Kucing

Kalau ditanya tentang apakah saya punya binatang piaraan, untuk saat ini tidak. Dulu, sewaktu kecil saya memang pernah punya beberapa. Kucing, ayam (ini piaraan atau ternak ya?), burung merpati, anjing, burung betet, dan juga ikan. Mungkin karena terlalu takut malah tidak bisa merawat, saya memutuskan untuk tidak memilikinya.

Minggu lalu, ketika saya ke , saya tetiba teringat tentang binatang piaraan yang saya ceritakan diatas. Namun, saya tidak ingin membicarakan tentang binatang piaraan saya waktu itu. Saya justru tertarik untuk menceritakan sepotong cerita pada suatu pagi dan juga malam di hari yang sama, di salah satu sudut kota Jakarta.

Sewaktu saya pulang menjelang siang dari salah satu gedung di kawasan Jakarta Pusat, saya saat itu memutuskan untuk pulang dengan terlebih dahulu melintasi jembatan penyeberangan. Tidak ada yang istimewa. Saat saya hendak mulai berjalan naik, saya melihat ada seorang pemuda (saya perkirakan mungkin usia 22 tahun) yang duduk bersimpuh membelakangi saya.  Ketika saya berjalan mendekat, ternyata pemuda tersebut juga ikut berdiri. Tidak membawa tas, mengenakan kaos berwarna putih, dengan celana panjang yang agak tanggung. Dia memakai sandal.

Barulah saya mengetahui dengan jelas apa yang dia sedang kerjakan. Ternyata, dia duduk bersimpuh karena baru saja memberi makan seekor kucing. Ketika dia mulai berjalan meninggalkan, saya mendapati pemandangan bahwa seekor kucing sedang makan dengan lahap.

Saya berhenti sejenak. Entah kenapa pagi itu saya memutuskan berhenti. Melihat kucing tersebut makan. Tanpa alasan yang jelas, saya merasa senang. Ya, senang saja begitu melihatnya. Kucing tersebut sepertinya memang tidak terlalu memedulikan kehadiran saya. Saya berdiri agak menjauh, karena saya tidak ingin mengganggu.

Saya merasa cukup memandangi apa yang saya lihat. Saya lanjutkan perjalanan. Pemuda itu — entah siapa namanya — masih berjalan menyeberang. Saya berjalan mengikuti dari belakang. Bungkus plastik yang digunakan sebagai tempat lauk kucing tadi masih dibawa dengan tangan kanannya. Saya ikuti sampai seberang. Ketika turun dari jembatan penyeberangan, tangannya mengayun membuang plastik sisa di sebuah tempat sampah.

Bagi saya, pemandangan dari ujung jembatan penyeberangan ke ujung satunya pagi itu keren sekali. Dan, saya merasa senang saja tanpa alasan yang jelas. Mungkin itu kali  ya yang dinamakan “cute aggression”.

Malam harinya, saya kembali lagi melewati jembatan tersebut dengan rute yang sama. Ketika hendak mulai menaiki jembatan penyeberangan, saya dengar dengan lirih suara mengeong. Ah, ternyata kucing yang tadi pagi.

Dia berjalan pelan mengikuti saya. Saya berhenti sejenak, dan dia tetap berjalan mendekati saya. Awalnya, saya dekatkan sepatu saya. Ternyata dia bergerak menggesek-gesekkan kepalanya ke sepatu. Entah kenapa, akhirnya saya berhenti sejenak, membiarkan kucing itu “asyik” dengan sepatu saya.

IMG_1763

Sebenarnya, malam itu saya cukup lelah. Mungkin ditambah fakta bahwa baru saja mengkonfirmasi tentang hilangnya sebuah iPad milik saya. Tapi, dalam periode waktu sekian menit, saya merasa senang. Dan, saya tidak pernah menyesali waktu beberapa menit yang saya habiskan untuk melanjutkan untuk bermain-main dengan kucing tersebut.

IMG_1768

Saya tidak terlalu memedulikan sekitar saya saat itu. Saya turunkan tas, sedikit berjongkok dan memberikan tangan saya. Mungkin malam itu, kucing yang saya temui sedang sedikit ingin bermain. Seingat saya, memang kucing suka jika lehernya dielus-elus. Ketika saya elus-elus lehernya, dia memanjangkan lehernya sambil merem, dan menjatuhkan kepalanya ke telapak tangan saya. Ini berlangsung sampai beberapa saat berikutnya.

Bahkan, ketika tangan saya makin saya turunkan, dia malah menggeletak.

Tapi, mungkin waktu bermain harus saya sudahi. Saya lepaskan tangan saya, mulai berdiri. Rasanya saat itu, walaupun jalanan cukup ramai, banyak orang berlalu lalang, saya merasa tenang.

Senang.

Kehilangan iPad

Hampir setahun lalu, saya sempat sesaat kehilangan salah satu piranti bergerak milik saya. Sebuah . Keberuntungan dan kebaikan seseorang telah berpihak kepada saya saat itu. Tidak jadi hilang, dan kembali ke tangan saya tanpa kurang satu apapun.

Namun, keberuntungan memang tidak bisa dipaksakan. Dua hari lalu, iPad tersebut hilang. Sampai saat ini memang status hilang, dan memang ada harapan bahwa akan bisa saya dapatkan kembali. Sebuah iPad generasi ke-tiga Retina Display, warna putih, 64 GB.

Akhir Februari ini kebetulan harus ke untuk urusan pekerjaan. Seperti biasa, saya tidak ingin terlalu repot dengan barang bawaan. Yang tidak biasa adalah saya memutuskan untuk membawa juga tas kecil yang ingin saya gunakan untuk membawa barang khususnya barang . Atau, sebut saja barang yang akan sering keluar masuk tas.

Setelah terbang dari dan mendarat di Jakarta, semua masih baik-baik saja. Saya lanjutkan dengan melanjutkan agenda (langsung dari Soekarno-Hatta), langsung menuju ke Wisma 46 di Sudirman. Tempat meeting cukup santai. Di sebuah gerai Dunkin’ Donuts┬ásekitar pukul 15.00-17.00. Saya memang tidak sempat mengeluarkan iPad saya dari tas. Saya cuma pegang iPhone dan ponsel saya yang lain.

Setelah selesai meeting, berpindah tempat untuk makan malam di Bakmi Permata, masih di kawasan Wisma BNI 46. Cukup singkat. Sekitar pukul 18.15, kami pulang.

Dari tempat tersebut, saya melanjutkan perjalanan ke daerah Senopati, Jakarta Selatan untuk acara yang lain. Bertemu dengan beberapa rekan kerja sewaktu saya kerja di Jakarta beberapa tahun lalu. Ketika akan pulang, barulah saya menyadari kalau tas kecil tersebut sudah tidak bersama saya lagi.

Ada keinginan untuk langsung kembali ke tempat semula. Tapi, jalanan macet dan waktu sudah cukup malam. Ditambah saya sendiri sudah terlalu capek. Saya urungkan niat saya. Saya sempatkan mengecek melalui Find My iPhone. Tidak terdeteksi. Dan, saya baru ingat memang iPad masih dalam kondisi Airplane Mode. Saya coba kirim pesan dan notifikasi, dan mengubah status menjadi “Lost Mode”. Agak sulit memang, karena iPad saya memang tidak sedang terhubung dengan .

iPad_lost_photo

Saya putuskan untuk mencoba keberuntungan saya pada pagi harinya. Sekitar pukul 10.00 pagi hari Sabtu, 1 Maret 2014 saya kembali ke Wisma BNI 46. Tujuan pertama saya ke restoran Bakmi Keriting Permata. Saya bertemu dengan beberapa pegawai disana. Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, saya mendapatkan jawaban bahwa barang yang saya cari tidak ada.

Saya coba kembali ke Dunkin’ Donuts. Kebetulan, salah satu pegawai yang bertugas pagi itu adalah pegawai di hari sebelumnya. Saya masih sangat akrab dengan wajahnya. Saya sampaikan tentang keperluan saya, dan saya mendapatkan kabar baik. Kurang lebih begini percakapannya.

S (Saya): “Pagi, Mbak. Kemarin sore sekitar pukul 15.00 saya kesini. Apakah ada barang tertinggal berupa tas kecil berwarna hitam?”
P (Pegawai Dunkin’): “Sebentar saya cek dulu. Kemarin sih memang katanya ada tas ketinggalan”
S: “Wah, kalau begitu, minta bantuannya ya, Mbak…”
P: (Setelah mencoba memeriksa ke ruangan belakang) “Maaf, untuk lemari dikunci dan dibawa yang lain. Coba tinggalkan nomor telepon saja, nanti kami hubungi…”

Saya tuliskan nomor telepon saya, mengucapkan terima kasih, dan meninggalkan tempat itu.

Saya menaruh harapan bahwa saya akan dihubungi. Dan, saya menunggu.

Menunggu…

Sampai akhirnya, sekitar pukul 19.00, tidak ada juga pesan masuk ke ponsel saya (dan tak ada panggilan masuk ke ponsel). Saya putuskan untuk menguji keberuntungan saya kembali dengan pergi ke Wisma BNI 46 untuk ketiga kalinya.

Saya tetap kembali menanyakan ke kedua tempat tersebut. Di restoran Bakmi Keriting Permata saya mendapatkan jawaban yang sama (dan saya mendapat jawaban dari orang yang berbeda dari yang saya temui pertama kali). Di Dunkin’ Donuts, saya bertemu dengan salah satu petugas di kasir. Petugas yang satu (wanita) masih ada disana. Setelah obrolan, ternyata:

  • Benar bahwa ada tas tertinggal, TAPI sudah diambil oleh pemiliknya.
  • Tas tersebut agak berbeda dengan milik saya setelah saya deskripsikan.
  • Saat itu, sudah tidak ada barang lain yang tertinggal.

Dan, sepertinya peluang untuk ketemu semakin kecil saja. Atau bahkan tidak mungkin. Ya, sudahlah.

Hal seperti ini memang jadi agak rumit. Yang saya bisa lakukan adalah memercayai apa yang disampaikan oleh orang dimana saya bisa berharap mendapatkan informasi/barang saya kembali. Saya sudah usaha, tapi mungkin usaha saya sudah cukup untuk saat ini.

Terakhir, saya cuma pantau melalui . Oh ya, jadi yang hilang dalam tas itu (setelah saya menyadari kembali):

  • iPad 3 warna putih, 64 GB, beserta dengan charger.
  • Boneka Danbo
  • 1 kabel charger R819

Kalau mencoba memikirkan tentang kondisinya, ada kemungkinan:

  • iPad tertinggal di Dunkin’ Donuts/restoran Bakmi Keriting Permata, ditemukan oleh pengunjung dan dibawa.
  • iPad tertinggal di Dunkin’ Donuts/restoran Bakmi Keriting Permata, ditemukan oleh petugas, namun tidak dibagikan informasinya ke petugas lain.
  • iPad dibawa orang, tapi tidak diapa-apain, tetap dalam Airplane Mode.
  • iPad dibawa orang, sudah di-wipe dan seluruhnya.

Sedih? Iya. Tapi, ya sudahlah. Semoga bermanfaat bagi yang menemukan. :)