Bugar Menggunakan Jembatan Penyeberangan!

Selama tinggal di , salah satu moda yang saya gunakan adalah bis TransJakarta. Memang belum semua koridor pernah saya coba. Yang paling jauh — dari lokasi tempat tinggal — mungkin ketika saya naik dari Sunter, Kelapa Gading untuk menuju Mampang Prapatan. Dan, disanalah seingat saya saya mendapati jembatan penyeberangan untuk berpindah koridor yang cukup panjang. Saya tidak tahu berapa panjangnya secara pasti, tapi saya rasakan ini lebih panjang daripada yang ada di Dukuh Atas.

Ketika membaca tulisan Antyo Rentjoko (halo Mas Paman!), tentang JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) lainnya, terus terang saya cukup takjub. Soal tulisan, tidak perlu diragukan lagi: seru! Tapi, soal jembatan yang katanya memiliki panjang kurang lebih 500 meter ini, sepertinya luar biasa. Saya belum tahu pasti secapek apa jika mencobanya, tapi sepertinya menarik untuk dicoba. :D

Perjalanan Berikutnya

Di bulan Februari ini, satu tahun sudah saya tinggal di . Sebuah periode waktu yang menurut saya lumayan lama juga. Kalau tidak salah ingat, tanggal 2 Februari 2011 2010 saya sampai di Jakarta — setelah di waktu-waktu sebelumnya saya sering bolak-balik Jakarta-. Saya datang ke kota ini, untuk mencoba menjawab tantangan, membulatkan tekat untuk bekerja bersama dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama. Saya menikmatinya dan sebagian mimpi saya yang terwujud, bersama dengan teman-teman saya.

Banyak hal-hal non-materi yang telah saya dapatkan di kota ini. Teman-teman baru, pengalaman baru, ilmu baru dan hal-hal lain yang kadang membuat saya berpikir. Beberapa minggu lalu, saya pulang ke kampung halaman untuk beberapa hari. Saya rasa saya tidak pernah lebih dari 1 minggu berada di Jogja. Hasilnya, saya serudak-seruduk kesana kemari, hanya untuk bertemu dengan teman, dan keluarga. “Lho, sudah balik (ke Jakarta) lagi?” mungkin menjadi pertanyaan yang sering muncul setiap saya pulang. “Bagaimana Jakarta?”, “Kerasan tinggal di Jakarta?”, “Hati-hati di Jakarta…” dan “Kapan pulang ke Jogja lagi?” merupakan pertanyaan lain yang muncul.

U-Turns Are Allowed

Mang Usman

Di , saya lebih sering menggunakan penyebutan “Kang” daripada “Bang” ketika saya memanggil atau terlibat dengan pembicaraan dengan orang yang saya temui. Terutama dalam keseharian, misalnya penjual ayam/pecel lele pinggir jalan, nasi goreng, pemilik warung seberang kontrakan, termasuk juga sang empunya warteg langganan.

Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena “Kang” ini lebih familiar bagi saya — dalam hal penyebutan. Toh, sampai sekarang tidak ada yang keberatan dengan panggilan itu (eh, memang akan ada yang keberatan ya? :D)

Tapi, ada satu orang yang cukup lain dalam saya memanggilnya. Orang itu adalah Usman — seorang yang buka warung rokok di area parkir depan kantor. Entah mulai dari mana, tapi kalau saya coba ingat, panggilan ini muncul karena teman-teman dikantor dulu lebih sering menyebut “Mamang”, atau hanya “Mang” saja. Walaupun pada akhirnya tahu kalau Mang Usman ini bukan nama sebenarnya. Saya pernah diberitahu kalau namanya itu Yusuf. Atau sebenarnya namanya Usman Yusuf? Atau Yusuf Usmanto? Ah, entahlah… Ya sudah, bagi kita namanya Mang Usman saja.

Kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang Mang Usman?

Ketika sedang membuka aplikasi foto di saya, dan ingin melihat beberapa foto yang ingin saya unggah di akun , saya menemukan satu koleksi foto. Foto-foto Mang Usman, bersama istri dan anaknya. Saya masih cukup ingat suasana pagi saat mengambil foto itu. Si Adam yang masih kecil sudah mandi dan menikmati makan paginya sambil berjemur. Mang Usman baru saja membuka warung. Pagi itu saya memang membawa kamera kantor — karena kantor ada kerjaan diluar. Dan lagi-lagi kebiasaan/kesukaan saya adalah memotret, maka saya iseng saja keluarkan kamera. Dari yang awalnya malu-malu membuang muka, si Adam ini jadi mulai senyum-senyum ketika saya panggil namanya. Kadang saya ajak becanda. Serasa menyenangkan sekali pagi itu…

Obrolan dengan Pak Tobari

Salah satu hal yang ternyata menjadi salah satu hal yang sering saya lakukan selama di adalah membeli gorengan. Iya, gorengan yang kadang dijajakan dengan semacam gerobak dorong, atau yang kadang dipikul. Tergantung dimana saya menjumpainya. Di dekat kantor lama, yang sering saya temui adalah pedagang gorengan yang menjual dengan ukuran gerobak lebih kecil.

Kadang, saya lebih sering untuk membeli dan makan ditempat. Datang, ambil gorengan makan ditempat dan kadang mengobrol dengan penjualnya. Ya, ngobrol bertegur sapa saja. Sering malah jadi pembicaraan yang cukup panjang dan menyenangkan. Kalau berangkat ke kantor, kadang ada penjual gorengan yang saya temui. Walaupun sering juga beli untuk dibungkus — dan dibawa ke kantor — ketika beli juga sering saya langsung comot dan makan saja.

Kemarin, saya melakukan hal yang sama sewaktu saya berjalan kaki di seputaran Bulungan, Blok M. Ada bakwan yang baru  diangkat dari wajan, masih panas. Kebetulan tidak terlalu ramai. Jadilah saya berhenti, dan ambil langsung bakwan. Enak! Apalagi ditambah cabai rawit yang menumpuk — walaupun akhirnya cuma ambil dua buah cabai saja. Berawal dari sapaan ringan ke penjualnya, akhirnya malah ngobrol sambil menikmati bakwan dan tahu goreng. Pak Tobari — begitu beliau memperkenalkan nama.

Pak Tobari

Berawal dari obrolan tanya mulai jam berapa mangkal, akhirnya saya terlibat obrolan tentang hal-hal lainnya. Pak Tobari bersal dari Cirebon. Saat ini punya 3 orang anak. Yang paling besar sudah bekerja. Yang kedua, saat ini sedang bersiap untuk melakukan PKL (Praktik Kerja Lapangan), dan yang paling bungsu masih kelas 5 SD.

Beliau bilang kalau hidup memang susah, tapi tetap bersyukur. Paling tidak semua anaknya tetap bisa sekolah dan bisa kerja. “Ya, tidak apa-apa orang tua kerja keras, yang penting anak bisa tetap sekolah. Alhamdulillah yang paling besar sudah kerja…”, begitu kira-kira yang dia sampaikan. Sesaat, saya tiba-tiba teringat orang tua saya di kampung. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, orang tua saya bilang, “Orang tua itu akan mendukung (anaknya), kalau tidak ada ya nanti ‘diadakan’…”. Begitu kurang lebih.

Walaupun saat itu sudah sore, diantara kebisingan lalu lintas dan lalu lalang orang, beliau sepertinya tidak terlalu memedulikan. Wajah ramah, mengobrol dengan tetap tersenyum, membuat saya menikmati momen tersebut. Entahlah, saya merasa senang saja. Tak terasa saya menghabiskan 2 buah tahu goreng dan 2 bakwan. “Berapa, Pak?”, tanya saya. “Dua ribu, Dik…”.

Saya bayar, dan terakhir saya minta ijin untuk mengambil gambar. Beliau mengiyakan. “Mari, Pak! Laris!”, kata saya singkat. “Makasih, Dik! Kapan-kapan jajan lagi ya…”, jawabnya singkat. Saya melanjutkan jalan kaki saya. Iya pak, saya akan datang lagi…

Pencuri yang Mengaku

Bukan, bukan. Ini tidak ada kaitannya dengan salah satu judul sinetron. Dan, ini bukan tentang rencana saya membuat sinetron. Saya gak ngerti tentang seperti itu.

Jadi ceritanya, kemarin saya mau pulang setelah nongkrong sejenak disalah satu tempat di daerah Mampang Prapatan. Sewaktu akan menyeberang jalan, ada dua orang berboncengan mengendarai kuda supaya baik jalannya berhenti didepan saya. Maksud saya, sepeda motor. Ya mereka berhenti karena saya kebetulan juga menyeberang di lampu merah, dan lampu sedang menyala merah.

“Mas, kalau ke arah Depok kemana ya?”, tanya dia. Saya memang bukan orang , dan baru sekitar satu tahun berada di Jakarta. Tapi saya agak tahu arahnya, saya tunjuk arah.
“Kalau ini lurus jalan apa?”
“Ini lurus ke Buncit…”

Orang itu diam sejenak, kemudian mendekatkan kepalanya ke saya, dan dengan suara yang lebih pelan bertanya lagi ke saya, “Kalau disini jual handphone batangan dimana ya?”. Awalnya saya tidak begitu ngeh, tapi saya ingat kalau di dekat perempatan Mampang saya beberapa kali lihat — karena sering iseng jalan ke arah itu — ada beberapa penjual telepon genggam di pinggir jalan. “Disana mas, tidak jauh…”, jawab saya.

“Mau jual handphone nih bang…”, katanya. Sebenarnya saya sedang tidak butuh handphone. Selain karena sudah ada dua, dan juga karena sedang tidak ada budget. Dia mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam. Pertama kali memperlihatkan saya langsung mengenalinya, karena tipe ponsel yang diperlihatkan sama seperti milik saya. ! Wah!

Sebelum saya sempat merespon apa-apa, dia melanjutkan kalau dia mau jual cepat saja karena sedang butuh duit. Dalam hati, saya bilang ya sama kalau butuh duit. Hehehehe… Intinya: dia mau jual itu ponsel DAN dia bilang, kalau kalau dia mengambil ponsel itu dari tangan bos-nya. Nah, “mengambil dari tangan orang lain”. Iya, mencuri. Siyal! Usai sudah harapan untuk memiliki ponsel N8 satu lagi *halah!*

Saya tidak ada keinginan beli sejak awal, apalagi ketika orang itu mengaku kalau memang itu ponsel adalah hasil curian. Lha saya sudah banyak dosa, mosok iya masih ditambah dengan membeli barang hasil curian — apalagi orang itu sudah jelas-jelas mengaku. Tapi, jiwa entrepreneur orang tersebut sepertinya cukup gigih. Terus menawarkan ke saya. Tanpa menyebutkan angka. Selalu yang dia ulang-ulang adalah, “Ini sudah 3G ini…” Itu saja. Saya tolak dan dia semakin semangat untuk membujuk saya.

Akhirnya, saya coba untuk menyudahi saja pembicaraan di pinggir jalan itu, “Mas, saya sedang tidak butuh HP. Maaf mas, saya mau pulang….”, saya ucapkan dengan nada sedikit serius. “Ya sudah, Bang. Makasih….”

Mereka berlalu dari hadapan saya. Saya lanjutkan menyeberang. Untuk pulang.