Cache is King


In this keynote presentation from HTML5DevConf, Steve Souders, ’s Head Engineer, clarifies the problem of caching, and explores various solutions to make your web app lightning fast.

Cerita Perjalanan ke Malaysia (Hari Pertama)

Kalau mendengar kata , pikiran saya seringkali langsung tertuju kepada hubungan yang terasa kurang manis antara dengan Malaysia. Terutama ketika menyangkut , atau budaya. Kadang merasa kesal, tapi jujur saja lebih sering merasa tidak memedulikan. Tidak akan selesai kalau harus mencari siapa yang salah atau dipersalahkan, atau siapa yang benar.

Jadi, lebih sering isu seputar hubungan yang kurang harmonis tidak terlalu menyita perhatian saya.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mendatangi Malaysia, negeri jiran sahabat Indonesia. Kedatangan saya untuk kali pertama tersebut untuk urusan pekerjaan, jadi praktis jadwal dan agenda lebih banyak terkait pekerjaan, bukan liburan. Saya hanya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Tidak banyak waktu mengeksplorasi negara yang memiliki 13 negara bagian, dan 3 wilayah persekutuan tersebut. Dan, ini beberapa catatan dalam perjanan saya.

Terbang menuju Kuala Lumpur

Bersama dengan 4 orang rekan kerja, saya berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dengan maskapai Air Asia pada pukul 06:25. Saya sendiri sudah tiba di lokasi sekitar pukul 05.30. Proses pemeriksaan dan pembayaran tax juga cukup cepat dan lancar.

Air Asia QZ8190 berangkat tepat waktu, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan. Saya sendiri menghabiskan sebagian waktu dalam penerbangan untuk tidur — karena belum tidur sama sekali malamnya. Sekitar pukul 09:25 waktu Kuala Lumpur, pesawat mendarat di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) (KUL).

Setelah sampai, saya dan rekan-rekan yang lain memutuskan untuk sarapan (atau lebih tepatnya makan siang). Pilihan jatuh ke Old Town White Coffee. Untuk pilihan menu, saya memilih Old Town Nasi Lemak dengan Ayam Goreng. Untuk minum, saya memilih segelas Teh Tarik.

Nasi Lemak with Fried Chicken
Nasi Lemak with Fried Chicken

Setelah selesai makan, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi ke kawasan Damansara Perdana di Petaling Jaya. Saat itu, saya memang tidak terlalu mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasinya. Perkiraan perjalanan sekitar satu jam. Tujuannya sendiri adalah ke kantor rekanan. Biaya taksi sendiri — dengan harga dari counter taksi yang ada adalah RM 84.30.

Penumpang Terakhir di Sebuah Penerbangan

“Yang paling tidak enak menjadi penumpang yang naik terakhir itu adalah pandangan orang-orang yang sudah ada dalam …”

Itulah kurang lebih yang pernah saya dengar dari salah satu rekan pekerjaan saya dulu. Sesuatu yang hanya bisa saya bayangkan. Entah dengan berbagai alasan, tentu saja hal tersebut bisa dialami oleh mereka yang menjadi penumpang penerbangan.

Alasannya mungkin beragam. Menghabiskan banyak waktu di antrian check-in, tidak mengindahkan informasi dari waiting lounge, atau mungkin malah karena datang ke terlalu mepet dengan jadwal. Seingat saya, saya hampir tidak pernah mengalaminya. Mungkin ini sebuah prestasi tersendiri bagi saya :)

Tapi, jika itu prestasi, maka prestasi saya berakhir pada bulan Januari 2013 ini. Ya, saya menjadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat (dalam sebuah penerbangan). Ya, anggap saja ini prestasi yang lain, hehe…

Di awal bulan Januari ini, saya kebetulan ada keperluan pekerjaan ke Kuala Lumpur. Dan, setelah selesai, saya kembali ke (dari ). Tidak ada yang istimewa dalam hal persiapan perjalanan. Yang sedikit berbeda adalah tentang bahwa saya memutuskan untuk berangkat jauh lebih awal ke bandara. Sehari sebelumnya, saya dapat informasi kalau jalan ke arah bandara sempat terhenti karena kemacetan yang disebabkan oleh genangan air.

Expedia: Bad for the Traveler, Bad for the Hotel

Expedia: Bad for the Traveler, Bad for the Hotel — An interesting read about how a hotel owner and Expedia.

Pengalaman Mengganti Micro-SIM dan Nano-SIM XL Axiata

Kemarin (Sabtu, 5 Januari 2012), saya akhirnya datang lagi ke Graha XL di Jl. Mangkubumi, . Kedatangan saya kali ini karena saya ingin mengubah kartu. Kartu utama saya yang terpasang di 4 — baca tulisan terkait: “Pengalaman Mengurus Micro SIM XL Axiata (di Jogjakarta)” — ingin saya pindahkan ke iPhone 5 yang mulai saya miliki bulan lalu, dan sebaliknya.

Masalahnya adalah bahwa ukuran dari kartu tersebut berbeda. Memang penggantian kartu fisik bisa dilakukan sendiri dari micro-SIM ke nano-SIM. Masalahnya adalah bagaimana dengan dari nano-SIM ke micro-SIM. Ditambah lagi saya malah takut salah potong yang mengakibatkan kartu tidak dapat digunakan.

XL

Sebenarnya, rencana saya untuk mengurus penggantian kartu ini sudah minggu lalu. Tapi, karena akhir tahun dan lalu lintas di sangat padat, saya tunda terlebih dahulu.

Sabtu sore sekitar pukul 14:30 saya datang ke Graha XL. Tidak banyak antrian sore itu. Ketika saya datang, saya mendapat nomor antrian 471. Baru saja saya duduk, saya dipanggil ke meja Customer , dan saya dilayani oleh CSO yang bernama Ratih — menurut identitas di meja nomor 2.

Graha XL - Ratih

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, ternyata stok untuk nano-SIM tidak ada. Tapi kalau micro-SIM ada. Karena pada prinsipnya nomor saya yang micro itu tinggal dipotong (walaupun dari sisi tebal memang sedikit berbeda), CSO tersebut menawarkan untuk memotongnya. Saya menyetujuinya. Ternyata berhasil tanpa masalah. Langsung saya pindahkan ke iPhone 5 milik saya, dan semua berfungsi dengan baik.

Nano-SIM yang sudah ada akhirnya diganti dengan kartu lain (micro-SIM) yang baru. Semua proses berjalan dengan cepat, tanpa ada masalah. Saya pasang kartu baru tersebut, dan semuanya berfungsi dengan baik.

Setelah semuanya selesai — saya lupa tepatnya berapa menit, saya sempatkan tanya juga beberapa hal tentang layanan di luar negeri, karena kebetulan saya ada rencana perjalanan ke Kuala Lumpur. Informasi yang saya dapatkan cukup lengkap — yang walaupun pada akhirnya saya coba baca lagi di situs XL. Tentang bagaimana nanti pengalaman menggunakannya di luar negeri, saya akan coba ulas.

Oh ya, untuk penggantian kartu — dan modifikasi kartu — tidak dikenakan biaya alias gratis. Lha terus kok pakai 2 buah iPhone? Justru penggantian kartu ini karena memang mau dibuat untuk keperluan bersama dengan rekan-rekan kerja di kantor :)