Paypal's Credit Card Verification

When I had my for the first time, the first thing I did was adding it to my Paypal . After having my credit card verified (linked) to , I never touch it again. But, recently I just realised that my credit card was no longer valid. I lost it few months ago, and I got a replacement.
I never had problem with my Paypal account and my credit card. Yes, my Visa card could not be used for transaction few months ago, but that didn’t involve Paypal. So, I decided to add a new credit card. In my previous verification, I waited for the credit card billing statement to get my Paypal verification. If you’re not familiar with Paypal, when you verify your card, Paypal will take $1.95 USD from your credit card. But, it will be returned to your Paypal balance once you have your credit card verified.
Rather than waiting for the credit card billing statement from the — you should see transaction detail there — to see the verification code, you can see the transaction detail directly from your transaction history in your bank account. My card is issued by Bank , anyway. I simply logged in to my banking account, see the credit card transaction history, and found the 4-digit verification code there.
After that, I just need to login to my Paypal account provide the verification code. Easy.

Cerita Perjalanan ke Malaysia (Hari Kedua dan Ketiga)

Tulisan ini adalah lanjutan dari cerita perjalan ke Malaysia sebelumnya.

Karena memang perjalanan ke awal Januari yang lalu memang untuk urusan pekerjaan, praktis saya tidak bisa menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Pertama, karena memang masih cukup buta dengan geografis di Malaysia. Alasan kedua, karena lebih kepada jadwal yang cukup padat.

Kosakata dan Bahasa

Dulu, ketika di , saya mengalami kendala dalam bahasa. Saya kira, menggunakan bahasa Inggris merupakan pilihan yang tepat saat itu. Tapi, alih-alih bisa berkomunikasi dengan lancar, saya (dan yang saya ajak bicara) lebih sering menggunakan bahasa isyarat. Bahkan, ketika di restoran cepat saji-pun sama saja. Ketika ke salah satu gerai Starbucks di Tung Chung (Hong Kong), saya memesan dengan cara langsung menunjuk ke menu yang terpampang di dinding.

Saya tidak dapat menangkap apa yang disampaikan, dan mungkin sebaliknya.

Namun, di Kuala Lumpur memang sedikit berbeda. Bahasa Inggris masih cukup “aman” untuk digunakan. Mungkin ini dibantu juga dengan logat Melayu dan pelafalan yang lebih jelas. Ketika terkait dengan urusan pekerjaan, komunikasi bisa dikatakan lancar tanpa ada masalah.

8436575229_62c406b2db_z

Ketika makan, hal yang kurang lebih sama juga terjadi. Ketika makan di semacam warung pinggir jalan, saya sempat saja nekat menggunakan bahasa — walaupun rada asal juga saya ucapkan dengan sedikit nada Melayu. Hasilnya? Tidak ada masalah. Ya, paling tidak komunikasi lancar.

Beberapa kali ketika misalnya dengan pengemudi taksi, saya berusaha mendengarkan rekan kerja saya yang berbincang dengan bahasa Melayu. Beberapa kosakata yang saya tidak mengerti awalnya. Nah, yang lebih susah adalah ketika saya mencoba memahami informasi yang tertulis di gedung, tempat makan, atau bahkan peta.