Wishlist: Twitter released a new feature called 'Mute'

Sound control (by orangescale)I tweeted a Twitter wishlist. I want to see a new feature called “Mute” on Twitter. So, why I want to have this, or how it should be useful for user (at least for me)? Here’s a situation:

I follow some on . I follow them because I know them well — have a personal relationship like friend. They’re actually a nice person. But, sometime they’re annoying. Or for whatever reason they’re just flood my timeline with something I don’t really care about. They might do this in a certain period. I like their updates, but sometime I don’t. I don’t want to block or unfollow them because some people will put it into something personal. It might break something.

So, rather than blocking them, I want to hide their updates from my timeline. It’s like “I want certain people I follow do not appear in my timeline”.

“You’re stupid! There is a feature called ‘Unfollow’. There’s also ‘Block this user’!

I know. But,’Mute’ is a little bit different. It’s simply like ‘filtering timeline’. Not permanently so that I can put some muted users back to my timeline. This feature will not killing the appears when I follow someone — or someone follows me. They’re not blocked. They’re just muted. So, when two Twitter users are following each other, they’re still have all features. They still can send/receive direct messages each other. They don’t have to receive a notification when someone is unfollowing and then following back.

“Unfollow them and put them on a list/group!”

This might work, but again this is more like grouping some Twitter users into a list. It might work when I don’t want to use Twitter as communication tool. When some people on Twitter don’t want to see my updates in their timelines, they can simply mute me.

Berhadapan dengan Kesempatan

Free! (by orangescale)Sepertinya ungkapan bahwa “Kesempatan tidak datang dua kali” cukup tepat bagi saya saat ini. Dulu, saya pernah pula mendapatkan sebuah kesempatan untuk terlibat dalam sebuah pekerjaan. Saya ambil kesempatan tersebut tanpa pikir panjang. Karena saya merasa bahwa itu adalah sebuah peluang yang tepat (bagi saya).

Tapi, kadang saya juga sempat berpikir tentang kesempatan/peluang yang saya ambil saat itu. Saya merasa bahwa saya kurang menyelami banyak hal. Bukan tentang diri saya, tetapi kepada lingkungan, sistem dan pola yang ada. Ada perasaan senang, tapi tak jarang pula muncul perasaan sedikit tidak puas — jika tidak boleh untuk bilang kecewa.

Sekarang, saya sedang dihadapkan dengan sebuah kesempatan yang lain. Dibandingkan dengan sebelumnya, mungkin saya lebih mengerti tentang kesempatan yang datang kepada saya saat ini. Mengambil kesempatan tentu saja bukan tanpa resiko, tapi seandainyapun resiko tersebut harus saya ambil, paling tidak saya sudah siap harus berhadapan/berurusan dengan siapa.

Masalahnya, ketika saya sudah bulat akan mengambil kesempatan tersebut dengan berbagai pertimbangan termasuk menyelesaikan hal-hal lainnya, ada sebuah tawaran lainnya yang pada awalnya saya juga punya ketertarikan disana. Saya tidak ingin serakah. Saya belajar bahwa kita harus fokus. Ayah saya dulu pernah bilang bahwa sinar matahari itu sampai ke bumi panasnya mungkin biasa saja, tapi bagaimana jika difokuskan? Sangat panas!

Untuk saat ini, saya akan mengedepankan kenyataan, pengalamanan, logika, perasaan saya saja untuk berhadapan dengan kesempatan-kesempatan didepan saya. I feel that this is the right one.

Masih tentang Layanan Pro-XL yang Membingungkan

Setelah saya berhasil melakukan proses berhenti berlangganan RBT dari layanan XL kemarin — walaupun saya tidak merasa berlangganan — saya mengira bahwa kejadian berkurangnya pulsa XL saya sudah berhenti. Tetapi, kenyataannya tidak.

Saya jadi berpikir, keanehan ini di pihak mana, atau gara-gara apa? Apakah memang dari Pro XL, rekanan XL, masalah di handphone saya, atau karena pemakaian pulsa oleh saya sendiri? Memang saya kadang pakai layanan XL-GPRS, tapi hanya sesekali saja. Kalaupun agak lama, saya berlangganan yang paket , baik harian atau mingguan. Walaupun memang tidak sering.

Tadi malam (21 Januari), sekitar pukul 20.00 WIB saya beranikan diri untuk mengisi pulsa sebesar Rp. 10.000,– saja. Sekadar untuk mengetes apakah pembelian pulsa saya aman. Setelahnya, saya tidak menggunakan handphone saya sama sekali. Pulsa masuk, saya periksa saldo Rp. 10.xxx,–.

Keesokan harinya (22 Januari), saya cek lagi saldonya. Dan, dengan ajaibnya, pulsa tinggal Rp.2.xxx,–. Saya lupa tepatnya berapa. Dhuar! Berkurang lagi. OK, apakah karena RBT lagi? Saya coba melakukan panggilan ke nomor saya sendiri, ternyata tidak ada nada sambung pribadi yang terdengar dari handphone saya. Saya bingung dan kesal. Kenapa? Mungkin bisa jadi ini bukan karena XL sebagai operator, mungkin sebab lain. Tapi apa?

Sekitar pukul 14.00, saya menelpon ke Customer XL di nomor 817 (sesuai yang tertera di websitenya). Saya tahu kalau untuk melakukan panggilan ke Customer Service di nomor tersebut saya dikenakan biaya Rp. 350,–. Saya gunakan sisa pulsa tersebut untuk menelpon. Telepon saya dijawab oleh operator yang bertugas. Saya sampaikan kejadian dari sudut pandang dan pemahaman saya. Hasil pembicaraan saya dengan customer service tersebut — saya lupa namanya — adalah begini:

  • yang saya terima dari layanan XL dan juga layanan iming-iming tentang menjadi jutawan dari nomor 12300 TIDAK mengurangi pulsa saya.
  • Saya tidak sempat mendapat penjelasan tentang kenapa saya bisa dianggap berlangganan RBT.
  • Catatan aktivitas penggunaan layanan dari nomor saya bisa dilihat, tapi pada saat saya menelpon tersebut belum tersedia. Mungkin sekitar 2-3 jam kemudian bisa tersedia. OK, ini masih masuk akal, siapa tahu memang mereka meng-update log tersebut secara batch terjadwal. Oh ya, menurut customer service tersebut, data terakhir yang tercatat adalah tanggal 20 Januari 2010.
  • Saya diminta menghubungi kembali 2-3 jam kemudian. Saya simpulkan saja sekitar pukul 17.00.

Setelah saya menelpon, saya check kembali saldo pulsa saya. Dan memang benar berkurang sesuai kebijakan tarif, dan sisa saldo pulsa masih sekitar Rp. 1.6xx,–. Sengaja tidak saya isi dulu, karena masih belum jelas masalahnya.

Sekitar pukul 16.40 saya mencoba menelpon kembali customer service XL di nomor yang sama: 817. Asumsi saya, dengan pulsa masih Rp 1.6xx,– masih bisa melakukan panggilan. Ternyata tidak. Wah, pulsa tidak cukup ternyata. Karena penasaran, saya periksa saldo pulsa saya. Tinggal Rp. 151,–. Padahal jelas-jelas saya tidak melakukan aktivitas apapun. Menyebalkan!

Keinginan saya untuk mencari kejelasan tentang masalah ini memaksa saya untuk membeli pulsa kembali. Saya beli pulsa minimal saja di dekat rumah. Cukup isi Rp. 5.000,– saja. Pulsa masuk dan tanpa menunggu lagi — sebelum kepotong lagi dengan ajaib — saya langsung telpon 817. Dijawab oleh seseorang yang namanya juga saya tidak begitu jelas mendengar. Tapi dari suaranya, sepertinya orang yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Saya jelaskan secara singkat dan kejadian yang baru saya alami. Tidak ada jawaban yang benar-benar memberikan solusi. Responnya adalah sama: Bisa dilihat nanti catatan atau log pemakaian telepon. Tapi, saat ini data belum ada. Harus menunggu 1 x 24 jam. Lha, iki piye toh? Kalau memang harus 1 x 24 jam, kenapa yang sebelumnya bilang 2-3 jam? Saya akhiri pembicaraan dengan terima kasih. Saya periksa kembali pulsa saya, dan tetap berkurang sesuai tarif: Rp. 350,–.

Nah, saya akan coba untuk tidak melakukan panggilan/pengiriman SMS atau aktivitas apapun yang melibatkan pemakaian pulsa XL saya. Paling tidak sampai besok menelpon kembali. Apakah pulsa saya akan hilang dengan ajaib lagi? Entahlah… Kalau ini memang faktor dari kesalahan saya, saya akan akui. Kalau memang dari pihak operator, sepertinya solusinya paling bahwa saya tidak ada masalah lagi. Mengembalikan pulsa/kompensasi? Ah… ngimpi!

Kita lihat besok deh… Mungkin sudah saatnya pindah operator. Tapi pilih yang mana ya?

Update: Kalau tidak salah ingat, saya hitung-hitung berarti saya sudah menjadi pelanggan Pro XL selama sekitar 10 tahun lebih dari 5 tahun. Mungkin sudah saatnya berhenti memakai layanan Pro XL.

Ring Back Tone (RBT) XL yang tidak menyenangkan

Saya adalah pengguna jasa komunikasi XL dari PT Excelcomindo Pratama Tbk (sekarang PT Tbk). Menjadi salah satu pelanggannya juga sudah cukup lama. Lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu saya membeli kartu perdana seharga kurang lebih Rp. 75.000,00. Tahun berapa ya itu?

Walaupun tidak bisa dikatakan tanpa masalah, tapi saya lumayan puas deh. Di tahun 2008 lalu, saya pernah menuliskan tentang pengalaman tidak mengenakkan ketika menggunakan Pro XL. Seingat saya, saya belum pernah lagi (dan semoga tidak!) mengalami kejadian serupa.

Di televisi, sering muncul iklan tentang tarif menelpon murah, murah, bahkan sampai harga paket yang murah juga. Tertarik? Kalau saya tidak terlalu tertarik. Walaupun pesan bahwa ada promosi tarif semacam ini mungkin sampai kepada saya.

Beberapa hari lalu, saya diberitahu oleh oleh Lala kalau ada nada sambung lagu ketika dia menelpon saya dan tanya apakah saya memang memasangnya? Heh? Seingat saya, saya tidak pernah berlangganan hal seperti ini. Bagi saya, ini tidak terlalu penting, apalagi juga disusupi oleh iklan. “Pengen lagu ini jadi nada sambung pribadi kamu?”. Kurang lebih begitu. Kadang, kalau saya menelpon orang dan mendengarkan nada tunggu sepertinya ini, dalam hati (kadang saya ucapkan pelan) saya jawab, “Ndakkkk…”. Eeehhh.. lha kok malah sekarang terpasang di tempat saya.

Jakarta ke Jogjakarta dengan Taksaka

Minggu lalu, dalam perjalanan pulang dari ke , saya menggunakan jasa . Rencananya, memang akan menggunakan terbang. Tapi, ketika mencoba mencari tiket di tempat yang sebelumnya saya datangi, kantor ticketing tersebut sudah tidak ada lagi (tutup). Akhirnya, saya putuskan saja untuk menggunakan kereta.

Sebenarnya, saya agak malas kalau mengingat pengalaman keterlambatan. Tapi, saya singkirkan sejenak hal tersebut. Siang hari sebelum berangkat — saya menggunakan kereta Taksaka Malam — saya sama sekali belum memiliki tiket. Asumsinya, kalau hari Minggu dari Jakarta, mungkin tidak banyak penumpang yang berangkat. Sore harinya teman saya menyampaikan bahwa kereta api yang akan saya tumpangi masih memiliki cukup banyak kursi kosong, dan dijadwalkan berangkat pada pukul 20:45.

Tikus: Binatang Pengerat Kabel

Dirumah saya, cukup banyak kabel-kabel yang berseliweran. Mulai dari  kabel telpon, , antena televisi, dan tentu saja kabel yang ada di rumah. Sebenarnya sampai saat ini baik-baik saja, kecuali kabel tertentu yang sering menjadi santapan binatang pengerat yang namanya tikus.

Memang sih, dari sisi umur, kabel-kabel yang ada tidak bisa dikatakan masih cukup muda usianya. Tapi, semuanya masih berfungsi dengan baik. Kabel telepon adalah yang saling menjadi korban keganasan tikus ini. Mungkin ini karena kabel telepon tersebut salah satunya masuk ke dalam rumah melalui lobang angin. Lobang angin ini memang sengaja ditutup untuk mengindari masuknya tikus dari luar rumah. Cukup berhasil memang, tapi mungkin tikus itu sudah kehilangan akal jadilah dia makan itu kabel sebagai bentuk kekecewaan. :D

Dan, ini bukan hanya sekali saja terjadi. Saya coba memperbaiki dengan cara menyambung. Bahkan, sempat dibagian yang kemungkinan akan dimakan lagi saya beri isolasi plastik yang cukup tebal. Tapi, tetap saja tikusnya doyan. Sampai sekarang mungkin sudah  sekitar 3 kali saya perbaiki kabel-kabel itu.

Yang terakhir adalah kabel koneksi internet. Kejadian (alasan?) juga hampir sama. Kabel bagian dalam sudah mulai terkelupas, tapi tikus itu belum sempat menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin tinggal menunggu waktu. Yang paling sebel adalah ketika binatang ini memutuskan kabel mesin cuci. Benar-benar sampai morat-marit. Mesin cuci umurnya baru beberapa bulan saja. Mungkin, bagi tikus ini adalah makanan yang masih hangat dari penggorengan… huh!

Kalau kabel biasa masih bisa deh memperbaiki, tapi untuk mesin cuci saya harus merelakan tukang reparasi untuk memperbaikinya. Waktu itu biayanya sekitar Rp. 200.000,00. Kalau begini terus, bisa-bisa duit melayang untuk kebutuhan para tikus ini.

Automatic WordPress Backup (to Amazon S3)

Today, I tried another plugin called “Automatic WordPress Backup”. This plugin will help blog owners to create backup remotely to Amazon S3 service. Since I’m using it and pretty satisfied with the billing usage, I installed it at some WordPress-powered blogs I maintain.
I use one of the available buckets under my . For this bucket, I set its ACL (Access Control List) to private, of course. After this plugin installed and activated, I only needed to put my Access Key ID and Secret Access Key.
I decided not to include all files for my backup. I only need the and uploaded contents. After the settings were saved, I simply hit the backup button. The process depends on the disk and database usage. I found that it was pretty fast. One of my backup files was around 300 MB, and it only took than 5 minutes to complete the process. Also, the backup was compressed. This should be useful to cut the usage process as you only need to store a single file for each backup.
The backup files will be automatically delivered to my bucket and when the process completed, I can see the backup history. To the backup, I only need to click on the backup links.
The backup links are built using pre-signed URLs so that only the account holder (or someone who knows the URLs) can download them.