Fourth year: LastPass

This month, I renewed my subscription for the next twelve months. This time, LastPass does not increase its subscription price. It’s still US$36/year.

I am still pretty happy with it. I was thinking of cheaper solution that offers similar , but for know, I could not find one.

So, let’s stick to it for now.

Belanja Melalui Alfacart dari Alfamidi

Setelah mencoba belanja melalui layanan antar KlikIndomaret beberapa kali berjalan dengan baik, saya sekalian mencoba layanan sejenis. Kali ini, Alfacart dari Alfamart. Selain dengan , produk-produk dari Alfacart ini juga berasal dari Alfamidi.

Kebetulan, gerai Alfamart dan Alfamidi juga tidak jauh dari tempat tinggal saya. Jadi, ada lagi alasan untuk mencobanya.

Belanja dan Pengantaran

Walaupun tidak membandingkan secara detil, tapi ketersediaan produk di Alfacart ini serasa lebih lengkap. Tentu saja, kalau gerai dibandingkan dengan Alfamidi, tentu Alfamidi — karena selayaknya supermarket — memiliki produk yang lebi lengkap.

Saya juga berbelanja melalui aplikasi Alfacart untuk .

Tidak ada yang begitu istimewa, seluruh fungsi untuk mendapatkan pengalaman belanja juga tersedia. Kalau di pilihan pembayaran saya menggunakan transfer melalui Virtual , di Alfacart ada pilihan pembayaran menggunakan . Kalau belanja langsung di Alfamidi, GoPay selalu menjadi pilihan pembayaran. Mudah, cepat, dan non tunai.

Saya tidak tahu apakah ada faktor tertentu yang memengaruhi kecepatan pengiriman. Dalam pengalaman saya pemesanan di hari Minggu, pukul 13:15 WIB pesanan sampai ke rumah sekitar pukul 15:30 WIB. Menurut saya, ini tidak mengecewakan sama sekali. Apalagi memang tidak terlalu terburu-buru.

Saya dibebaskan dari biaya pengiriman untuk transaksi sebesar Rp128.000,- setelah dipotong diskon.

Not bad at all…

GitHub Free

GitHub core features are now free for everyone.

Why Using Zoom?

Why?

Zoom Is a Nightmare. So Why Is Everyone Still Using It? — Dengan begitu banyaknya kontroversi, terutama mengenai isu keamanan dari aplikasi Zoom, mengapa banyak orang masih menggunakannya? Ulasan yang menarik.

Alternatif Wunderlist

Saya lupa kapan pertama kali menggunakan aplikasi task management Wunderlist. Sepertinya sebelum Wunderlist diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2015. Yang pasti, Wunderlist ini salah satu aplikasi favorit saya untuk task management pripadi. Bahkan, untuk kolaborasi juga fitur sangat mencukupi.

Sejak diakuisisi , tak banyak yang berubah. Microsoft sendiri sudah punya aplikasi sejenis, yaitu Microsoft To Do. Di akhir 2019, Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan ‘mematikan’ aplikasi Wunderlist pada Mei 2020, dan mengarahkan seluruh pengguna untuk berpindah ke To Do.

Masalahnya — menurut saya — To Do ini tak sebaik Wunderlist. Antar muka membingungkan dan sinkronisasi yang kurang berjalan baik menjadi alasan kenapa saya kurang menyukainya.

Christian Reber, sebagai pendiri Wunderlist sendiri sempat berencana untuk membeli kembali Wunderlist, sehingga Wunderlist tidak perlu dimatikan.

Namun, sepertinya langkah tersebut kurang berhasil. Hari ini, Microsoft mengirimkan pengingat kembali ke pengguna Wunderlist untuk berpindah ke Microsoft To Do sebelum 6 Mei 2020.

Sebagai pengganti, saat ini saya tidak memilih To Do. Ada cukup banyak pilihan tapi, untuk sekarang, saya cukup puas dengan Tick TickTick.

KlikIndomaret

Sudah lama saya tahu dan menginstal aplikasi di ponsel saya, namun baru beberapa minggu lalu saya benar-benar melakukan transaksi. Walaupun bisa dikatakan hampir tiap hari lewat gerai (dan tidak hanya satu), dan cukup sering juga mampir, namun belum terlalu tertarik untuk mencoba secara daring.

Sampai akhirnya, karena lebih baik baik berada di rumah, saya mencoba KlikIndomaret ini. Secara singkat: aplikasi ini secara umum membantu sekali!

Seperti layaknya aplikasi belanja, seluruh fitur utama untuk berbelanja secara daring tersedia semua. Saya sendiri “diarahkan” ke Indomaret yang terdekat dengan lokasi saya.

Proses pertama belanja, saya dikenakan biaya pengiriman sebesar Rp5.000,- — yang menurut saya murah dibandingkan dengan saya harus keluar rumah. Seluruh proses mulai dari pembayaran sampai dengan kurir sampai di rumah juga cukup cepat. Saat itu mungkin kurang dari dua jam.

Karena pengalaman yang baik, saya coba lagi. Bedanya, kali ini ada barang yang ternyata stok tidak ada. Padahal saya sudah terlanjur bayar semua. Dalam kasus saya, saya di telepon oleh (mungkin) pegawai yang menyiapkan order saya, dan diinformasikan bahwa ada barang yang tidak ada, jadi uang saya sebesar nilai produk akan dikembalikan ke saya secara tunai.

Soal harga, semua tertera dengan jelas. Walaupun harga barang di Indomaret tidak selalu lebih murah, tapi paling tidak nominal tertera jelas.

Terakhir kali pesan, saya mendapatkan layanan pengiriman ekpress karena total belanjaan diatas Rp150.000. Jadi, semua pesanan saya datang kurang dari satu jam, dan bebas biaya antar!

Entah seberapa besar efek dari himbauan mengurangi bepergian terhadap kecepatan pengiriman di KlikIndomaret ini. Tapi, kalau tidak terburu-buru sekali, ini jadi pilihan yang cocok.

Rutinitas Baru dan Tidak Begitu Baru

Berada di rumah hampir dua puluh empat jam sehari, selama tiga minggu berturut-turut ini jelas mengubah kebiasaan sehari-hari. Bahkan, kebiasaan baru juga akhirnya muncul. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa “apabila sesuatu dilakukan secara terus menerus tanpa henti selama 21 hari, maka dia akan menjadi sebuah kebiasaan baru“, mungkin ada benarnya juga.

Pola Rutin

Yang pasti, bangun lebih pagi. Apalagi setelah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bangun setiap hari sekitar pukul 05.30-06.00. Begitu bangun, beberes bentar, lalu ke dapur. Kalau hari kerja, biasanya sebelum jam 09.00 beberapa rutinitas pagi — berdua bersama istri — sudah harus beres seperti: memandikan bayi, bikin sarapan buat bayi dilanjut menyuapi, buka korden di lantai bawah, buka jendela kamar, masak, bikin teh, sarapan, menyapu, dan mandi.

Sesiangan aktivitas seperti biasa dan dibagai sama istri. Kalau siang mungkin cukup normal saja. Paling beli dari tukang sayur yang lewat — kalau ada yang mau dibeli — atau pesan dari warung sembako depan untuk kebutuhan harian. Saya sendiri akan banyak di depan komputer karena memang bekerja. Walaupun, kadang pas jam makan siang atau istirahat bentar saya kadang saya pakai untuk kegiatan di dapur seperti mencuci atau bahkan memasak untuk makan siang. Memasaknya yang sederhana saja tentunya.

Menjelang sore dan jam bekerja, lanjut dengan memandikan bayi, bikin makan malam, memasak (kadang jika pas ingin masak), mandi, makan malam, dan akan berlanjut agak malam. Biasanya ditutup dengan melipat cucian, membersihkan semua cucian di dapur, dan pel lantai.

Kadang, ada juga kegiatan lain, yang kebanyakan adalah tentang beberesih dan merapikan rumah. So far so good, I guess.

Aktivitas di atas sebenarnya tidak terlalu berubah dari biasanya. Bedanya, cuma tidak ada asisten rumah tangga saja yang dulu ikut kebanyakan memang untuk baby sitting jika diperlukan, walaupun ikut bebersih juga.

Belanja

COVID-19 dan yang Terdekat

Puji Tuhan, sampai dengan hari ini diberi . Membaca perkembangan melalui media daring di dunia, khususnya di makin hari kok rasanya makin mengkhawatirkan. Saya bukannya tidak optimis bahwa wabah ini akan segera selesai, tapi bagaimana menyikapi kok sepertinya sangat jauh dari harapan ya…

Sejak wabah ini muncul di pemberitaaan, apa kata pejabat di pemerintahan? Seorang menteri kesehatan di republik ini saja berkomentar yang secara impresi memperlihatkan ketidakseriusannya. Entah apa motifnya. Menghindari kepanikan? Mungkin. Karena memang tidak tahu? Entah. Terkesan sombong? Tidak tahu juga.

Tentu saya memiliki kekhawatiran. Apalagi, beberapa kerabat dekat saya juga suka tidak suka akan berada dalam kondisi yang memiliki risiko.

Adik saya, bekerja di salah satu rumah sakit swasta di . Adik saya yang lainnya — cowok, dulu sekolah di keperawatan — sebelum wabah ini makin besar bekerja memeriksa kesehatan pengemudi truk yang melintas pada pagi hari di area pinggir propinsi.

Tante saya, punya sebuah di daerah bagian timur. Dimana kliniknya juga melayani beberapa pasien jika memang perlu rawat inap. Beberapa teman sekolah juga ada yang menjadi dokter dan bidan di luar Pulau Jawa. Ada teman dalam kumpulan yang bekerja di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19.

Saya kenal dengan mereka. Dan, saya yakin lebih banyak orang yang memiliki kondisi yang jauh lebih tidak mengenakkan dari saya.

Tetap sehat, kalian semua.

Tiga Minggu Bekerja dari Rumah. Apa Kabar?

Tiga minggu sudah aktivitas untuk berada di rumah dalam menerapkan social distancing saya jalani, sebagai salah satu usaha untuk mengindari persebaran . Walaupun konsep bekerja dari rumah (work from home) atau bekerja jarak jauh (remote working) sudah bukan hal baru, namun kali ini sangat berbeda.

Alih-alih bekerja dari rumah, yang sering terjadi justru ini adalah momen “berada di rumah, dan berusaha kerja”, karena kondisinya memang ‘tidak seperti biasanya’. Ruang gerak terbatas, mobilitas juga terbatas. Apalagi, tetap berada di rumah dengan mengurangi sekali interaksi sosial secara fisik.

Bagi saya yang suka dengan interaksi sosial, yang merasa energized jika bertemu orang atau berada di luar rumah, ini tidak mudah.

Bekerja

Saya cukup beruntung karena memiliki priviledge untuk dapat bekerja dari rumah, atau pekerjaan saya memang bisa dikerjakan secara jarak jauh, tidak selalu perlu bertatap muka. Sedih rasanya, karena bekerja bagi orang lain tidak semudah itu — dan setiba-tiba itu — digantikan dengan konsep bekerja dari rumah.

Bekerja dengan sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya. Itu konsepnya. Namun, di saat yang sama banyak sektor usaha yang terpengaruh karena wabah COVID-19. Yang artinya, ini bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja.

Pengembalian Dana (Refund) AirAsia Indonesia

Saya suka terbang bersama dengan . Ketika di harga tiket juga mengalami lonjakan, sampai AirAsia akhirnya memilih untuk meninggalkan layanan OTA (Online Travel Agent), dengan senang hati saya memesan langsung melalui situsnya (kadang juga melalui aplikasi mobile).

Hari Sabtu tanggal 7 Maret 2020 dari menuju adalah penerbangan saya yang terakhir bersama . Saat itu, penerbangan berjalan dengan sangat baik. Saya tidak mengeluh sama sekali.

Rencananya, tanggal 15 Maret 2020 saya akan terbang bersama dengan satu rekan kerja ke Jakarta — dari Jogjakarta — dan pulang tanggal 17 Maret 2020 dengan AirAsia Indonesia. Lagi-lagi, karena saya memang puas dengan layanan yang diberikan, dan karena jadwal yang kebetulan sesuai.

Tapi, penerbangan harus dibatalkan, karena saya memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas perjalanan karena perkembangan pandemi yang tidak membaik, bahkan sebaliknya.

Saya melakukan proses pengajuan pengembalian dana melalui mekanisme yang ada. Walaupun, sampai sekarang memang belum ada perkembangan yang berarti.

Pengembalian akan dikreditkan dengan cara yang sama dengan metode pembayaran yang digunakan untuk memesan.

Status terakhir pada halaman pencatatan kasus.

Membuka Remote AC yang Terkunci

Karena remote AC kadang bisa menjadi mainan bocah, jadilah AC bisa dalam kondisi yang semau bocah juga. Mengaktifkan penguncian fungsi remote AC menjadi pilihan yang paling masuk akal. AC yang saya gunakan di rumah adalah AC dengan merek Gree. Untuk menguncinya, cukup tekan tombol + dan - yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan temperatur. Ini bisa dilakukan saat AC menyala atau mati.

Untuk membuka kunci, lakukan langkah yang sama di remote, selain bisa dengan cara melepas batere dan memasangnya kembali. Tapi, menekan tombol + dan - sepertinya lebih mudah.