Silp

What is Silp?

Silp matches jobs with your skills and your social graph to find the best career opportunities for you. On Silp, you don’t need to search for jobs — your dream job will find you.
Silp also matches jobs with the social graph. It provides employers with the to identify potential candidates in their and their company’s network. When an employer posts a job vacancy, they, their co-workers and friends can see who in their extended network (friends and friends-of-friends) might be a good fit for the position. They can then recommend the job further or seek guidance, thus letting the job travel the social graph until the right candidates are found. Most find jobs through their network of friend — Silp automates and supercharges this process.

According to The Next Web, it gains 700,000 users within 12 days.

Why People Switch to Lumia


Source

Pengalaman Mengurus Micro SIM XL Axiata (di Jogjakarta)

Kalau tidak salah ingat, kali terakhir saya mendatangi Graha XL di adalah sekitar tahun lalu, ketika saya berkeinginan untuk membeli 4. Saat itu, niat saya tidak terwujud karena stok barang yang tidak tersedia. Sebagai pelanggan XL, saya cukup puas sampai dengan saat ini (mungkin sekitar 10 tahun, atau lebih). Walaupun dulu pernah juga mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Mulai dari masalah sinyal/jaringan yang hilangmasalah dengan Ring Back Tone (RBT), dan gangguan yang lain.

Kedatangan saya kali ini adalah terkait masalah micro SIM. Setelah saya menggunakan paket XL selama satu bulan, dan kebetulan paket internet di iPhone saya juga sudah habis, saya memutuskan untuk mencoba melanjutkan paket internet yang saya sedang gunakan, yaitu XL HotRod. Alasannya adalah bahwa layanan ini cukup baik, paling tidak ketika saya menggunakannya sehari-hari di beberapa tempat yang sering saya kunjungi (rumah, kantor, ataupun tempat mobillitas lainnya).

Yang menjadikan masalah kemarin adalah bahwa kartu XL saya berukuran standar. Saya memang punya pemotong kartu, tapi mungkin karena memang sudah terlalu lama, jadi disain chip saya kurang perhatikan. Alhasil, jadilah simcard saya terpotong dengan tidak seharusnya. Karena ini nomor utama saya — dan kejadian sudah malam — saya putuskan untuk segara mengurus secepatnya.

grhxl1

Sekitar pukul 12.00 saya mendatangi Graha XL di Jl. Mangkubumi, Jogjakarta. Ternyata saat itu cukup ramai. Setelah mengambil nomor antrian saya menunggu. Ya, paling tidak jadi ada kesibukan untuk memerhatikan orang-orang yang ada disana. Saya mendapat nomor antrian 737, dan saat itu layanan pelanggan sedang melayani nomor antrian 725. Saya mulai saja menyibukkan diri dengan mencoba koneksi nirkabel yang ada disana. Coba login menggunakan , tidak berhasil. Coba dengan dan iPhone, sama saja. Akhirnya saya hanya melihat-lihat saja.

Ada pelanggan yang terlihat sedang dibantu karena masalah koneksi internet di ponselnya. Dari sedikit mencuri dengar obrolan — lebih karena jarak yang dekat dan suara bisa terdengar — petugas layanan sedang membantu melakukan pengecekan. Ada pula pelanggan yang sepertinya sedang melakukan penggantian (atau pembelian, saya kurang tahu) kartu baru.

Pandangan saya alihkan ke arah pintu masuk, petugas depan pintu sesekali membuka pintu untuk yang akan masuk. Saya amati petugas layanan dibelakang meja masing-masing masih terlihat terus berusaha menjawab pertanyaan, dan memberikan layanan.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit.  Limat belas menit. Akhirnya nomor tunggu sebelum saya sudah dilayani. Berarti tinggal giliran saya. Saya lihat masing-masing meja dan mencoba menebak di meja berapa saya akan dilayani. Akhirnya, nomor urut tunggu saya dipanggil, dan saya dibantu oleh CSO di meja No. 5, dengan Kristi (seperti yang tertulis di papan nama di meja). Tapi, ketika saya lihat di nama pengenal, tertulis Kristie. Oke, yang pasti saya yakin namanya bukan Kristianto, dan jelas bukan Kris Biantoro. Abaikan kalimat terakhir ini :D

grhxl2-640x478

Saya sampaikan maksud kedatangan saya. Dan tanpa banyak bicara CSO yang melayani saya segera memberikan catatan di lembar layanan. Setelah meminjam kartu identitas saya, kemudian dia meninggalkan meja. Tanpa banyak bicara ini maksudnya bukan cuek, tapi karena sudah menanyakan dan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan keperluan saya. Dan, saya pribadi nyaman dengan cara seperti ini.

Dia berjalan menjauh meninggalkan saya sendiri. Saya coba menunggu apakah dia akan menengok ke belakaang. Ternyata tidak. Tiba-tiba terdengar lirih suara hati saya yang hancur berkeping-keping.

Cut! Nulis apa ini?! Kembali ke cerita lagi!

Tidak lama kemudian, kartu SIM saya sudah siap. Saya menyampaikan juga kalau minta sekalian didaftarkan untuk paket internet sesuai dengan pilihan saya, dan sekalian untuk melakukan pengisian pulsa. Setelah pulsa masuk, dia meminta ijin untuk melakukan pengecekan pengaturan internet. Setelah semua siap, saya diminta untuk mengecek kembali. Saya cek, semua sudah berjalan dengan lancar. Oh ya, ada sedikit kesalahpahaman — yang ini sepertinya juga tidak ada yang salah. Saya minta untuk diisi pulsa Rp. 100.000,-. Maksud saya adalah pulsa Rp. 100,000,- ditambah dengan paket internet. Tapi, pulsa tersebut ternyata sebagian digunakan untuk melakukan paket berlangganan internet. Saya ditawari apakah mau melakukan penambahan lagi, saya jawab tidak. Mungkin saya akan melakukannya sendiri nanti. No big deal.

Setelah semua beres, saya ucapkan terima kasih dan, meninggalkan meja layanan konsumen. Secara umum, saya mendapatkan pelayanan yang baik, dan petugas layanan konsumen juga memberikan bantuan dengan baik dan ramah. A nice experience to have everyting solved within minutes. Great! Thank you.

[Ditambahkan 28 Agustus 2012, 22:26 WIB]

Hari ini, sekitar pukul 11:30 saya mendapatkan telepon dari XL (melalui nomor 818) yang menanyakan perihal urusan saya kemarin. Kebetulan memang karena saya berinteraksi juga melalui .

Sempat agak bingung juga, karena pada prinsipnya saya tidak mengalami masalah dengan layanan. Sempat ditanyakan juga tentang bagaimana Twitter — yang saya rasa memang berfungsi sebagai perpanjangan tangan layanan konsumen — membantu menjawab pertanyaan/permasalahan saya. Saya jawab kalau akun Twitter @XLCare membantu dan memberikan informasi yang saya butuhkan (saat itu).

Sepele memang, tapi saya rasa ini hal yang sangat baik sebagai bentuk tindak lanjut dari Twitter sebagai kanal layanan konsumen. Walaupun tidak berharap, semoga ini berlaku sama jika kedepannya ada permasalahan.

Dear Yahoo! Mail, how are you?

There is a fact that Yahoo! Mail is probably one of my first providers. Not sure about the exact date I created my , but I think it was in 2000’s. It was the time when was so popular, had lots of , and interesting products. Probably, it was also because that there were not many alternatives. Yahoo! was a good choise.
But, it has been years. Many services — not only email — come and go. But, when we jump to the world, everybody will get an email. Not only about the very basic (sending and receiving email), but email service should be build better, answering what users need. What internet users really need.
Let’s not forget also about some other services. launched its Gmail in April 2004 (so, it has been 8 years). Recently, Microsoft re-launched its Hotmail as Outlook.com. Every service tries to make improvements for its users to deliver the best product and features for them. This is how Yahoo! Mail inbox looks like.

If you have a Yahoo! Mail account, just try to login and see yourself. What do you think? Well, what do I think? And, why I’m writing this post, anyway? If I don’t like it, why should I write about it? Isn’t it easier to just leave it?

Miko

Akhir tahun 2011 yang lalu, menjadi salah satu topik berita yang menghiasi media. Sayangnya, bukan sebuah topik berita yang menggembirakan, namun  malah sebaliknya. Ini mungkin bukan sebuah isu yang muncul begitu saja. Mungkin, apa yang diberitakan — pembunuhan terhadap orang hutan yang dianggap sebagai hama, maupun bentuk eksploitasi yang lainnya — sudah berlangsung lama.

Ada rasa kasihan, dan ada juga perasaan marah melihat apa yang ditayangkan. “Masa tidak bisa melakukan apa-apa terkait hal ini?”, pikir saya. Tapi, mungkin ini bukan menjadi prioritas dari pemerintah saat ini. Entah, mungkin pemerintah sedang sibuk dengan yang lainnya.

Linimasa juga dihiasi dengan informasi-informasi seputar orangutan. Ingin rasanya saya melakukan sesuatu. Singkatnya, saya memutuskan untuk ikut dalam Shared Adoption dari BOSF (the Borneo Orangutan Survival Foundation). Terus terang, saya baru tahu tentang program ini pertama kali. Setelah mencari tahu informasi melalui membaca dan juga bertanya secara terbuka di linimasa Twitter — dan mendapatkan jawaban yang cukup, saya putuskan untuk ikut program adopsi berbagi ini. Pilihan saya jatuh kepada seorang orangutan. Namanya , yang menurut saya dia itu ganteng :)

Proses administrasi saya rasa tidak sulit. Beberapa kali berikirim dengan perwakilan dari tersebut, dan sekitar satu minggu kemudian saya mendapatkan informasi bahwa bantuan saya — yang saya yakin masih sangat sedikit — sudah diterima.

Kenapa saya melakukan ini? Saya hanya berkeinginan untuk melakukan sebuah langkah nyata yang mungkin kecil. Sangat kecil. Tapi saya yakin, kalau banyak yang ikut berpartisipasi, hasilnya mungkin akan lebih besar lagi.

Tahun ini, masa donasi saya sudah akan habis. Dan, saya tidak ragu untuk melanjutkan ke periode berikutnya jika masih diberi kesempatan.

Sparxup 2012

Sparxup 2012 – , October 3-5.

Official Apple iPhone 5 Promo Video

Amazon Glacier and S3

Amazon Glacier differs from S3 in two crucial ways:

First, S3 is optimized for rapid retrieval (generally tens to hundreds of milliseconds per request). Glacier is not (we didn’t call it Glacier for nothing). With Glacier, your retrieval requests are queued up and honored at a somewhat leisurely pace. Your archive will be available for downloading in 3 to 5 hours. Secondly, S3 allows you to assign the name of your choice to each object. In order to keep costs as low as possible, Glacier will assign a unique id to each of your archives at upload time.

 

Obrolan Wedang Ronde Mas Agus

Sore tadi, pergi ke pasar untuk membeli beberapa sayuran. Rencananya untuk memasak kangkung, dan sekalian beli bahan-bahan buat mbak dirumah yang besok mau masak sop. Tidak ada yang istimewa, seperti biasa karena tempat belanja bisa dikatakan sudah langganan.

Ketika jalan keluar untuk pulang, melihat ada gerobak ronde yang sedang berhenti di pinggir jalan. Ketika belanja, sempat sekilas penjual ronde tersebut sedang mengantarkan dua porsi ronde untuk salah satu penjual di pasar. Ah, mungkin dia sedang menunggu.

Minum ronde di sore hari sepertinya ide yang bagus. Akhirnya, saya datangi penjual wedang ronde tersebut. Sempat ditawarkan apakah mau untuk dibawa pulang atau dimakan ditempat. Saya pilih makan ditempat.

Saya suka dengan wedang ronde. Walaupun memang, sulit untuk menemukan wedang ronde yang memiliki kesamaan rasa. Sebenarnya, hampir tiap malam ada penjual ronde keliling lewat depan rumah. Beberapa kali juga menikmati wedang ronde di tempat yang berlainan. Tapi, sore ini saya rasa saya mendapatkan wedang ronde yang enak.

Snapjoy: Backup and organize your photos


As a person who loves to , I think Snapjoy is an answer to some problems. What is Snapjoy? It’s a service that will help you organize your photos. The word ‘organize’ here is about putting photos you’ve uploaded to multiple in one place, and organize them. Anyway, I like its name: ‘snap’ and ‘joy’.
There are a lot of and services that deals with photos. There are many ways to take photos (digital cameras and devies), and to share photos (you can name services that put photos as their primary contents). But, there are problems:

  • It takes time to have them organised in one place. I like having my photos uploaded to Flickr. I like photos using . Some of you might also live to have your photos stored to Google Picasa. Some photos go to one service, and the others go to another services. They’re all might be distributed.
  • Not all services are integrated one another. If I upload a my to Instagram, I can directly upload it to for example. But, I don’t this for some reasons.
  • Backup, and backup. Photos are memories. I want to keep it safe. Having them stored in a hardrive is great, but if you have lots of photos, it takes more effort to have them organised and backed up. Yes, there is a service like Backupify that will help you backup your photos from Flickr to storage service. It’s an option.

Having valuable contents backed up and distributed in multiple locations is a good scenario. But, having all of them organised is another thing to think about.

Snapjoy answers some of these problems. By having an account at Snapjoy — it’s free –, you will be able to import (well, I think it can be defined as “backup” too) all you photos from multiple services. Currently, you can import  your Instagram, Flickr, and Google Picasa photos. The process is easy. Connect your Snapjoy to those services, and hit the import button.
I tried to import my Instagram photos and it took than 5 minutes to have around 500 Instagram photos transfered to Snapjoy. And, a new “Instagram” album is created automatically. All your photos will be stored by Snapjoy (and it utilises Amazon Simple Storage Service). So, you have the copy of all photos somewhere else.
The good thing is that Snapjoy will also help you organize them. I personally like the way Snapjoy display the photo archive. There are few things that can be done to have it better like keeping the photo information (It seems that photo tags are not imported).
After you have your photos managed by Snapjoy, you can enjoy some other features offered. I like the its “Remember When…”. Basically, it’s just shuffling photos in the collection. It might be easy to recognise photos taken last week, or last month. But, if you want to challenge your memory, try to recognise photo taken three or four years ago.
All imported photos are stored privately by default. You can later share them with friends. Interesting to see its upcoming social features.
It’s a free service now, and I think it will not be free forever. There are some technical costs that have to paid. But, as long as it offers people who love to keep their valuable memories something that they really need, I think people will be. Well, I don’t mind paying for a good service/product. I know that Snapjoy will improve its service. I personally would like to have these features:

  • Options to export all photos to other backup service. If it’s a paid feature, I don’t mind. So, Snapjoy will be the “bridge” between service. It’s already a bridge, but making connection to another service is also cool.
  • Keep the photo information during the import.
  • Keep the original photo size. I’m not sure which photos imported when it has multiple sizes. Having the original photos imported should be great.

Anyway, this service is not only about importing. You can also upload your photos directly there. You can upload from the web, or using and uploader called “Shoebox“. My Flickr photo import is still processing. Let’s see the results later.

Cerita Perjalanan ke Karimunjawa (Bagian 1)

Akhirnya, saya berkesempatan main ke Karimunjawa. Ke sebuah kepulauan yang masuk ke daerah administratif Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Beberapa bulan yang lalu — tepatnya bulan Mei 2012 — saya memutuskan untuk pergi berlibur beberapa hari dari rutinitas pekerjaan. Kebetulan, ada ajakan untuk mengunjungi Karimunjawa bersama dengan beberapa teman. Halo Firman, Robee, Zam, Virtri dan Diah!

Keberangkatan saya dari , bersama dengan Firman. Sedangkan rombongan lainnya langsung dari . Janjian untuk bertemu juga bukan di atau Jepara sebagai tempat keberangkatan ke Karimunjawa. Saya dan Firman berkendara dengan mobil menuju Jepara, dan lainnya dari Jakarta menggunakan Air Asia. Setelah mendapatkan informasi tentang jadwal keberangkatan kapal yang akan membawa penumpang dari Jepara ke Karimunjawa, pagi hari sekitar pukul 04.00, saya bersama Firman memulai perjalanan.

Starbucks and Square

Starbucks chose Square. Square handles payments like Starbucks handles coffee.
“And that’s something we’ve always believed strongly in building our technology, building our product: is that we can fade the technology away, we can fade the mechanics away so that the can focus on a very human, natural, personal interaction and a very simple exchange.” ~ Jack Dorsey (Square founder)

Kue Putu

Saya lupa kapan tepatnya saya pertama kali makan kue putu. Jajanan yang menurut saya sederhana ini menang enak. Sewaktu saya kecil — mungkin saat masih SD — salah satu penjual kue putu yang saya ingat ada di pinggir jalan, sebelah sisi timur Alun-alun Utara .

Penjualnya seorang ibu, dengan penerangan lampu minyak. Bukan gerobak, bukan kios. Seingat saya, hanya sebuah meja kecil dan kursi kecil. Putu disajikan dengan dibungkus daun pisang dan kertas koran. Harganya? Saya lupa.

Penjual Kue Putu

Ah, sepotong ingatan masa kecil yang tiba-tiba muncul ketika tadi sore membeli jajanan yang dijual secara berkeliling lewat rumah. Bukan kali pertama sebenarnya. Hampir setiap hari sekitar pukul empat sampai lima sore, seorang bapak berjualan kue putu berkeliling dengan menggunakan sepeda. Ketika mendekati rumah, suara yang muncul dari uap air untuk memasak kue ini mulai terdengar.

Sepotong kue putu ini dijual dengan harga Rp. 500,-. Murah atau mahal, itu relatif. Tapi, bagi saya yang lebih penting adalah sebuah jajanan yang enak, dan mungkin itu sebuah kemewahan.

Dan, mungkin lebih penting lagi adalah bahwa putu ada yang beli. Karena ada yang beli, berarti menambah alasan lagi bagi penjualnya untuk tetap berjualan.

Setelah menunggu beberapa saat, putu-pun matang. Masih dengan selongsong bambu dan putu didorong keluar dengan potongan kayu. Satu demi satu tersaji diatas piring. Dua belas potong yang saya dapatkan sore itu untuk harga Rp. 5.000,-

Dan, tentu saja dilanjutkan dengan ditaburi dengan parutan kelapa dan gula pasir. Oh ya, dulu taburan gula adalah gula bubuk. Dan, untuk yang saya beli ini, masih gula pasir biasa. Pasti masih ada pula yang memakai gula bubuk. Mungkin.

Langsung dimakan sudah enak. Irisan gula Jawa diantara tepung beras menawarkan rasa  manis dan sedikit asin. Gurih. Disajikan dengan teh hangat tidak terlalu manis, atau dengan kopi di sore hari tentu lebih nikmat.

Hayo, kapan Anda terakhir kali makan putu? :)

Better Google

Giving you a better Google

Technology has the power to change ’s lives. But to make a difference, we need to carefully consider what to focus on, and make hard decisions about what we won’t pursue. This enables us to devote more time and resources giving you products you love, and making them better for you.