Pengalaman Menyewa Safe Deposit Box (di bank)

Sekitar akhir tahun 2012 lalu, saya memutuskan untuk melakukan penyewaan (SDB) di salah satu di . Ini memang antara penting dan tidak penting. Ah, toh hanya berkas dan yang bisa disimpan di rumah. Salah satu alasan saya adalah pengalaman ketika ada bencana alam gempa di Jogjakarta tahun 2006 yang lalu. Bagaimana pada akhirnya, banyak surat-surat berharga dan properti lain yang cukup penting akhirnya harus rusak dan hilang. Apakah dengan disimpan di Safe Deposit Box akan sepenuhnya aman? Saya rasa, paling tidak lebih aman daripada disimpan di rumah.

Untuk membuka/menyewa Safe Deposit Box, pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi ke beberapa bank. Saya cari informasi secara umum seperti berapa biaya sewa, besar/ukuran yang tersedia, dan mekanismenya. Selain harga yang cukup bervariasi (dan tidak terpaut jauh), ternyata untuk syarat dan mekanisme juga relatif sama.

8206371651sdb
Ilustrasi gambar safe deposit box

Kebetulan saat saya mencari informasi, saya memiliki rekening di beberapa bank. Ada beberapa bank yang ternyata tidak memiliki SDB yang tersedia. Akhirnya, keputusan saya jatuh ke DIY. Berikut beberapa hal seputar pengalaman membuka SDB di Bank DIY.

Jadi, bagaimana tempat/suasana kerja yang seharusnya?

Sekitar dua tahun lalu, saya pertama kali melihat salah satu episode TED Talks, dengan pembicara Jason Fried, founder dari 37signals. Jika belum pernah mendengar 37signals, ini adalah sebuah perusahaan teknologi dengan produk yang populer, salah satunya adalah Basecamp — sebuah layanan untuk mengatur sebuah pengaturan proyek (project management).

Walaupun sudah lama, tapi mungkin baru satu atau dua tahun ini saya semakin masuk ke dalam apa yang disampaikan dalam episode tersebut. Padahal, tersebut sudah dirilis akhir tahun 2010 yang lalu. Ya, hampir tiga tahun lalu! Tapi, semuanya terasa sangat relevan sampai saat ini. Paling tidak, untuk saya dan hal-hal yang terkait dengan keseharian pekerjaan atau lingkungan pekerjaan saat ini, maupun sebelumnya.

Oh ya, jika belum melihat videonya, silakan meluangkan waktu untuk melihatnya.

Jika ingin melihat dengan terjemahan Bahasa , bisa melihat juga langsung di situs TED. Dalam video tersebut, secara garis besar menyoroti tentang bagaimana sebuah ekosistem pekerjaan berjalan. Tentang pentingnya kantor, bagaimana pegawai/karyawan bekerja, dan beberapa hal yang mungkin bisa jadi pertimbangan dalam menciptakan sebuah kultur pekerjaan yang produktif. Muaranya, pada kelangsungan bisnis, pekerjaan, dan ekosistem orang-orang didalamnya. Menarik. Hal lain lagi dan yang terus dibicarakan adalah bahwa pekerjaan bisa dilakukan dimana saja. Terdengar tidak asing?

Bulan Febuari 2013 yang lalu, Marissa Mayer, CEO dari membuat keputusan yang bertentangan dengan konsep Jason Fried. Marissa justru memberlakukan aturan bagi pekerja untuk bekerja di kantor Yahoo!. Ada yang bilang bahwa ini adalah keputusan yang tepat, tapi ada juga yang melihat bahwa ini keputusan yang sebaiknya tidak dilakukan. Lalu, siapa yang benar?

Get Work Done

Is the Office Really the Best Place to Get Work Done? — This might be a long discussion. But, I personally think that everyone should create his/her working moments.

Pesawat Baru Garuda Indonesia Boeing 777-300 ER

Bisa dikatakan saya sangat jarang menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Pertama, mungkin karena alasan harga yang sedikit lebih tinggi dibanding dengan maskapai penerbangan lainnya untuk rute yang sering saya ambil dalam perjalanan baik urusan yang kebanyakan terkait pekerjaan.

Walaupun memang, harga kadang bukan menjadi satu-satunya faktor. Tak jarang juga, saya lebih memilih ketika ada selisih beberapa ratus ribu dengan maskapai lainnya seperti Air Asia, atau — dan juga sebelumnya Batavia Air. Alasan utama karena kenyamanan. Cuma ya mungkin karena rute cuma pendek, jadi tidak begitu berpengaruh juga sih.

Perjalanan terjauh saya dengan Garuda adalah sewaktu saya ke Hong Kong dua tahun lalu. Perjalanan yang menyenangkan. Oh ya, pernah juga saya harus membatalkan salah satu penerbangan dari ke dengan menggunakan maskapai ini. Tapi, saat itu memang karena ada urusan pekerjaan mendadak, padahal saya sudah sempat melakukan check-in, dan sudah siap berangkat menuju .

Beberapa waktu lalu, sewaktu berselancar di YouTube, saya menemukan sebuah tentang baru milik maskapai penerbangan yang beroperasi sejak tahun 1949 ini. Pesawat buatan Boeing seri 777-300ER. Video ada dibawah ini:

Keren! Kalau ditanya apakah ingin mencoba terbang dengan pesawat ini, tentu saja ingin! Ya, tak ada salahnya sedikit berandai-andai. Siapa tahu satu saat terwujud. Tapi, sepertinya harapan agak mengecil setelah mengetahui bahwa pesawat seri ini di awal hanya akan melayani rute Jakarta-Jeddah. Dan, baru mulai beroperasi pada Juli 2013. Sebagai informasi juga, pesawat seri ini pertama kali dipesan oleh maskapai Air France.

Rute yang lain? Setelah direncanakan pesawat lainnya akan datang di akhir tahun 2013, ternyata rute yang lainnya adalah Sydney-Jakarta-London.

Ke Jeddah? Waduh, mau ngapain kesana. Kedua, Jakarta-London? Hmm… kok kayaknya London itu terlalu jauh ya… Dan, ada perlu apa ya kira-kira ke London? Well, walaupun ada keinginan kecil untuk satu saat ke Eropa, tapi kok kayaknya cukup jauh dari kenyataan ya. Hahaha!

Tambahan 4 Januari 2014: Informasi dari Bapak Wahyu (melalui kolom komentar) menyampaikan kalau untuk fleet ini ada juga yang terbang untuk rute Denpasar-Jakarta (-).

Pengalaman mengurus pemindahan jadwal keberangkatan Citilink

Citilink_Logo

Kadang, ketika membeli tiket , saya berusaha untuk mencari jadwal keberangkatan yang sesuai dengan keperluan kegiatan saya. Ya, sukur-sukur bisa mendapatkan harga yang cocok. Kalau ke (dari ) misalnya, saya memilih untuk mengambil hari akhir pekan (antara Jumat atau Sabtu), karena saat tersebut harga tiket cenderung lebih murah. Dan, sebaliknya ketika dari Jakarta ke , saya menghindari jadwal akhir pekan.

Minggu lalu, perjalanan pulang saya dari Jakarta ke Jogjakarta dengan maskapai Citlink terpaksa harus saya ubah jadwalnya. Awalnya, saya sudah memesan tiket untuk dua orang (dengan satu kode booking) untuk hari Rabu. Namun, karena satu dan lain hal, saya harus menunda kepulangan saya menjadi hari Jumat. Dan, itu kali pertama saya mengurus proses pemindahan jadwal melalui call center .

Pengalaman pertama terbang bersama Citilink (Jakarta-Jogjakarta)

Jumat (19 April 2013) kemarin adalah kali pertama saya mendapatkan pengalaman terbang menggunakan maskapai . Walaupun sebenarnya dari sekian kali penerbangan — total dalam tiga bulan terakhir ini, sudah terbang total sekitar 14 kali — kebanyakan memang hanya (dan beberapa kali Jakarta – Kuala Lumpur), tapi kebetulan mencoba beberapa maskapai penerbangan yang berbeda: Air Asia, Batavia Air, Lion Air, Garuda Indonesia, dan terakhir Citilink.

Citilink di Bandara Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni) Citilink di Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni)

Setelah Batavia Air berhenti beroperasi, alternatif untuk terbang (- dan sebaliknya) berkurang satu. Kabar baiknya, mulai 15 April 2013 yang lalu Citilink sebagai anak perusahaan PT Tbk membuka rute baru Jakarta (CGK) РJogjakarta (JOG) dan sebaliknya, setiap hari dengan jadwal penerbangan 16.10 dari CGK, dan 18.05 dari JOG. Jadwal yang lumayan cocok untuk terbang pulang ke Jogjakarta.

Hampir kehilangan iPad

Karena beberapa situasi, saya memang harus bolak balik dari ke . Dan, ketika di Jakarta, sarana yang paling sering saya gunakan adalah taksi. Untuk alasan kepraktisan, dan tidak ribet saja. Selama saya di Jakarta, dan berdasarkan pengalaman pribadi (termasuk rekomendasi), saya memang hanya memilih untuk naik beberapa taksi dari perusahaan Blue Bird, Express, Gamya, dan Taxiku.

Taksi lain pernah sekali dua kali menggunakan. Dan, selama ini bisa dikatakan tidak ada menemui masalah atau pengalaman yang tidak mengenakkan. Satu atau dua kali pernah, tapi dibandingkan dengan seluruh pengalaman, saya rasa saya beruntung karena bisa dikatakan mendapatkan pelayanan yang baik.

Beberapa hari yang lalu, ketika menggunakan jasa taksi di Jakarta — saat itu saya menumpang Taksi Express, saya hampir kehilngan saya. Untuk sepotong cerita, saya sudah tuliskan di blog lain. Tapi, ini mungkin adalah potongan cerita yang lain tentang apa yang terjadi hari itu.

Screen-Shot-2013-04-08-fmi0

Setelah menyadari kehilangan, saya telepon layanan konsumen dari Taksi Express. Kondisinya adalah bahwa saya tidak ingat nomor lambung taksi yang saya gunakan, dan rentang waktu sudah cukup lama. Sempat panik tentu saja, tapi sepertinya saya setuju bahwa yang paling penting adalah untuk tetap tenang.

Personal Experience: Does Find My iPhone really work? For me, it does.

Having some products, I read lots of news regarding the products or the company like product updates, rumors, etc. One of them is about the story about stolen/missing products. Today, I almost lost my New iPad. I was lucky to have in back within hours. How?
Today, it was just like regular day. I went to the office in the morning. Since I’m now in , I take taxi almost everyday to reach the office. I like spending my time reading using Flipboard, checking Twitter timeline¬†using Tweetbot, or reading emails. After few hours, I just realised that I didn’t have my iPad with me. I was panic. The first thing I did was remembering the taxi number. Usually, I remember the taxi number, or even taking its picture. But, today I completely forgot about it. The only thing I remembered was taxi company. It was Express Group.
There are many opinions regarding Express Group . I also have my experiences with this company. In most cases, I have positive experience with them. For today, I have a good and nice . Thank you, Express Group!
Screen-Shot-2013-04-08-fmi0
The first thing I did was opening Find my app on my iPhone. I tried to locate my iPad. And, I found its location. Nice. But, I was not sure whether it was still with the taxi driver, or someone already had it. I located and activated the “Lost Mode” from iCloud , and created a message asking to contact me. I gave both my cell numbers. I also hit the “Play Sound” button.
Screen-Shot-2013-04-08-ipadmsg

Searching…

I called the customer service number, and explained the situation. I told the operator about the situation. After that, I refreshed on my iPhone. When I was in the taxi, I told the taxi driver — still from the same company — that I left my iPad. When I checked my iPad, it’s not far from my location. I asked the taxi driver to drive me to my iPad location. I was sure that the taxi driver kept it for me. I kept thinking positive. Almost every minute, I always check the latest location. And, it was moving. The “problem” with checking the position from mobile device is that it’s not real-time. So, within 30 seconds, it was moving from one location to another pretty fast. Especially, because the traffic was good.
So, how’s the location history? See the below.
Screen-Shot-2013-04-08-fmi1
When I tried to reach a destination, I realised that the taxi (which brought my iPad) was passing. Taking another turn? Way too late. At least I tried. Again, I only hope that: the taxi drive had my iPad, he kept it with him, and — more importantly — he would bring it back to the station and contacted me. I decided to go back to the office after knowing that the taxi went to Sudirman area.
I checked again from my MacBook Pro. It’s still moving. I had to admit that I was amazed with the location report.
Screenshot iPad Lost
I tried to hit the “Play Sound” again. In the next few seconds, I got a call. I picked it up. And, he asked me whether I was the one who left something in red case in the taxi. Voila! The taxi driver called me telling that he had my iPad with him!
I talked to him, asking about his position — of course I already knew it from my iPad’s location. I quickly asked him about the taxi number. It was: BC 5713. I told him whether he was able to drive to the office, and I also told him to keep my iPad with him. He agreed to bring it after his lunch.
I was happy. I am happy, of course.

Lessons learned

It was the first time I used Find my iPhone feature — and I hope I don’t need to use it again! — in real case scenario. Here are few things I learned:

  • Turning Location Service on the device is useful. Yes, it consumes more battery power.
  • Apple did a great job.
  • Checking the device location from iPhone does not give you the real-time location info. But, from my MacBook, I have almost real-time respond. That’s what I found. Not sure whether it happens this way, or not.
  • Turn Auto-Lock ON.
  • I have to be more careful.

When I was in the meeting, the taxi driver called me. I run from the second floor, and met him. He handed me the iPad. I promised myself that I would give him something for his effort and honesty. He said sorry because it took time for him to arrive because of the bad traffic. I said thank you. I gave him some money. He refused to accept it. But, I insisted.
Few minutes later, I texted him to say thank you for his kindness. Then, I called the taxi operator asking for information about the taxi driver’s name, and his station. I also told the operator about the good experience — especially about the kind and honest taxi driver. Thank you Pak Heru!
Happy ending? Yes. Want to be in the same situation again? Definitely not!