Tensocrepe Perban Elastis

Beberapa hari lalu, ketika sedang bebersih rumah dan memindahkan barang, pergelangan tangan kanan saya mengalami cidera. Jadi, saat akan memindahkan — lebih tepatnya membalik — meja, ternyata meja bergeser terlalu cepat dari yang saya perkirakan. Jadi, buru-buru memegang meja — yang kebetulan agak berat — untuk menghindari meja langsung jatuh ke lantai dengan keras.

Usaha cukup berhasil, cuma dengan kondisi ada otot tangan kanan yang keseleo. Setelah itu, saya tetap lanjutkan kegiatan karena rasanya baik-baik saja.

Tensocrepe perban elastis

Baru keesokan harinya pergelangan tangan kanan terasa lebih sakit. Untuk diputar, terasa tidak nyaman. Saya akhirnya menjadikan perban sebagai solusi untuk cidera otot atau keseleo. Beruntung, ada yang buka di hari kedua Lebaran kemarin. Saya diberi pilihan untuk perban elastis merek Tensocrepe dengan ukuran lebar 7,5cm dan 10cm.

Saya pilih yang ukuran 7,5 dengan harga Rp74.400.

Sebelum saya balut dengan perban ini, saya oleskan dulu Counterpain pada area pergelangan tangan. Awalnya, kalau sampai tidak sembuh, saya akan coba ke untuk memeriksakan. Kebetulan fisioterapi tujuan saya masih libur.

Ternyata, di hari kedua saya lakukan perawatan sendiri, kondisi pergelangan tangan jauh membaik. Sepertinya tidak perlu sampai ke klinik. Semoga.

Menutup Akun Jenius BTPN

Tunggu, memang ada terpikir untuk menutup akun . Tapi, alih-alih langsung menutupnya, saya pastikan bahwa akun kemungkinan tidak akan dipakai, karena saldo nol.

Saya termasuk salah satu yang akhirnya ‘terjerumus’ untuk membuka akun Jenius dari BTPN. Walaupun registrasi pertama gagal di Februari 2019 lalu, tapi setelah mencoba kembali di Agustus 2019 proses pembukaan akun berhasil dilakukan.

Dalam periode hampir dua tahun memiliki rekening di Jenius, tapi Jenius belum menjadi aplikasi yang sering saya gunakan. Transaksi yang sering saya lakukan adalah menerima pengiriman dari beberapa teman, yang secara nominal tidak besar. Selebihnya, hampir tidak pernah saya gunakan. Saya memiliki beberapa Jenius cards yang saya minta. Dan, sepertinya ini tidak terlalu bermanfaat bagi saya, karena justru saya semakin jarang membawa kartu fisik.

Kebanyakan transaksi yang saya sering lakukan akhirnya menempatkan DANA, , Pay, dan sebagai pilihan utama. Pun tidak, dan OCTO Mobile saat ini masih sangat bisa diandalkan.

Menutup Akun Jenius

Selain karena memang hampir tidak pernah dipakai, saya juga agak kurang nyaman dengan mekanisme denda atas kekurangan dana apabila dana tidak mencukupi saat dilaksanakannya transaksi di merchant.

Saya coba cari informasinya di situs Jenius, saya tidak menemukan informasi yang cukup jelas termasuk ketika saya coba buka laman Support/FAQ. Pada laman Syarat dan Ketentuan, informasi seputar penutupan akun menyebutkan tentang “Penutupan rekening dapat dilaksanakan oleh Nasabah dengan menghubungi Layanan Nasabah (Contact Center) dan/atau Jenius Live.”

Walaupun sepertinya datang ke kantor BTPN terdekat juga bisa menjadi solusi, tapi dalam kondisi pandemi sepertinya hal ini bukan solusi yang baik. Belum lagi sepertinya tidak ada jaminan bahwa proses bisa berjalan dengan cepat seperti pengalaman saat membuka rekening dulu.

Untuk saat ini, walaupun belum memroses penutupan akun sepenuhnya, seluruh kartu saya sudah saya kosongkan saat ini. Dana yang ada di akun juga sudah saya kosongkan. Ada informasi tambahan bahwa akun Jenius akan menjadi nonaktif (dormant?) jika tidak digunakan selama 6 (enam) bulan.

Mendapatkan Salinan Faktur Kendaraan Bermotor

Karena sebuah keperluan, bulan lalu saya harus mengurus proses mendapatkan salinan faktur kendaraan bermotor. Jadi, faktur kendaraan untuk mobil saya — yang katanya seharusnya ada di kartu BPKB — ternyata tidak ada pada tempatnya. Beberapa bulan sebelumnya memang saya melakukan proses balik nama melalu jasa pihak ketiga.

Intinya, dokumen tersebut tidak ada. Berbekal informasi bahwa faktur tersebut bisa didapatkan salinannya di samsat dengan proses yang mudah, jadi saya putuskan untuk mengurusnya.

Karena “alamat baru” pada BKPB ada di , jadi saya disarankan untuk mendatangi Kantor Samsat Sleman. Awalnya agak bingung juga, ke loket mana saya harus melakukan proses ini. Di bagian informasi, saya diarahkan untuk ke salah satu ruangan untuk pengurusan ini.

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, saya diminta untuk menunggu pengecekan dokumennya. Ternyata, dokumen saya tidak ada di sana, namun ada di kantor Samsat Maguwo. Setelah diyakinkan bahwa memang dokumen tersebut tidak ada, jadi saya disarankan untuk langsung ke kantor Samsat Pembantu Sleman (Kantor Pelayanan Sleman (Samsat Pembantu)).

Karena hari sudah cukup siang, dan jarak dari Samsat Sleman ke Samsat Maguwo cukup jauh, jadi saya putuskan untuk datang di hari berikutnya.

Salinan Faktur Kendaraan

Di Samsat Pembantu Maguwo, saya langsung diarahkan ke loket 1 yang ada di area layanan utama. Saya sampaikan maksud kedatangan saya dan saya diminta untuk menunggu. Tidak sampai satu menit, saya diinfokan kalau salinan faktur saya ada di Samsat Sleman. Aduh!

Saya sampaikan kalau kedatangan saya ke Samsat Pembantu Maguwo ini atas arahan dari petugas di Samsat Sleman. Setelah berdiskusi singkat dengan cukup santai, dilakukan pengecekan kembali. Mungkin masih terkait alamat yang belum diperbarui atau apa — ini terkait bahwa data BKPB juga sudah berubah alamat –, tapi singkatnya dokumen yang saya butuhkan bisa saya dapatkan. Seluruh proses ini ternyata cukup cepat. Sepertinya tidak sampai 30 menit.

Ulasan Monitor LED Dell S2721DS 27 Inchi

Beberapa waktu setelah saya bekerja dari rumah, saya sempat terpikir untuk memiliki sebuah monitor yang berukuran agak besar untuk kenyamanan bekerja. Saya sempat gunakan juga sebenarnya “televisi” sebagai monitor, tapi tentu saja ini bukan pilihan yang bijak.

Akhirnya, setelah satu tahun lebih, saya memutuskan untuk membeli sebuah monitor yang akan saya gunakan bersama dengan 15″.

Catatan:

Tulisan ini merupakan ulasan pribadi. Pembelian barang dengan menggunakan pribadi, bukan artikel berbayar, dan saya tidak memiliki hubungan bisnis dengan produsen monitor, maupun layanan lain yang disebutkan dalam artikel ini. Hasil dan pengalaman berbeda mungkin terjadi. Saya tetap menyarankan untuk membaca terlebih dahulu spesifikasi dan ulasan lain untuk produk ini.

Karena sudah sangat lama tidak mengikuti perkembangan monitor, awalnya saya agak bingung harus memulai pencarian saya dari mana. Akhirnya, saya lemparkan pertanyaan sekaligus meminta rekomendasi melalui linimasa saya. Berikut beberapa balasan rekomendasi, atau paling tidak yang sedang dipakai:

  1. S2721DS
  2. ThinkVision T27P10
  3. Dell s2721QS
  4. Thinkvision E24-20
  5. LG 24” 4K 24UD58-B

“Beruntung” tidak terlalu banyak rekomendasi yang bisa membuat saya bisa tambah bingung menentukan pilihan. Awalnya, saya berpikir untuk membeli yang 24″ karena sudah cukup besar. Ternyata, beberapa rekan yang kesehariannya bekerja dengan monitor eksternal lebih merekomendasikan untuk ukuran 27″.

Untuk mempermudah pilihan, saya menentukan anggaran paling tinggi Rp4.000.000,-. Dan, setelah membaca beberapa ulasan, melihat ulasan dari pengguna lain, saya memutuskan untuk membeli Dell S2721DS.

Spesifikasi

Berikut spesifikasi dasar untuk Dell S2721DS:

  • Ukuran panel: 27 inchi
  • Tipe panel: IPS
  • Resolusi: QHD 2560 x 1440 @ 75 Hz
  • Aspek rasio: 16:9
  • Konektor: 2x HDMI 1.4, 1x DP1.2
  • Daya: 19 watt (sleep/standby: 0,3 watt)

Spesifikasi lengkap dapat dilihat di situs Dell.

Pembelian

Awalnya saya berniat untuk membeli produk ini secara langsung di toko komputer. Namun, ternyata barang ini tidak banyak bisa saya temukan. Saya tanyakan ke salah satu teman saya yang juga sudah memiliki produk ini, ternyata barang sedang tidak ada dalam stok, dan harga saat ini lebih tinggi dibanding saat dia membelinya.

Glagah yang Sepi

Karena sudah cukup lama tidak mengunjungi eyangnya di ujung selatan , hari ini saya membawa keluarga untuk datang berkunjung sebentar. Kemarin, si bocah juga baru saja berulang tahun.

Kunjungan singkat tersebut sekaligus kesempatan mampir ke pantai. Dan Pantai Glagah merupakan pilihan siang itu. Tidak ada ekspektasi, selain bahwa semoga cuaca cukup baik. Pengalaman sesekali kali ke pantai — di masa pandemi — memang biasanya memilih jam dan hari yang ‘kurang diminati orang’.

Otomatis memang pantai/obyek wisata pasti cenderung sepi. Pengunjung berkurang. Dan, siang itu, saya menjumpai kawasan Pantai Glagah ini memang sepi. Setelah saya membayar retribusi obyek wisata sebesar Rp18.000 untuk tiga orang, saya langsung mengarahkan kendaraan ke area pantai. Dan, tujuan pertama ke kawasan laguna.

Laguna Pantai Glagah

Ketika mampir di area laguna, saya hanya melihat sekitar emapt mobil saja parkir. Ada beberapa sepeda motor terparkir. Sepi sekali. Ada sebuah perasaan sedih. Entahlah, tidak nyaman melihatnya.

Pantai Glagah.

Ketik sampai ke kawasan parkir pantai, saya hanya melihat satu mobil yang sedang parkir. Lagi-lagi, sangat sepi. Semoga ini memang karena sedang bulan puasa. Walaupun saya tetap mendukung protokol untuk tetap dijalankan, tapi di saat yang sama bahwa ada yang menggantungkan penghasilan dari sektor ini, pemandangan yang sepi ini cukup berhasil mengusik saya.

Beberapa orang yang berjaga parkir juga sepertinya menjalani hari yang cukup berat. Beberapa warung juga sepi. Beberapa kawasan yang sepertinya disiapkan (atau dulu malah sudah pernah beroperasi) juga sepertinya tidak menunjukkan bahwa ada aktivitas perekonomian di sana.

Sepi. Sedih.