangat memungkinkan untuk saya selesaikan dari saya — yang tahun ini sudah berusia 9 tahun.

Ulasan ini mungkin akan mengecewakan kalau ingin mendapatkan ulasan dari sisi teknis. Namun, kalau dari sisi bagaimana membantu pekerjaan dan juga kenyamanan, Mini ini bisa dikatakan salah satu best buy.

Senyap. Kalau sebelumnya suara kipas dari — kadang dari dua laptop sekaligus — terdengar cukup jelas, sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi. Ya, tentu saja masih ada kalau saya sedang bekerja di Macbook Pro lama milik saya. Hehe…

Cepat. Untuk poin ini, istri saya sepertinya punya definisi yang sesuai: “Jadi terasa lebih pintar ketika kerja dan coding“.

Selain itu, sepertinya belum ada yang perlu dikeluhkan.

Dosis 3 AstraZeneca

Hari Senin lalu, akhirnya saya mendapatkan sebagai dosis ketiga saya. Bersama dengan istri saya, proses kami ikuti di RSUD .

Sebelumnya, saya pernah melakukan registrasi di RS Siloam, tapi di jadwal yang ditentukan, ternyata saya malah ada keperluan sehingga tidak dapat hadir sesuai jadwal. Waktu itu, saya juga dijadwalkan mendapat AstraZeneca.

Bersyukur sebenarnya karena cukup banyak pilihan tempat vaksinasi booster ini. Pilihan ke RSUD Sleman sebenarnya lebih karena lebih dekat dengan rumah saja. Kalau pilihan vaksin, yang banyak tersedia adalah AstraZeneca. Awalnya, saya dan istri berharap bisa dapat Pfizer atau Moderna. Tapi, tidak jelas juga kapan. Jadi, dengan alasan bahwa lebih cepat juga lebih baik, jadi yang ada saja.

Proses Vaksinasi

Proses registrasi saya laksanakan melalui ke 081548500500. Persyaratan membawa fotokopi KTP dan juga salinan sertifikat vaksin. Walaupun akhirnya ketika pendaftaran ulang, yang diperlukan hanya KTP saja. Pelaksanaan sendiri berjalan lancar saja tanpa kendala berarti. Saat itu, untuk setiap hari tersedia kuota 120 orang.

Kalau ingin langsung datang, juga bisa. Prosesnya akan sama. Datang ke loket informasi untuk mengambil nomor antrian vaksinasi, lalu naik ke lantai 4, datang ke meja registrasi, isi formulir, lalu tunggu prosesnya. Untuk layanan vaksinasi di jam 08.00-11.00 WIB.

Proses mungkin sedikit agak lama lebih karena saat itu hanya ada 1 petugas screening dan 1 petugas vaksinator. Ini mungkin juga disesuaikan dengan ketersediaan ruangan juga saya rasa. Tidak masalah.

KIPI

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masih terasa. Malam harinya, badan terasa agak meriang, tapi tidak parah. Sendiri terasa agak nyeri, tapi ringan saja. Efeknya lebih ke agak susah tidur saja sebenarnya.

Keesokan harinya, cuma terasa badan agak lemas — bisa jadi ini juga karena malamnya kurang tidur — dan kepala agak pusing. Jadi, banyakan dipakai untuk istirahat saja. Demam tidak terasa, suhu badan normal saja.

Tapi, sore harinya, kondisi badan jauh membaik dan sudah bisa beraktivitas normal. Istri saya, malam hari badan hanya terasa sedikit hangat saja, tapi lainnya normal. Bekas suntikan juga hanya terasa pegal ringan saja ternyata.

Paket Masa Aktif Telkomsel

by Pixabay from Pexels

Selain nomor utama dari XL Axiata yang sudah menemani saya lebih dari 20 tahun, saya memiliki memiliki nomor dari provider lain yaitu . Nomor Telkomsel ini, walaupun jarang saya gunakan, tapi sudah digunakan untuk pembuatan akun, atau terhubung dengan beberapa layanan.

Jadi, memastikan bahwa nomor ini selalu dalam masa aktif menjadi penting. Pengisian pulsa secara berkala memang masih saya lakukan, karena belum berpindah ke paska bayar. Ini termasuk apabila kadang harus terhubung ke , dan nomor XL saya bermasalah — walaupun sangat jarang — Telkomsel bisa menjadi alternatif.

Karena memastikan nomor Telkomsel tetap aktif ini jadi lebih penting, akhirnya saya memutuskan untuk membeli layanan tambahan paket masa aktif yang ditawarkan Telkomsel.

Dengan Rp30.000,- saya sudah bisa mendapatkan tambahan masa aktif selama 90 hari. Ada juga sebenarnya paket lain mulai dari Rp2.000 untuk masa aktif 5 hari. Tapi, paket tertinggi yang ditawarkan sepertinya lebih cocok untuk kebutuhan saat ini.

Aktivasi Paket Masa Aktif Telkomsel juga mudah, melalui UMB (USSD Menu ) langsung *500*05# atau *888#. Atau,bisa juga melalui aplikasi My Telkomsel.

Menjual Sampah Anorganik Melalui Rapel

Catatan

Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Penulis tidak memiliki kerjasama maupun hubungan bisnis dengan Rapel. Pengalaman mungkin berbeda, jadi penulis sarankan untuk membaca mengenai Rapel melalui situs resmi atau sumber informasi lainnya.

Petugas Rapel

Akhir bulan lalu, untuk kali pertama kami “mengundang” salah satu petugas aplikasi Rapel ke rumah untuk mengambil sampah-sampah anorganik yang sudah dikumpulkan dalam beberapa minggu sebelumnya.

Sebenarnya, sudah cukup lama mengetahui aplikasi ini, tapi ternyata meniatkan untuk membersihkan dan mengumpulkan sampah anorganik di rumah itu memang suatu hal yang butuh komitmen tersendiri.

Tentang Rapel, merujuk ke situsnya:

Rapel adalah aplikasi untuk menjual sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dan telah dipilah menurut jenisnya oleh pemilik sampah yang menjadi user/pengguna aplikasi. Sampah dijual kepada kolektor atau agen pengepul sampah yang menjadi mitra aplikasi. User maupun kolektor akan mendapatkan poin dari aktifitas jual beli sampah, dan poin dapat ditukar dengan berbagai hadiah sesuai dengan yang ada.

Apa itu Rapel?

Sebenarnya, istri saya yang lebih banyak berperan dalam memilah sampah yang ada di rumah, dibantu dengan mbak ART. Kali ini, selain memang yang dipilah merupakan sampah yang diproduksi dari keseharian, ada beberapa yang akhirnya ‘dijual’ ke Rapel berupa buku/kertas yang sudah lama tersimpan di gudang, yang tentu saja sudah tidak akan terpakai lagi.

Ada beberapa kertas atau dokumen yang akhirnya diputuskan untuk tidak dijual, tapi dihancurkan dengan paper shredder karena dokumen/kertas itu mungkin berisi informasi yang lebih sensitif.

Karena baru pertama kali, jadi ada beberapa barang yang masih ragu-ragu pengelompokannya. Tapi, setelah koletor dari Rapel datang dan akhirnya melakukan penghitungan termasuk sedikit sortir ulang, pengkataegorian sedikit menjadi lebih jelas.

Secara nominal, memang ini tidak seberapa. Tapi, ada beberapa hal yang menurut saya menjadikan konsep pengelolaan sampah anorganik ini menjadi menarik:

  1. Informasi mengenai klasifikasi barang sudah disediakan.
  2. Harga sudah ditetapkan. Jadi sedikit sudah bisa diperkirakan ekspektasi “penghasilan”.
  3. Menggunakan sistem, ya mungkin ini seolah menjadi “tukang loak keliling versi digital”. Terlepas dari mana yang bisa memberikan harga yang lebih baik, saya lebih memilih untuk yang menggunakan sistem saja. Ditambah, kalau di perumahan, tukang loak keliling kebetulan tidak bisa masuk.

Walaupun pendapatan dari jual sampah anorganik tidak seberapa, tapi sedikit berperan untuk dapat mempermudah pengelolaan sampah — dan siapa tahu bisa membantu kolektor — itu felt good juga.

Biji Cabai dari Sisa Memasak

Beberapa minggu ini, saya mulai mengurangi tanaman hias (non pangan) di rumah dengan tanaman sayur yang bisa dimakan. Belum banyak, tapi sudah mulai. Salah satunya adalah tanaman cabai. Walaupun tidak sering, tapi cabai merupakan salah satu buah yang dikonsumsi.

Mencoba menanam lagi cabai di rumah sepertinya bukan ide yang buruk. Karena dulu sudah pernah, dan cukup berhasil, kenapa tidak mulai lagi saja.

Sisa benih cabai yang dulu pernah beli saya coba tanam, ternyata hasilnya sudah kurang bagus. Beberapa bahkan tidak berhasil tumbuh.

Jadilah, beberapa waktu lalu, saya minta asisten rumah tangga (ART) di rumah untuk menyisihkan biji cabai dari cabai yang bagus dari hasil belanja, untuk kemudian menjemurnya. Kalau berhasil menjadi bibit, ya disyukuri saja. Pun tidak, ya tidak mengapa.

Bibit cabai hasil semai biji cabai sisa dapur.

Ternyata, sebagian tumbuh dengan sangat baik. Paling tidak sampai saat ini. Sengaja menyemai agak banyak, karena pengalaman sebelumnya mesti ada yang tidak bertahan, entah karena hama, atau diinjak-injak kucing tetangga yang main.

Mari kita lihat, semoga bisa berhasil.

Tak Ada Lagi Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

by Pixabay from Pexels

melonggarkan syarat pelaku perjalanan domestik. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah menghapus syarat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dan bagi pelaku perjalanan darat, laut, dan udara di dalam negeri yang sudah menerima dosis lengkap.

Katadata: Pemerintah Hapus Syarat Tes PCR dan Antigen untuk Perjalanan Domestik

Masih terkait dengan kebjiakan tersebut, dari sumber artikel yang sama ada beberapa hal lainnya:

  • Kapasitas kompetisi olahraga dilonggarkan. Seluruh kegiatan kompetisi olahraga dapat menerima penonton yang sudah menerima Covid-19 dosis tambahan atau booster.
  • Terkait dengan kegiatan tersebut, pengunjung wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
  • Kapasitas penonton/pengunjung akan didasarkan pada penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di masing-masing wilayah.

Sebagian diri saya menyetujui kebijakan ini, tapi sebagian lagi juga kurang setuju karena walaupun prosentase vaksinasi semakin meningkat — termasuk pemberian dosis ketiga/booster — tapi angka kematian cukup tinggi.

Saya setuju dalam konteks supaya pergerakan masyarakat terutama untuk roda perekonomian tetap berjalan. Bukan hanya bagi mereka yang punya usaha, tapi bagi karyawan/pekerja ini juga sebuah ‘kemudahan’. Dalam melakukan perjalanan yang membutuhkan tes PCR atau antigen, tentu jadi ada penambahan biaya, dan jumlahnya otomatis tidak kecil.

Beruntung kalau biaya ini bisa dibebankan kepada pihak lain (perusahaan, misanya), kalau tidak?

Sedikit kurang setuju dengan kebijjakan ya mungkin karena kasus masih cukup tinggi. Bagi yang sudah mendapatkan vaksinasi dua dosis, efek apabila terkena COVID-19 cenderung tidak terlalu parah. Namun, bisa jadi kebijakan ini memiliki peran penambahan kasus menjadi signifikan.

Artinya, jumlah kasus naik, lebih banyak masyarakat yang perlu isolasi mandiri, yang otomatis bisa jadi kegiatan perekonomian akan terpengaruh kembali.

Sepertinya, hidup berdampingan dengan COVID-19 ini sudah semakin terasa. Semoga kondisi tetap untuk saling jaga dan waspada dengan protokol di level pribadi tetap berjalan.

PANTONE: Freedom Blue, Energizing Yellow

Janji Lagi

Sebuah gambar di bak truk. Entah itu uangkapan hati yang menggambar, pemilik truk, atau pengemudi. Ya, dinikmati saja.