Hotel Sebagai Alternatif Tempat Bekerja di Luar Kantor atau Rumah

Ilustrasi foto oleh Arina Krasnikova via Pexels

Selama hampir satu tahun berada dalam masa pandemi — dan entah sampai kapan pandemi ini akan berakhir — saya memang beberapa kali memutuskan untuk berada di luar rumah, untuk bekerja. Tentu, dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, aktivitas ini sangat berkurang.

Saya coba hitung, kalau tidak salah, secara total saya hanya pernah empat kali duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk bekerja — membuka . Namun, itupun belum tentu saya bekerja dan dalam periode waktu yang tidak terlalu lama (tidak sampai seharian).

Selain di warung kopi — yang didesain dan dikelola untuk sekaligus menjadi coworking space — saya akhirnya juga kadang bekerja dari hotel. Agak berbeda memang, karena bagi saya hotel dari dulu bukan opsi utama jika ingin sekadar duduk, membuka laptop, lalu bekerja.

Bekerja dari Hotel

Lebih tepatnya, ini memanfaatkan fasilitas restoran yang tersedia di hotel. Setelah beberapa waktu lalu saya melihat kalau Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan semacam Work From Hotel, saya akhirnya mencobanya.

Catatan

Seluruh cerita terkait dengan pengalaman menggunakan layanan/area di Prime Plaza Hotel (PPH Yogyakarta) merupakan pengalaman pribadi, dan tidak memiliki afilitasi/kerjasama dengan pihak hotel. Semua biaya yang muncul merupakan biaya pribadi. Pengalaman berbeda mungkin terjadi, dan saya mendorong untuk mengkonsultasikan dengan pihak hotel, jika diperlukan. Semua foto merupakan koleksi pribadi.

Paket “Work From Hotel” ini sebenarnya merupakan sebuah alternatif terkait dengan pemesanan makanan di hotel. Secara prinsip, tanpa harus menggunakan opsi paket “Work From Hotel (WFH)” , tetap bisa saja memesan makanan dari resto, untuk dinikmati di area resto, dan mulai bekerja di tempat yang tersedia.

Untuk kunjungan pertama, saya coba paket seharga Rp55.000. Secara umum, ada beberapa pilihan “paket” yang dapat dipilih sesuai selera, yaitu:

  1. Kopi/teh dan snack, seharga Rp55.000
  2. Kopi/teh, snack dan makan siang, seharga Rp75.000
  3. Coffee break, makan siang, meeting room, seharga Rp100.000

Harga tersebut adalah harga termasuk . Dan, ini dapat digunakan selama jam operasional hotel yaitu setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu), mulai pukul 07.00-23.00 WIB. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di https://work-from-hotel.web.app, tapi tetap ada baiknya juga menghubungi narahubung melalui WhatsAppp.

Jam operasional hotel ini lebih memberikan fleksibilitas. Walaupun saya memanfaatkan di jam kerja saja, dan tidak seharian penuh juga pada akhirnya.

Setelah saya menghubungi narahubung ke sekadar konfirmasi layanan ini, saya datang ke lokasi, dan saat itu sekitar pukul 11.00 WIB. Untuk prosedur masuk ke hotel, masih sama dengan sewaktu kali pertama saya datang sekitar dua bulan lalu.

Setelah memarkir kendaraan saya, saya menuju ke area lobi untuk pemeriksaan suhu, menggunakan hand sanitizer dan memindai QR Code yang perlu saya isi sebagai tamu. Pengisian ini menggunakan Form. Area parkir roda dua dan empat tersedia di bagian depan dan sangat luas menurut saya. Oh ya saya masuk melalui pintu masuk utama di Jl. Affandi.

Oleh petugas di lobi, saya ditanyai ada keperluan apa/mau kemana, saya sampaikan mau ke restoran. Dan, selanjutnya lancar saja. Saya sempatkan ke resepsionis, dan diarahkan untuk langsung saja ke area Colombo Terrace, yaitu restoran yang semi outdoor, yang lokasinya ada di samping kolam renang.

Petugas restoran menyambut saya dengan ramah, dan sepertinya cukup well-informed bahwa ada tamu yang datang untuk “Work From Hotel”. Saya ambil tempat duduk agak di pinggir. Saya amati sekilas untuk akses ke colokan juga tersedia di bawah meja.

Saya tidak punya ekspektasi untuk minuman atau snack yang saya dapatkan untuk harga Rp55.000 yang saya bayarkan. Jadi ya tunggu saja. Setelah saya duduk, beberapa saat kemudian saya diinformasikan mengenai akses yang bisa digunakan, dan selanjutnya saya ditawarkan apakah mau minum teh atau kopi. Siang itu, saya merencanakan mungkin akan berada disana sekitar 2-3 jam saja. Jadi apapun yang disajikan saya perkirakan cukup untuk menemani saya siang itu.

Akhirnya saya tidak jadi membuka laptop, dan bekerja dari saya. Untuk minuman, saya memilih kopi — yang akhirnya kopi ini bisa untuk porsi dua gelas. Kopinya sendiri merupakan black coffee, dimana ini sesuai dengan ekspektasi saya. Mungkin jika ingin yang selain kopi, bisa memilih teh, yang sepertinya penyajian juga hampir sama. Snack dan sedikit cemilan cukup untuk menemani kopi dan waktu bekerja.

Pengalaman pertama saya untuk mencoba alternatif tempat bekerja di hotel kali ini cukup menarik. Saat saya datang, ada beberapa tamu hotel atau pengunjung yang sedang ada di area restoran. Tapi, karena area cukup luas dan penataan meja/kursi cukup lapang, jadi ya tidak masalah juga. Oh ya, karena area ini semi outdoor, jadi untuk yang mungkin membutuhkan tempat merokok, area ini cukup baik. Ya, walaupun saya sudah tidak merokok juga. Ada sebenarnya pilihan untuk area restoran yang indoor dengan AC. Tapi, saat itu saya memagn lebih tertarik yang semi outdoor.

EIGER

Di linimasa saya kemarin, tiba-tiba banyak dipenuhi oleh cuitan mengenai kejadian yang melibatkan (PT. Eigerindo Multi Produk Industri) melalui akun @eigeradventure di Twitter dan (awalnya) dengan salah seorang warganet yang membagikan surat keberatan terkait sebuah ulasan yang diunggah di platform .

Ketika saya melihat isi surat keberatan tersebut, saya langsung menuju ke laman video-nya yang berjudul “REVIEW Kacamata EIGER Kerato l Cocok Jadi Kacamata Sepeda” karena penasaran juga. Lalu saya putar videonya, dari awal sampai akhir, tanpa ada bagian yang saya lewatkan. Komentar saya: “Ini video dan kontennya bagus! Ulasan personal, dan secara umum menginformasikan sesuatu yang positif terhadap produk (kacamata) dari EIGER!”

Saya juga sering melakukan ulasan untuk produk, jasa, atau layanan di situs ini. Namun memang jarang yang sifatnya /visual. Dari persepektif kreator (di video tersebut) saya apresiasi sekali karena membuat konten tersebut juga membutuhkan usaha.

Data Pembayaran di Situs Belanja. Simpan atau Hapus?

Foto oleh Avery Evans via Unsplash

Sebagai salah satu kegiatan bebersih akun, selain menghapus following akun di , saya juga melakukan penghapusan beberapa pembayaran yang melekat di akun-akun saya, terutama di situs/layanan yang cukup sering saya gunakan untuk bertransaksi.

Tentu aja, dengan punya data pembayaran, proses akan sedikit lebih cepat, tapi di saat yang sama bisa juga ‘berbahaya’. Ya, terkait dengan adanya kemungkinan peretasan, tapi keputusan/proses membeli jadi lebih singkat. Jadilah saat ini seluruh data pembayaran () di situs-situs niaga-el seperti , , Blibli, dan lainnya saya hapus semua.

Untuk Shopee dan Tokopedia, saya lebih suka menggunakan pembayaran langsung melalui saldo atau . Untuk pembayaran lain secara daring, saya rasa juga sekarang sudah sangat fleksibel pilihannya. Pembayaran kartu kredit di kedua platform tersebut lebih sering ketika saya gunakan untuk transaksi yang agak besar, atau cicilan.

Untuk data-data di layanan lain yang sifatnya berlangganan atau tagihan rutin dan mengharuskan adanya metode/data pembayaran yang harus tersimpan, perubahannya hanya terkait dengan adanya cadangan metode pembayaran. Ada yang memang hanya satu alat pembayaran, ada pula yang lebih. Sebenarnya, bisa juga dengan konsep deposit, namun saya masih agak kurang nyaman dengan cara ini, apalagi deposit juga menarik dari kartu kredit.

Hasil Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2020

Badan Pusat Statistik (BPS) Republik baru saja merilis hasil pelaksanaan sensus penduduk 2020. Terkait dengan proses pendatatan, saya ikut didata pada September 2020 lalu. Menurut hasil sensus, jumlah penduduk Indonesia adalah 270,20 juta jiwa.

Hasil Sensus Penduduk 2020

Muhammad Hudori, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri dalam rilisnya menyampaikan bahwa rilis ini dilaksanakan untuk pertama kalinya sebagai wujud koordinasi dan kolaborasi instansi dalam mewujudkan satu data yang diawali dengan satu data kependudukan. Jumlah penduduk dari hasil registrasi di semester II (Desember) tahun 2020 disampaikan Hudori sebanyak 271 juta jiwa. Sementara capaian perekaman KTP di 2020 telah mencapai 99,11%. Hudori juga menyampaikan sebuah fakta menarik, bahwa terdapat sekitar 17 ribu penduduk dengan rentang usia 100 s.d 115 tahun di Indonesia.

Kepala BPS dan Sekjen Kemendagri kemudian bersama-sama merilis hasil SP2020 dan mengumumkan bahwa pada September 2020 jumlah penduduk Indonesia sebesar 270,20 juta jiwa. “Data hasil SP2020 dan data registrasi kependudukan oleh Dirjen Dukcapil diharapkan dapat saling melengkapi untuk dapat dimanfaatkan diberbagai bidang,” ungkap Kecuk. SP2020 diakui Kecuk berjalan penuh tantangan di tengah kondisi Pandemi. Beberapa karakteristik penduduk menjadi tidak dapat diperoleh karena proses bisnis melalui banyak penyesuaian.

Baik Hudori maupun Kecuk mengakui bahwa hasil SP2020 ini telah selaras dengan data Adminduk 2020 tertutama pada level nasional. Sementara pada tingkat provinsi, perbedaan jumlah penduduk antara hasil SP2020 dan data Adminduk merupakan gambaran banyaknya penduduk yang melakukan perpindahan, baik untuk keperluan bekerja, sekolah, maupun alasan lainnya.

Rilis BPS: 270,20 juta Penduduk Indonesia Hasil SP2020

Simple Stream

I still have my orangescale.net name since I registered it back in 2006, but I do not used it for few years. This blog used that domain name for few years. Rather than having the domain unused, I decided to use it for something simple as simple aggregator.

So, orangescale.net now (well, for now!) has list of posts from this blog (thomasarie.com) and also from my podcast page at anchor.fm. I made it using Sourdust Feed Aggregator. Originally, Sourdust uses for its /, but I decided to redo the interface — still simple! — using Bulma.

My fellow, Zam, also has this kind of aggregator and I subscribe to it. I am thinking of having the similar aggregator, but for now keeping the updates with my daily reading sources I use reader and also blog subscription feature, if available.

Linimasa Instagram Lebih Ringkas (dan Lebih Bermanfaat)

Foto oleh Kate Torline di Unsplash

Setelah saya bebersih akun , dengan mengurangi jumlah following, linimasa Instagram dan Instagram Stories menjadi lebih ringkas. Sebenarnya bukan cuma mengurangi, tapi memang jadi ada akun yang malah saya ikuti. Tapi, secara umum saya kurangi. Dan, akun yang saya berhenti ikuti cukup banyak. Berikut yang sudah hampir tidak ada di lnimasa Instagram saya:

  1. Akun selebritas. Hampir tidak lagi akun selebritas yang saya ikuti. Ya, dulu mungkin menarik untuk diikuti, tapi setelah dipikir-pikir, buat apa ya saya ikuti? Walaupun mungkin masih ada, tapi bagi saya mereka itu lebih kepada figur publik, dan saya memang suka dengan kontennya — yang kebanyakan bukan terkait posisi dia sebagai seberitas.
  2. Akun terkait hobi, jualan, dan lebih spesifik akun jualan tanaman. Ketika hype hobi bertanam muncul dan makin teman saya yang hobi bercocok tanam — baik maupun tanaman hias — saya banyak mengikuti akun dengan tema tersebut. Jadi, mungkin linimasa saya sekarang tidak sehijau beberapa bulan kemarin.
  3. Akun layanan daring seperti dan , termasuk akun layanan digital seperti dompet digital, layanan , dan akun yang terkait dengan niaga-el (e-), juga sudah tidak ada dalam linimasa saya. Walaupun, aplikasinya beberapa masih terinstal di ponsel Android saya.
  4. Akun yang tidak saya kenal. Dulu saya mengikuti balik akun Instagram yang mengikuti akun saya. Tapi, setelah saya secara acak ikuti, ternyata saya heran karena ya… sebenarnya tidak kenal. Bahkan, ada yang saya tidak memiliki “mutual connection”.
  5. Akun terkait dunia penerbangan, akun wisata/perjalanan, atau . Termasuk akun travel/food . Saya sisakan mungkin tidak sampai 10 dalam kategori ini.
  6. Akun yang tidak aktif. Saya lihat daftar akun yang saya ikuti dan menghapus cukup banyak akun yang selama ini hampir tidak pernah saya lihat di linimasa atau Instagram Stories. Tapi, ya bisa saja karena saya tidak masuk dalam “Closed Friend” akun tersebut. Yang soal ini ya tidak apa-apa juga. Kadang sebelumnya saya lihat dulu akunnya sekadar melihat kapan konten terakhir diunggah.

Sepertinya ya sesuai hasil yang ingin dituju: lebih ringkas — dan lebih “ada manfaatnya”. Karena, sebenarnya ada cukup banyak akun yang malah saya ikuti. Dan, kebanyakan adalah terkait dengan pandemi , seperti akun dokter, atau akun yang berisi infomrasi singkat dan tentunya bermanfaat.

Masih di Masa Pandemi: Opsi Kerja Jarak Jauh/Di Luar Rumah dari Hotel di Yogyakarta

Sejak masa pandemi , salah satu yang berubah adalah salah satu kebiasaan untuk bekerja dari luar, dan khususnya ke kafe atau coffee shop, atau co-working space. Saya cukup merindukan suasana yang berbeda dari suasana kantor, atau suasana di rumah.

Seingat saya, kali terakhir saya duduk di coffee shop itu sekitar bulan Oktober atau November tahun lalu di Prada Coffee Argulo di daerah Gejayan, . Salah satu tempat ngopi favorit saya. Dulu ada juga yang di Kotabaru yang juga salah satu tempat favorit, tapi sekarang sudah tutup.

Karena kebutuhan tiap orang berbeda termasuk saya, jadi kadang spesifik tempat kopi porsinya lebih banyak untuk yang bekerja dengan lebih santai, karena tak jarang karena ketemu dengan teman, ngobrol lebih sering terjadi. Haha! Ya, bagaimana lagi, kebutuhan sosial kan juga harus dipenuhi.

Co-working space, dengan para tamu yang hadir memang cenderung lebih bekerja menjadi opsi yang lain. Starbucks mungkin juga pilihan menarik, tapi saya cukup jarang juga, hanya sesekali saja.

Kerja dari hotel?

Ini juga pilihan, walaupun jarang dimanfaatkan termasuk oleh saya. Saya tidak terlalu ingat kapan kali terakhir saya bekerja dari hotel. Maksudnya, untuk ke area resto, membuka latop, dan mulai bekerja. Padahal, seharusnya ini menjadi pilihan yang menarik. Karena, untuk pelayanan, kebersihan, dan suasana pasti akan berbeda. Walaupun mindset tentang hotel juga tidak mungkin lepas seperti:

  • Harga mahal
  • Wifi standar hotel, walaupun ada tapi lebih kepada fasilitas tambahan saja
  • Suasana kurang santai. Dengan pakai casual, bisa saja bagi beberapa orang lebih intimidatif dibandingkan ke co-working space atau coffee shop.

Dan, yang paling utama karena hotel pada umumnya tidak didesain sebagai tempat bekerja atau co-working space. Jadi, ketika beberapa waktu lalu saya dengar Prime Plaza Hotel Yogyakarta menawarkan layanan bekerja dari hotel — mereka menyebutnya “Work From Hotel (WFH)” — saya tertarik untuk mencoba dan menjadikannya opsi.

Prime Plaza Hotel Yogyakarta ini sebenarnya bukan hotel baru dan cukup akrab bagi merkea yang tinggal di Yogyakarta, apalagi yang sering melewati Jalan Affandi, Gejayan atau komplek Colombo. Di pertengahan November 2020 lalu, saya bahkan sempat berkunjung kesana karena suatu keperluan. Dan, kalau terkait dengan protokol kesehatan di masa COVID-19, yang saat itu saya temui semua berjalan dengan baik.

Bahkan, katanya untuk harga juga cukup bersaing dengan menawarkan beberapa fleksibilitas. Ada yang bisa digunakan untuk harian, dan katanya harga mulai dari Rp50.000 Rp55.000 untuk sekali datang, sudah termasuk kopi/teh dan makanan kecil.

Jadi, mari dicoba.

Jadi, Ikut Divaksinasi atau Tidak?

Hari ini, saat penanganan pandemi masih tak kunjung membaik, mencatat ada 14.224 kasus baru. Dan, tak hanya itu, ada 5.279 kasus aktif baru (dalam perawatan), dengan positive rate 31,35%. Ketiga angka tersebut merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat. Angka tersebut berdasarkan jumlah 45.358 orang yang dites.

Tentang kebijakan untuk menekan persebaran COVID-19 yang dilakukan oleh pusat, atau pemerintah daerah, sepertinya juga tidak membawa perbaikan. Alih-alih menerapkan prosedur pelaksanaan yang mendukung pergerakan/mobilitas manusia, tak jarang justru kebijakannya malah berkebalikan.

Sebenarnya ingin optimis bahwa pandemi ini — khususnya di Indonesia — akan ke arah perbaikan. Jumlah kasus menurun, jumlah kematian menurun, tenaga juga semakin ringan pekerjaannya. Tapi…

Dan, sepertinya pemerintah lebih menekankan kepada proses sebagai jawaban. padahal, proses vaksinasi ini tidak akan serta merta menghambat laju perkembangan kasus baru di Indonesia. Prosesnya sangat panjang. Dan, seiring dengan proses itu, sangat tidak mustahil dengan tingkat kedisiplinan orang yang masih banyak abai, kasus akan terus naik pula.

Lalu, divaksinasi atau tidak?

Saya tidak tertarik untuk membahas tentang mereka yang pro atau anti terhadap vaksinasi. Itu pilhan mereka. Bahwa ada sanksi jika menolak, biarlah penegakan hukum atau dasar aturannya yang berbicara. Tentang efektivitas, Sinovac yang diberikan secara gratis, bagian paling penting adalah sudah sesuai dengan standar WHO, dan mendapatkan ijin edar darurat (Emergency Use Authorization) dari BPOM pada 11 Januari 2021 lalu.

Kalau saya, dengan tidak ada banyak pilihan solusi, jika memang sudah saatnya dan saya memang bisa mendapatkan giliran vaksinasi, saya akan menerimanya. Kalau melihat fenomenanya, bukan tidak mungkin justru kehadiran vaksin dengan jadwal vaksinasinya ini membuat proses penanganan penyebaran menjadi lebih sulit.

Bisa saja orang berpikir bahwa karena sudah divaksinasi, maka akan aman. Padahal, selain bahwa prosesnya cukup panjang — pemerintah menargetkan akan selesai dalam 15 bulan — tapi untuk masing-masing penerima vaksin juga tidak serta merta aman.

Ada proses pembentukan antibodi, proses vaksinasi dilakukan dua kali untuk masing-masing penerima dengan jarak 2 minggu. Dan, tidak semua orang mendapatkan jadwal vaksinasi yang sama. Semoga saja kondisi ini juga disadari, jangan malah melegalkan untuk mengendorkan protokol kesehatan.

Semoga.

Akhirnya, Ada Kabar tentang Pengembalian Dana dari AirAsia Indonesia

Karena beberapa minggu sejak saya mengajukan klaim pengembalian dana (refund) atas penerbangan dengan AirAsia Indonesia yang saya batalkan tidak ada kabar, saya kira proses mungkin saja memang tidak dapat dijalankan.

Apalagi pembatalan tersebut bisa dikatakan sangat mepet dengan jadwal penerbangan. Seingat saya, saya bahkan membatalkan penerbangan di hari yang sama dengan jadwal penerbangan saya di bulan Maret 2020. Jadi, kalaupun ini tidak berhasil diproses ya tidak mengapa.

Ketika bulan Juni 2020 lalu AirAsia membuka beberapa rute penerbangan domestik, status klaim pengembalian saya juga belum ada perubahan. Masih dalam status “sedang diproses”. Bahkan, ketika AirAsia mengumumkan transformasi mereka menjadi ‘super app’ di bulan Oktober 2020, juga tidak ada perubahan.

Nominal tiket penerbangan saya saat itu sektiar Rp1.400.000. Jumlah yang lumayan juga sebenarnya.

Tapi, saya juga cukup paham bahwa dunia aviasi atau sangat terkena dampaknya. Dunia aviasi jelas sangat memegang peranan penting, karena langsung terkait dengan sektor bisnis lainnya. Mobillitas orang berkurang, banyak bisnis juga tidak berjalan secepat sebelumnya. Dunia pariwisata termasuk perhotelan, pasti juga kena dampaknya.

Thai Airways juga menjajaki bisnis restoran dan pa tong go karena pandemi yang terus menghantam ini.

Jadi, saya mungkin salah satu dari ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang yang dengan berbagai kasus berurusan dengan maskapai. Pemrosesan kasus tentu saja mengalami kenaikan yang luar biasa. Sangat luar biasa. Bagian terbaruk untuk kasus saya adalah klaim tidak dapat diproses, dan saya menerimanya.

Namun, hari ini (14 Januari 2021), saya mendapatkan telepon dari AirAsia . Saya pikir, mungkin bagian pemasaran yang menawarkan paket, , atau informasi saja. Tapi, ternyata bukan.

Singkatnya, telepon itu memberitahuan mengenai perbaruan status klaim tiket saya. Nominal refund saya dapat diproses, dan akan dikembalikan sebagai kredit akun untuk dapat saya gunakan untuk pemesanan tiket di masa mendatang.

Tapi, saya mungkin sampai dengan akhir tahun belum tentu akan bepergian. Mengenai tenggang waktu pemakaian kredit, ternyata cukup lama yaitu 2 (dua) tahun sejak kredit ditambahkan ke akun saya. Dan, ini dapat digunakan untuk pembelian tiket kemana saja, dan untuk penumpang siapa saja. Kalau total pembelian lebih dari kredit, saya hanya perlu membayar selisihnya. Dan, jika pembelian kurang dari kredit saya, maka sisa kredit akan tetap ada di akun saya.

Sebenarnya ada juga pilihan utnuk dikembalikan secara transfer , tapi proses ini akan memakan waktu sangat lama. Kalau tidak salah dengar, paling cepat mungkin dalam jangka waktu 6 (enam) bulan.

“Kalau tidak terbang dalam jangka waktu 2 (dua) tahun ke depan, lalu buat apa kredit akunnya?”

Ya, mungkin pembelian nanti bukan untuk saya. Saya juga belum pastikan, apakah kredit akun bisa digunakan untuk layanan pembelian lain di situs AirAsia.com misal pemesanan hotel, atau pembelian jasa lainnya. Kalau bisa, ya mungkin bisa nanti digunakan untuk ini.

Saat saya menulis ini, kredit akun memang belum ditambahkan, tapi bagaimana menyelesaikan kondisi ini, saya rasa layak untuk diapresiasi.

Terima kasih, AirAsia Indonesia.

Presiden Joko Widodo: Indonesia Termasuk Mampu Mengelola Pandemi COVID-19 (Januari 2021)

Walau pandemik belum berlalu tapi kita bersyukur bahwa kita termasuk negara yang mampu mengelola tantangan ini, penanganan yang bisa dikendalikan dengan terus meningkatkan kewaspadaan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah naik kembali sejak kuartal 3 lalu meski dalam kondisi minus.

Tahun 2020 yang baru saja kita lalui benar-benar menguji ketangguhan kita, menguji keuletan sebagai bangsa besar ujian yang tidak mudah, sebuah ujian yang sangat sulit pandemik telah mengakibatkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi di seluruh dunia

Presiden Jowo Widodo, di Istana Kepresidenan , Minggu (10 Januari 2021), di hadapan Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) Soekarnoputri dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-48 PDIP

Sriwijaya Air SJY 182

Sumber gambar: Instagram @jokowi

Sebuah kabar sedih di awal tahun 2021 dari dunia udara terkait jatunya Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182. Saya sendiri pernah beberapa kali menggunakan maskapai ini untuk perjalanan dari ke dan sebaliknya.

Artikel Kronologi, Fakta, dan Misteri Jatuhnya Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJY 182 di dapat menjadi rujukan awal mengenai bagaimana kronologi dan fakta terkait dengan insiden tersebut.

Presiden Joko Widodo: Beruntung, Indonesia tak sampai lockdown

Kita ini kalau saya lihat alhamdulillah masih beruntung tidak sampai lockdown, kalau di negara lain kayak di eropa itu lockdown dan tidak hanya sebentar. Nggak hanya sebulan tapi bisa sampai tiga bulan, bahkan tiga hari yang lalu di London, Inggris lockdown lagi, Bangkok lockdown, Tokyo statusnya darurat.

Kita di sini meskipun dibatasi dengan protokol yang ketat, tetapi masih bisa beraktivitas dan menjalankan usaha

dalam acara penyaluran Bantuan Modal Kerja kepada pelaku UMKM di Istana Kepresidenan, , Jawa Barat, Jumat (8/1/2021) (Sumber: Bisnis.com)

Pernyataan yang dilontarkan, ketika ada beberapa kondisi yang jika merujuk kepada angka dan statistik penanganan belum juga terlihat ada keberhasilan yang dibanggakan. Di hari pernyataan tersebut dilontarkan yaitu Jumat, 8 Januari 2021 statistik hari sebelumnya (Kamis, 7 Januari 2021) ada 9.231 kasus positif di .

Dan, di tanggal 8 Januari 2021:

Kalau “tidak lockdown padahal negara lain yang meakukan lockdown, melakukan penanganan pandemi COVID-19, dan terbukti berhasil menekan angka penambahan kasus aktif” adalah sebuah prestasi… ya, bagaimana lagi. Menentukan dan melihat parameter keberhasilan atau prioritas memang bisa berbeda-beda.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin Menjawab (di Mata Najwa)

Najwa Shihab, tuan rumah Mata Najwa

Ketika Menteri Kesehatan terdahulu (Terawan Agus Putranto) tidak hadir memenuhi undangan Najwa Shihab di program Mata Najwa — entah apapun alasannya, mungkin sibuk — saya sempat berpikir mungkin di lain kesempatan. Jadi, masih menjadi harapan karena saya penasaran juga apa yang sebenarnya informasi yang dimiliki oleh (rencana, target, , dan lain sebagainya) dapat dikomunikasikan kepada publik.

Publik perlu tahu. Publik berhak tahu. Itu pikir saya.

Tapi ternyata, keadaan berkata lain. Jabatan Menteri sudah diisi dengan sosok baru, Budi Gunadi Sadikin. Jujur saja, awalnya saya berpikir ini bagaimana Menteri Kesehatan kok bukan/tidak memiliki latar belakang dunia kedokteran atau kesehatan masyarakat. Tapi, pemikiran saya tidak bertahan lama setelah ternyata banyak negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dengan latar belakang kedokteran.

misalnya. Gan Kim Yong sebagai menteri kesehatan sebelumnya malah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja. Atau Andrew James Little di Selandia Baru. Dan masih banyak lagi negara yang memiliki menteri kesehatan bukan dari kalangan dokter/kesehatan seperti Kanada, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Denmark, dan lain sebagainya.

Dan, kinerja mereka sudah cukup membuktikan bahwa hal seperti ini bisa berhasil. Belum tentu pasti gagal, tapi bisa saja menteri memiliki performa yang lebih baik. Toh, pada akhirnya bagaimana menteri dapat mengorkestra dan bersinergi untuk tujuan utama yang ingin dicapai, menjadikan kerja bersama untuk mencapai keberhasilan bersama/kolektif?

Rasa “pesimis” terhadap kondisi penanganan COVID-19 di Indonesia, dan termasuk kegemasan terhadap aksi/informasi yang selama ini tidak tersampaikan kepada publik dari Kementerian Kesehatan RI cukup terobati ketika kali pertama saya melihat video keterangan pers Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada akhir Desember lalu.

Kembali ke bagaimana Pak Budi Gunadi Sadikin menjawab begitu banyak pertanyaan yang terwakilkan di Mata Najwa hari Rabu lalu. Saya secara pribadi seperti mendapatkan pemahaman, pengertian, dan informasi yang cukup mencerahkan. Saya juga paham, ini bukan sebuah kerja ringan. Tapi, bagaimana pertanyaan dijawab dan direspon, termasuk bahwa dikatakan jika memang tidak/kurang tahu, ada sebuah harapan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Yang saya jelas tangkap, bagaimana semuanya dikomunikasikan kepada publik oleh Kementerian Kesehatan melalui acara Mata Najwa kemarin perlu untuk diapresiasi.

Walaupun sebaiknya memang tidak perlu membandingkan, tapi sulit untuk tidak membandingkan bagaimana model komunikasi Budi Gunadi Sadikin dan Pak Terawan. Kalau melihat bagaiman pernyataan atau hal-hal dikomunikasikan atau dikomentari oleh Pak Terawan, arsip di dan media sudah sangat banyak.

Untuk wawancara Menteri Kesehatan di Mata Najwa hari Rabu lalu, bisa dilihat di kanal . Berikut tautan seluruh episodenya.

  1. Budi Gunadi Sadikin, Pengisi Kursi Kosong Menkes
  2. Swab Test Mahal? Vaksin Aman? Menkes Budi Menjawab
  3. Cerita Ojek Online Jadi Relawan Vaksin
  4. Kondisi Pandemi Pasca-liburan Akhir Tahun
  5. Rumah Sakit dan Lonjakan Kasus Corona
  6. Menkes Budi Bicara Kacaunya Data Kasus COVID-19
  7. Cek Suhu di Kepala atau di Tangan, Pak Menteri?

Pengalaman Pengembalian dan Penggantian Pembelian Barang di Tokopedia

Dari sekian banyak transaksi pembelian barang di situs-situs niaga-el (marketplace) seperti , dan kadang Blibli (situs lain seperti Bukalapak, Lazada, dan niaga-el saya jarang gunakan), di awal tahun 2021 ini untuk kali pertama saya melakukan pengajuan penggantian barang.

Hal ini terjadi karena produk lampu yang saya beli di Tokopedia tidak berfungsi dengan baik. Ketika kali pertama saya buka, lalu menyalakan, tidak ada aliran sama sekali. Saya langsung kontak penjual, dan agak pesimis kalau ini akan bisa dilakukan penggantian. Karena sejak kali pertama saya buka, saya memang tidak mendokumentasikannya.

Foto oleh Keagan Henman via Unsplash

Harga barangnya sendiri sekitar Rp60.000. Sempat terpikir untuk saya perbaiki sendiri saja. Namun, ada risiko kalau malah rusak sama sekali. Kondisi barang ketika saya terima sebenarnya dalam kondisi yang sangat baik. Bungkus sangat aman, bahkan dibungkus dengan semacam pipa karton tebal bekas gulungan kain. Ternyata, oleh penjual setelah saya kirimkan beberapa foto, penjual menawarkan untuk melakukan penggantian barang, dengan terlebih dahulu saya diminta untuk mengirimkan kembali barang tersebut.

Saya mengiyakan.

Semua proses ini saya lakukan melalui aplikasi Tokopedia, melalui menu adukan keluhan. Singkatnya, setelah mengirimkan barang melalui kurir, saya tinggal perlu menuliskan informasi resi, sebagai konfirmasi bahwa barang telah terkirim.

Barang pengganti

Saya cukup beruntung karena sejak awal penjual memberikan respon yang baik. Beberapa hari setelah saya kirimkan barang ke penjual, saya mendapatkan resi baru melalui pusat resolusi keluhan.

Secara umum, proses berjalan baik. Soal ongkos kirim, sebenarnya ada opsi untuk saya melakukan klaim ongkos kirim ke pihak Tokopedia, ada opsi untuk kebutuhan ini. Namun, saya ikhlaskan saya untuk ongkos kirim yang saya keluarkan, karena awalnya barang juga sudah saya terima tanpa ada biaya kirim.

Catatan

Walaupun menyebutkan Tokopedia, tulisan ini merupakan pengalaman pribadi, bukan artikel bersponsor. Walaupun, jika ada yang ingin menawarkan sponsored post, saya juga terbuka :)

Perbaikan Masalah MacBook Pro Tidak Bisa Mengisi Daya

Awal Januari ini, akhirnya setelah sekitar 1 bulan MacBook Pro saya harus ke servis, saya sudah kembali ke tangan saya dengan kondisi baik. Masalah yang muncul terkait dengan daya yang tidak masuk melalui charger. Jadi, ketika diisi daya, MacBook tidak merespon sama sekali.

Awalnya, saya ingin sekalian melakukan penggantian baterai. Tapi, sepertinya ada sedikit kesalahpahaman informasi yang mengakibatkan baterai ternyata tidak diganti. Walaupun kondisinya memang sudah tidak ideal, tapi setelah saya terima, daya tahan baterai masih bisa dibilang mencukupi. Apalagi, saya hampir selalu bekerja di rumah, jadi tidak ada kebutuhan spesifik harus bekerja di tanpa charger.

Soal biaya, pengecekan dan perbaikan kemarin biaya Rp1.650.000,-.