Hello, HEY!

Yes, I’m joining the crowd to give HEY — email service by the awesome guys at Basecamp — a shout. I wrote them to request for an invite three around three days ago. I am sure that they’re having lots of invitation requests, but today, I finally got the invitation code to register an account.

Before registering, I have read some key information about HEY: about how it works, the HEY manifesto, some key points on the FAQ page, and also how the pricing will work. I also understand that Imbox is not a typo.

Some key points about HEY

In my opinion, these are some key points about HEY. It’s not about my personal preference, but more about ‘what I — or probably you — should now by having a @hey.com account.

  1. It’s NOT an client. So, it’s not like Gmail for Android/. It’s not Outlook you can have on your Android, , or iOS devices. It’s not even close to Spark, Postbox, or Newton.
  2. It’s an email provider, with — currently — @hey.com for the email address created. That’s right, it’s like Gmail by Google, or Yahoo Mail, or Outlook. It’s also like how you have your email address, powered by your cPanel-based hosting, or maybe you have it installed yourself and having Roundcube as the interface. Creating an account at HEY is like you open an account at Gmail, or having an email at Yahoo Mail service.
  3. It’s not free. It’s a paid service. To enjoy the full service at the moment, with the upcoming in the futures, we need to pay US$99/year minimum. We need to pay extra if for ‘shorter’ username. 2-characters of username costs US$999/year, and 3-character of username will cost US$349/year. And, we need to pay a year in advance.
  4. It offers “better” . Hint: Gmail.
  5. It might change your workflow. It might be better for some , but probably it’s not for everyone.

More features that might works better for you can be seen at HEY website.

Let’s give it a try

Reading some of those points above, I was curious about how it works. I mean about the interface, functionalities, workflows, and more. It’s 2020, and making working with email to become an enjoyable experience — for those who work a lot with emails — is still a big challenge.

I am a Gmail user — or Gmail-based email, because I also use Google App for Work — and I use lots of Google . I signed up for my Gmail account when it was still ‘invite only’ period.

My first question about HEY was, “If HEY is that good, how the integration between services I currently use?”. I have an Gmail email, and once I signed up for it, I can use all the other services right away. The integration between those [Google] service is already that good.

I still believe that HEY is not ‘just another email provider’. Basecamp is a reputable company. I follow Signal vs Noise blog. I bought both REMOTE and REWORK. It’s built by people who know what they do, and who want to make the idea of working to become something efficient and at the same time. If we’re talking about productivity, Basecamp should be mentioned here.

I already logged-in to my email account. I have HEY app installed on my iPad and Android phone. I also already sent my first email to it.

Let’s see.

Forecast by Facebook

Forecast, a for crowdsourced predictions. A platform by .

OCTO Clicks, Bukan Lagi CIMB Clicks

Sebelum saya menginstal OCTO Mobile, seluruh aktivitas saya di hanya saya lakukan melalui CIMB Clicks sebagai nama layanan banking dari CIMB Niaga. Bahkan, transaksi yang saya lakukan cukup umum saja: membayar tagihan , melihat mutasi rekening. Beberapa transaksi lain sudah dilakukan secara otodebet.

Setelah OCTO dirilis untuk menggantikan Go Mobile, giliran OCTO Clicks hadir untuk menggantikan CIMB Clicks. Saya rasa keduanya — OCTO Mobile dan OCTO Clicks — berusaha hadir untuk memberikan solusi yang lebih lagi terkait layanan perbankan, terutama secara digital.

Jadi, ketika biasaya saya membuka internet banking CIMB Niaga melalui cimbclicks.co.id, sekarang alamat berpindah menjadi octoclicks.co.id. Nama lama sudah tidak digunakan lagi.

Dibandingkan desain sebelumnya, tampilan yang baru sangat jauh berbeda. Desainnnya mungkin terlihat lebih modern. Desain yang appealing tentu saja sebuah nilai plus. Tapi, yang lebih penting adalah secara fungsi.

IDR75,000 Go-Food Vouchers for Google Local Guides Users

Not sure how many Local Guides contributors got this vouchers, but I got one. This perks was sent to my inbox: IDR75,000 (US$5) Go-Food voucher!

Of course, it did not take long for me to redeem it on my app. And, I use this voucher within minutes.

Aktivasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga dan Aplikasi OCTO Mobile

Setelah hampir tiga tahun saya memiliki dari CIMB Niaga, hari ini saya memutuskan untuk mengaktifkan (Personal Identification Number) untuk kartu kredit saya. Kenapa baru sekarang, karena kartu kredit tersebut hampir tidak pernah saya gunakan untuk transaksi di merchant secara offline, tapi hanya untuk keperluan transaksi daring.


Bahkan, kartu kredit saya malah hampir tidak pernah saya bawa. Namun, karena ada aturan dari bahwa per 1 Juli 2020, seluruh transaksi kartu kredit harus menggunakan PIN — tanda tangan tidak diterima — maka saya putuskan untuk mengaktifkan PIN.

Cara Aktivatasi PIN Kartu Kredit

Kirim ke nomor 1418 dengan konten PIN <4 digit terakhir kartu kredit> . Format tanggal lahir adalah tanggal-bulan-tahun. Contoh: PIN 3213 29041990. Dan, proses aktivasi selesai setelah saya menerima balasan SMS.

PIN untuk kartu kredit 6789 Anda adalah 543221. Segera ganti PIN Anda di CIMB Niaga, app OCTO atau hub 14041 dalam waktu 14 hari. Info 14041

Isi pesan SMS balasan aktivatasi PIN Kartu Kredit CIMB Niaga

Tentu saja, hal yang pertama saya langsung ingin lakukan adalah mengubah PIN default. Dari opsi untuk datang ke ATM CIMB Niaga atau melalui aplikasi, saya memilih opsi kedua.

OCTO Mobile

Saya tidak memiliki ekspektasi tentang apa fitur yang ditawarkan oleh OCTO Mobile dari CIMB Niaga. Tapi, selama ini saya cukup nyaman dengan aplikasi mobile banking milik BCA. Transaksi CIMB Niaga biasanya saya lakukan melalui fitur banking.

Saya mengunduh OCTO Mobile dari Play Store untuk ponsel Android saya. Versi iOS juga tersedia. Setelah melakukan proses registrasi, saya lanjutkan dengan mengubah PIN kartu kredit saya.

Aplikasi Baru Gojek Indonesia yang Jadi (Kurang) Nyaman

Paling tidak menurut pendapat pribadi saya. Saya memang suka apabila aplikasi di ponsel saya selalu up-to-date. Paling tidak, ketika ada fitur baru, saya bisa segera menikmatinya. Toh, umumnya rilis baru berarti ada sesuatu yang baru, lebih baik, dan memberikan jawaban atas solusi pengguna dalam menggunakan aplikasi.

Saya merupakan pengguna aplikasi dan . Dari kedua aplikasi ini, saya pakai bergantian. Saya suka layanan Gojek, dan Grab juga memberikan pilihan layanan yang baik juga.

Pengalaman menggunakan kedua aplikasi tersebut juga kurang lebih sama. Bahkan, konsep desain antar muka dan bagaimana pengguna berinteraksi dengan aplikasi, tentu sudah sangat dipikirkan.

Namun, aplikasi Gojek terbaru yang ada di ponsel Android saya — karena yang versi sebelumnya belum mendapatkan perbaruan — cukup membuat saya mendapatkan pengalaman yang kurang nyaman. Mungkin karena ada perubahan cukup signifikan dari versi sebelumnya, jadi ini tinggal masalah waktu. Toh, lama-lama terbiasa. Tapi, entahlah, terasa kurang nyaman saja.

Desain “Lama”

Desain ini merupakan tangkapan layar aplikasi Gojek di Android, sebelum desain “terbaru” yang diluncurkan. Dari sekian kali perbaruan desain antar muka, menurut saya ini adalah versi terbaik.

Desain Baru

Gambar di bawah merupakan tangkapan layar aplikasi Gojek terbaru. Aplikasi ini saya instal di ponsel Android saya, dengan sistem operasi Android 9.

Tentang Desain “Lama”

Banyak yang saya suka dari desain lama aplikasi ini. Tapi, sebagai pengguna yang lebih banyak menggunakan fitur layanan Gojek itu sendiri — dibandingkan dengan membaca berita, melihat highlight informasi — berikut hal yang saya nikmati fitur dan fungsinya.

Belanja di TB Murah Jaya, Tajem, Yogyakarta: Pastikan Pesanan Sudah Diambil Semua

Karena di TB Murah Jaya ini ada divisi penjualan yang berbeda, jadi pengambilan barang bisa harus ke dua tempat berbeda. Hasilnya, kalau tidak diambil langsung oleh pembeli — misal menggunakan jasa kurir–, bisa jadi barang tidak terambil semua, karena asumsinya ambil dari satu tempat/orang saja. Sebaiknya melakukan pengecekan ulang kepada kurir, memastikan bahwa kurir sudah mengambil seluruh pesanan.


Sudah beberapa kali saya membeli kebutuhan renovasi rumah atau alat-alat di Toko Besi/Bangunan Murah Jaya yang ada di daerah Tajem, Maguwoharjo. Selama ini, dari pengalaman saya, pelayanan bagus. Saya tidak ada keluhan.

Beberapa kali juga saya pesan menggunakan , lalu membayar melalui transfer , dan mengambil menggunakan jasa kurir ojek online. Semua berjalan lancar saja. Jadi, tidak ada alasan lain, walaupun secara ongkos kirim lumayan mahal juga. Bisa sampai Rp24.000. Kalau semua lancar, kenapa tidak?

Tapi, tidak kali ini…

Hari ini, saya pesan beberapa barang dengan total belanjaan sekitar Rp118.000. Setelah nota — yang jumlahnya ada dua — saya melakukan pembayaran melalui transfer bank. Pembayaran saya terkonfirmasi, lalu saya pesan kurie menggunakan Delivery.

Dalam diskusi dengan layanan konsumen, saya diberitahu bahwa “untuk pengambilan nanti ketemu dengan Mbak A dan Mas B”. Yang saya kira, ini tidak terlalu pengaruh apakah kurir ketemu dengan Mbak A, atau Mas B.

Ternyata perkiraan saya salah.

25 fundamental email issues

HEY, a new by Basecamp, has plan to solve some fundamental issues with… email. HEY has the list of fundamental issues with email. It’s a long list, but I agree with most of them.

AirAsia Indonesia Terbang Lagi untuk Beberapa Rute Domestik Mulai 19 Juni 2020

Setelah Lion Air yang membuka beberapa rute penerbangan domestik pada 10 Juni 2020 lalu, AirAsia Indonesia melakukan langkah yang sama. Beberapa rute penerbangan domestik akan dibuka mulai 19 Juni 2020.

Mengutip dari keterangan resmi dari situs AirAsia, berikut beberapa rute yang akan dilayani.

No. PenerbanganAsalTujuanBerangkatTibaFrekuensi (hari)
QZ 7520 ()Bali ()09.2512.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 7521Bali (DPS)Jakarta (CGK)12.5013.35Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 192Jakarta (CGK) (KNO)12.1014.40Senin, Rabu, Jumat, Minggu
QZ 193Medan (KNO)Jakarta (CGK)15.0517.25Senin, Rabu, Jumat, Minggu

Memang belum banyak, karena secara kebijakan dan karena perubahan standar prosedur operasional pasti banyak yang harus disesuaikan terlebih dahulu.

Rencana penerbangan saya bulan April 2020 lalu juga menggunakan maskapai ini, walaupun harus saya batalkan, dan sampai sekarang belum jelas juga status pengembalian dana karena pembatalan. Walaupun, kalau memang saya tidak eligible untuk mendapatkan refund ya tidak apa-apa, tapi status tiket kasus nomor 40585971 milik saya sampai saya tulis artikel ini juga masih “Sedang Berlangsung”.

Dear

Thomas Arie Setiawan, your happy customer
AirAsia Indonesia depart from Adistucipto Airport (JOG)

Secara prosedur, kurang lebih sama dengan bagaimana maskapai lain yang merujuk kepada Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman  Virus Disease 2019 (Covid-19).

AirAsia Indonesia sendiri telah memiliki “Panduan Terbang Bersama AirAsia Selama Masa Kewaspadaan COVID-19”, dimana penumpang (untuk penerbangan domestik) disayaratkan untuk:

  1. Menunjukkan kartu dentitas diri (KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah);
  2. Melengkapi dengan surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 3 hari atau Surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 7 hari pada saat keberangkatan, atau Surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Test PCR dan/atau Rapid-Test;
  3. Mengunduh dan mengaktifkan aplikasi Peduli Lindungi pada perangkat telepon seluler

Dengan tambahan:

  1. Mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (e-HAC) yang dapat diakses melalui aplikasi seluler e-HAC Indonesia (Android) atau http://sinkarkes.kemkes.go.id/ehac.
  2. Khusus penumpang dari/ke DKI Jakarta diharuskan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang dapat diproses di https://corona.jakarta.go.id/id/izin-keluar-masuk-jakarta#11sektor
  3. Khusus penumpang tujuan akhir Bali wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif dan mengisi formulir https://cekdiri.baliprov.go.id/
  4. Khusus penumpang tujuan akhir Lombok wajib menunjukkan hasil tes PCR (bukan rapid Test) dengan hasil negatif.
  5. Mengisi surat pernyataan AirAsia. (Surat pernyataan dapat diunduh di Google Drive dalam format PDF)

Walaupun saya belum ada rencana untuk bepergian dengan pesawat — dan sebisa mungkin menghindari bepergian jarak jauh apalagi sampai menggunakan moda umum — persyaratan perjalanan memang jauh lebih ketat. Tapi, saya lebih setuju kalau memang pesyaratan ini benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak, termasuk penumpang.

Stay safe, good !

dr. Reisa Kartikasasri Broto Asmoro

Saya mengikuti berita tentang selintas-selintas saja. Achmad “Pak Yuri” Yurianto sebagai juru bicara terkait kasus Covid-19 banyak muncul dalam pemberitaan karena beliau memang yang bertugas mengumumkan apapun terkait Covid-19. Dan apapun yang disampaikan adalah informasi resmi dari pemerintah.

Informasi paling umum ya tentu saja seperti statistik harian.

Ada yang sedikit berbeda kemarin ketika mengikuti berita — yang lagi-lagi saya ikuti dengan sekilas — tentang Covid-19. Nama dr. Reisa Broto Asmoro tiba-tiba muncul. Tak heran, karena dari sekian banyak berita, tiba-tiba saja ada sosok wanita yang ikut memberikan informasi terkait Covid-19 (di ).

Ternyata dr. Reisa Broto Asmoro ini merupakan anggota dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mendampingi Pak Yuri sebagai juru bicara.

Lion Air Group akan Terbang Lagi untuk Rute Domestik 10 Juni 2020

Group dengan maskapai Lion Air (kode penerbangan JT), Wings Air (kode penerbangan IW), (kode penerbangan ID) akan kembali beroperasi pada 10 Juni 2020. Sebelumnya, mereka mengumumkan penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Keputusan Lion Air Group dengan pertimbangan atas evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya, bahwa banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara disebabkan kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama masa kewaspadaan pandemi Virus Disease 2019 ().

Keterangan pers Lion Air terkait penghentian sementara operasional penerbangan domestik dan internasional mulai 5 Juni 2020.

Pembukaan kembali operasional pada 10 Juni 2020 tersebut didasarkan kepada pertimbangan bahwa “calon penumpang udara sudah semakin memahami serta akan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)”.

Keputusan ini juga merujuk kepada telah diterbitkannya Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selain prosedur keselamatan dan pribadi, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam penerbangan. Walaupun ini merujuk kepada rilis yang dikeluarkan oleh Lion Air, tapi saya rasa maskapai lain — dan moda masal lain seperti atau kapal kurang lebih akan sama, yaitu:

  1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Testmaka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau
  2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.Untuk itu calon penumpang Lion Air Group harus mencermati masa berlaku dari dokumen kesehatan yang digunakan.

Walaupun saya belum berencana untuk melaksanakan perjalanan ke luar kota lagi dalam waktu dekat, sepertinya hal tersebut perlu saya catat dulu sebagai rujukan. Yang pasti, memang tidak akan sesederhana dan sefleksibel sebelum era Covid-19.

Dan, tentu saja meluangkan waktu lebih lama untuk tiba di , karena adanya prosedur-prosedur baru yang mengakibatkan proses persiapan pemberangkatan penumpang menjadi lebih lama.

Stay safe, everyone!

Siap Kembali ke Normal Lagi?

Karena kebijakan yang melonggarkan aturan terkait pembatasan sosial, yang entah dengan parameter atau pertimbangan yang mana — mungkin pertimbangan ekonomi adalah faktor utamanya — sepertinya suka atau tidak tinggal bagaimana masyarakat menyikapinya.

Sulit sebenarnya untuk tidak membandingkan bagaimana penanganan pandemi di Indonesia dengan negara lain. Memang sih, ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu dibanding-bandingkan. Tapi, karena ini sifatnya global, agak sulit untuk tidak membandingkan.

Dua hari lalu, Selandia Baru mengumumkan untuk membuka diri dengan lebih luas. sejak mereka melakukan lockdown mulai 25 Maret 2020 lalu. Negara ini menurunkan sistem peringatan menjadi Tingkat 1 (Level 1) dari standar peringatan Tingkat 4 dari yang mereka punya.

Kegiatan ekonomi mulai berjalan dengan normal, tidak ada jaga jarak. Mungkin bisa dibilang mendekati normal.

Tapi, semua itu dilakukan setelah lebih dari dua minggu tidak ditemukan kasus positif baru Covid-19.

While we’re in a safer, stronger position, there’s still no easy back to pre-Covid life, but the determination and focus we have had on our health response will now be vested in our economic rebuild.

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru

Melihat dan berita tentang Selandia Baru, rasanya kok senang ya. Walaupun, itu tidak terjadi di negara tercinta ini. Ada kepedulian dari negara, ada peran serta masyarakat yang begitu terasa. Suka saja gitu.

Kembali ke Indonesia…

Grafik penambahan kasus per hari sepertinya belum ada terlihat menurun atau melandai. Yang ada, malah tambah banyak. Di saat sudah mulai digadang-gadang untuk memasuki normal baru, pada 9 Juni 2020 jumlah kasus terkonfirmasi malah menunjukan angka tertinggi, 1.043 kasus.

Tentu saja, kondisi Selandia Baru tidak begitu saja dijadikan benchmark. Demografi berbeda, jumlah penduduk berbeda, pemahaman tentang dan sanitasi juga berbeda, kebijakan politik berbeda, dan masih banyak “berbeda” yang lainnya.

Tidak semua orang memiliki kemewahan yang sama untuk dapat bekerja dari rumah. Bahkan, mungkin jumlah orang yang benar-benar bisa berada di rumah, dengan segala macam kebutuhan hidup “terkirim ke rumah” juga jumlahnya lebih banyak.

Kantor mulai buka walaupun terbatas. Tempat publik yang memicu keramaian, juga mulai dibuka, dengan protokol yang ada yang keberhasilannya ditentukan oleh masyarakat sendiri.

Menurut saya, siap atau tidak seiap dengan “normal baru” ini lebih kepada bagaimana kita mengelola risiko. Kalau dirasa ada risiko yang cukup besar, tentu hal yang bijaksana adalah bagaimana kita menghindari atau meminimalkan dengan sebaik-bainya.

Kalau memang tidak harus bepergian, untuk keperluan yang benar-benar penting, mungkin bisa dibatalkan, atau dikelola waktunya — jika waktu bisa lebih fleksibel. Saya beberapa minggu lalu juga kadang masih harus ke supermarket. Tapi, waktunya saya kondisikan ketika di jam-jam tidak sibuk. Tentu saja, bersyukur karena memiliki fleksibilitas itu.

Jangan sampai Malioboro ditutup

Jangan sampai () saya tutup, jangan sampai terjadi Covid kedua, itu harus kita hindari. Jadi saya minta kesadaran mereka yang ada di Malioboro.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, tentang aktivitas warga yang berkumpul (terutama di kawasan Malioboro) tanpa masker. (Sumber: Kompas)

Jaga Jarak di Kawasan Malioboro Menjelang Normal Baru

Hari minggu lalu, beredar informasi (termasuk foto dan ) bagaimana ramainya aktivitas manusia di kawasan , terutama kawasan titik nol kilometer. Rencana mulai dilaksanakannya era “normal baru” disikapi dengan beragam cara. Salah satunya: keluar rumah.

Dua bulan lebih dalam pembatasan gerak dan aktivitas khusunya di luar rumah tentu saja tidak mudah. Sementara penambahan kasus positif juga belum mengalami penurunan yang signifikan — dan malah sebaliknya — tapi memperpanjang pembatasan sosial juga sepertinya bukan dipandang menjadi opsi terbaik.

Pertengahan minggu lalu (awal Juni 2020), setelah dua bulan lebih tidak ke lokasi yang jauh dari rumah, saya mencoba untuk melihat di waktu malam. Tidak malam banget, karena saat itu baru sekitar pukul 18.30 WIB. Malam itu, saya mengendarai mobil.

Kawasan Jalan Magelang terlihat cukup ramai. Lalu lintas kendaraan tidak bisa dikatakan sepi juga. Pemandangan yang kurang lebih sama — bahkan seperitnya mlaah lebih ramai — ketika mendekati dari arah barat, ketika di lampu merah, saya melihat cukup banyak pesepeda yang berdiri sambil mengambil foto di salah satu ikon kota ini.

Masker? Walaupun tidak menghitung secara detail, tapi sekilas yang tidak pakai masker cukup banyak. Beberapa tempat makan atau nongkrong juga buka. Tak terlihat terlalu ramai memang, tapi buka.

Gerobak angkringan beberapa juga telah buka, dan saya lihat juga ada yang beli. Walaupun, tetap juga ada yang tidak pakai masker. Jaga jarak (social distancing)? Sepertinya tidak sepenuhnya terjadi.

Saya kemudian menuju arah selatan ke Jalan Mangkubumi. Warung-warung pinggir jalan sudah ada yang buka. Orang berjalan kaki, atau bersepeda ada juga malam ini. Atau, sekadar duduk-duduk, ada juga.

Beberapa toko di sisi barat Malioboro terlihat buka, walaupun cenderung sepi pengunjung. Sedih juga melihatnya, tapi bagaimana lagi kondisi memang sangat tidak mudah saat ini. Beberapa orang terlihat berjalan di area pejalan kaki pedestrian yang menurut saya memang sudah tertata dengan jauh lebih baik. Beberapa orang terlihat duduk di bangku yang disediakan. Ada yang menjaga jarak, tapi tak sedikit yang sepertinya tidak mengindahkan konsep jaga jarak.

Ada tukang parkit yang mengarahkan kendaraan untuk masuk area parkir ketika saya mendekati area mal Malioboro. Cukup banyak orang juga di sana. Pemandangan yang kurang lebih sama saya lihat di sepanjang jalan Malioboro sampai ujung selatan. Oh ya, Mirota Batik yang biasanya ramai, malam itu terlihat agak gelap.

Ada perasaan yang berbeda malam itu. Sedih juga, karena aktivitas sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Malioboro terlihat jauh lebih sepi. Murung.

Kawasan titik nol kilometer yang biasanya sangat ramai, malam itu terlihat… cukup ramai. Tidak bisa dikatakan sepi juga, karena cukup banyak orang yang duduk-duduk di bangku. Beberapa bermain sepeda, atau sekadar foto-foto. Area di depan Museum 1 Maret malam itu mungkin seperti “sepi versi hari biasa”. Begitu juga di kawasan seberangnya, di seberang gedung . Kuran glebih sama.

Masih tentang apakah pada pakai masker dan melaksanakan konsep jaga jarak? Sepertinya tidak terlalu terlihat mencolok. Bangku yang biasanya diduduki oleh dua orang, tetap saja diduduki dua orang, dengan jarak rapat.

Dari titik nol, saya berbelok ke arah kiri. Terlihat jauh lebih sepi sampai dengan depan Taman Pintar.

Saya sudah cukup melihat, dan memutuskan untuk pulang kembali ke ruamh di sisi utara Yogyakarta.

Semoga saja kesadaran untuk tetap melaksanakan prinsip-prinsip dasar perilaku sehat seperti menjaga jarak, dan menggunakan masker pada kondisi harus menggunakan makin dilaksanakan saja.

Berhenti Berlangganan Netflix

Bulan ini, saya memutuskan untuk menghentikan (sementara) layanan setelah sekitar lebih dari satu tahun masa berlangganan saya. Beruntung juga, akses ke Netflix menggunakan koneksi di rumah lancar dan tidak terblokir. Alasannya sebenernya cukup sederhana: saya tidak punya waktu, dan sayang saja harus membayar sesuatu yang jarang sekali saya gunakan.

Dalam periode hampir tiga bulan berada di rumah karena pandemi ini, dalam satu minggu bahkan saya sepertinya tidak pernah mengakses Netflix sama sekali. Saya lebih sering membuka , atau .

Walaupun jarang, tapi akses ke Apple TV+ yang saya aktifkan setelah membeli iPad Pro beberapa bulan lalu ternyata cukup lumayan. Tapi, dasar saya memang jarang menonton juga, jadi akses ke TV+ sebenarnya juga tidak terlalu saya manfaatkan.

Melihat update dari beberapa orang di kanal mengenai atau serial terbaru di Netflix, sepertinya menarik. Tapi, waktu benar-benar hampir tersita banyak untuk aktivitas di rumah yang mungkin lebih penting. Mau nonton malam? Rasanya sudah capek saja.

Jadi, sementara ini, sepertinya Netflix harus berhenti dulu. Mungkin nanti akan berlangganan lagi.